4

Kerjakan Yang Lebih Mudah Dulu (+2)

Mister Nuel January 2, 2014

Waktu saya masih kecil, guru saya sering mengatakan, “Kerjakan yang lebih mudah dulu.” Kalimat ini sering saya dengar terutama saat ulangan atau pembagian tugas. Panduan ini sangat efektif saat mengerjakan ulangan yang terbatas waktunya.

Saking seringnya mendengar, kalimat ini pun berubah menjadi semacam cetak biru dalam setiap tugas yang saya temui. Saat membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga mengerjakan tugas kantor saya jadi mendahulukan mengerjakan hal-hal yang mudah, yang menyenangkan. Hasilnya? Tenaga dan konsentrasi saya sudah buyar ketika sampai pada giliran mengerjakan tugas yang berat, yang inti. Hal ini terjadi tanpa saya sadari.

Hingga satu ketika saya menemukan buku pengembangan diri terkait manajemen waktu karya Brian Tracy yang berjudul ‘Eat That Frog’. Memakan katak? Terasa aneh waktu membacanya. Tracy menganalogikan untuk kita memakan katak kita di pagi hari, di awal waktu sehingga setelah kita memakan katak maka tugas selanjutnya akan lebih mudah karena tidak ada yang lebih berat dari memakan katak. Katak disini dijabarkan pak Tracy sebagai tugas kita yang paling berat, yang paling menentukan keberhasilan tujuan kita. Disini pemilahan aktivitas menjadi hal yang penting dalam pengenalan katak kita.

Sangat menyenangkan kalau guru dan murid memiliki pilihan lebih dari satu dalam menghadapi tugas harian. Tidak ada panduan yang paling baik untuk semua kondisi. Masing-masing panduan memiliki konteksnya sendiri-sendiri.

Saat menghadapi ujian dengan waktu yang dibatasi tentu akan kurang efisien jika kita mengerjakan bagian yang paling sulit lebih dulu. Bisa-bisa waktu habis hanya untuk mengerjakan satu soal sementara sisa soal yang lain terlewat karena waktu pengerjaan telah habis. Atau bisa juga dalam tugas membuat portofolio kita malah asyik merekap absensi atau hal lain yang lebih ‘mudah’ terlebih dahulu, hal mana yang menghabiskan fokus dan energi kita. Akibatnya kita sudah merasa capai sementara portofolio belum tersentuh. Bapak Ibu pernah mengalaminya? Saya sering.

Yuk kita kenali konteks tugas, identifikasi katak, dan yang pasti tetap bersenang-senang ya.

Selamat berkarya.

 

Denpasr (27 Januari 2013)

 

Mr Nuel

Guru TK

Edisi bongkar tulisan lama

kesulitan upload tulisan baru.

 

Comments (4)

  1. sepakat, konteks seringkali menjadi bagian yang terlupakan. Banyak motivator yang mengumandangkan kalimat-kalimat seolah hidup begitu mudah tetapi tanpa menyertakan konteks. Sayangnya, banyak pula masyarakat yang menerimanya mentah-mentah tanpa mengolahnya dengan pertimbangan konteks. Banyak pula penulis yang menulis tanpa mengindahkan konteks. Maka, ajakan Anda ini sungguh sesuatu yang mencerahkan. Tks berbaginya!

  2. Dalam mengerjakan sesuatu tiap orang pasti punya skala prioritas. Dah semuanya tergantung pada tiang gantungan. Eh maksud saya dengan pola kerja dan pola pikir masing-masing individu. Karena memang tidak semua orang sama ada yang cekatan , ada yang lemot, atau ada juga yang sangat tergantung dengan orang lain. Anyway ketika naik busway, Thanks Mr, Nuel

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar