5

Kerja Keras GM adalah Pendidikan Berharga (+4)

M. Rasyid Nur October 10, 2013

NONTON laga Garuda Muda (GM) melawan Filipina, Kamis (10/10) malam? Mendebarkan, bukan? Ya, sangat mendebarkan. Sebagai bangsa yang besar dengan penduduk yang juga besar (jumlahnya) laga itu seharusnya tidak perlu mendebarkan. Sudah sepantasnya anak-anak GM menggilas anak-anak Filipina. Negara besar menggilas negara kecil, sudah sepantasnya.

Tapi tunggu. Dalam waktu yang sangat lama, negara dengan penduduk kurang lebih 250 juta jiwa berbanding kurang lebih 90 juta jiwa, Indonesia sebenarnya dalam posisi terpuruk prestasi sepakbolanya. Tidak ada prestasi yang menonjol diciptakan para pesepak bola Tanah Air. Jangan ditanya prestasi berkelas dunia karena di Asia juga belum mampu berkiprah. Bahkan sesama serumpun di negara Asean pun prestasi anak-anak garuda senior sudah lama tenggelam. Melawan Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi yang sudah malang melintang di Piala Dunia, Indonesia belum pernah bisa merasakannya. Di Asia Tenggara juga selalu kalah kalau berhadapan dengan Malaysia atau Thailan. itu di kelas senior.

Kini, sejak anak-anak GM meraih piala sekelas Asia Tenggara beberapa waktu lalu, geliat prestasi sepakbola Indonesia mulai terasa. Meskipun baru di level yunior, itu sudah cukup untuk melepas dahaga prestasi rakyat Indonesia. Dan ketika anak-anak GM berhadapan dengan anak-anak Filipina maka harapan itu kian bertambah besar. Dan alhamdulillah, anak-anak GM benar-benar memberikan harapan itu. Mereka menggilas Filipina 2-0.

Bagi kita, angka dua itu tidaklah terlalu besar berbanding ketika tim yang sama melibas Laos dengan skor telak, 4-0. Tapi yang jauh lebih penting dari angka itu adalah bagaimana anak-anak Indonesia menguasai pertandingan malam Jumat itu. Ilham dan kawan-kawan benar-benar menguasai laga penting itu. Dengan ball position sebesar 70 persen di tangan GM jelas sekali kalau anak-anak merah-putih itu sangat menguasai pertandingan. Lapangan pertandingan seolah-olah hanya setengah lapangan saja yang dipergunakan.

Rendahnya jumlah gol tentu saja karena Filipina tampak sekali tidak ingin kebobolan terlalu banyak. itu dapat dilihat dari hampir semua pemainnya berkumpul di area pertahanan mereka. Dengan sepuluh orang pemain berada di garis pertahanan tentu saja tidak akan mudah buat anak-anak GM menjebol gawan lawan. Tapi, itulah yang harus kita perhatikan. Itulah kerja keras. Ya, kerja keras dari anak-anak garuda dalam laga itu.

Hampir semua pemain Indonesia ikut menggempur pertahanan Filipina. Hanya satu atau dua beck saja tinggal di garis pertahan sendiri. Selebihnya mereka menyerbu lapangan Filipina. Tapi tetap tidak mudah. Abak-anak garuda harus ‘pontang-panting’ berkejar ke sana-kemari untuk mengolah si kulit bundar agar dapat menceploskannya ke gawang Filipina. Tetapi serangan bertubi-tubi itu tetap tidak mudah menjebol gawang lawan. Hanya dua gol itulah yang mampu mereka lesakkan.

Tentu saja itu sudah lumayan untuk meraih nilai sempurna, tiga. Lawan memang tidak juga ringan. Dan hanya kerja keras itulah yang membuat anak-anak muda merah-putih itu meraih kemenangan. Bagi kita guru, dan juga siswa bukti kerja keras yang mereka tunjukkan itu adalah bentuk pendidikan yang sangat penting untuk diteladani. Di sekolah atau di mana saja, kesuksesan memang hanya akan diraih jika diawali dengan kerja keras.***

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar