4

KERIKIL DI LANGKAH TERAKHIR (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto December 25, 2020

“Rafi mana?”

“Pulang ustadzah,” sahut anak-anak serempak.

“Lho, pulang kok tidak pamit ustadzah?”

“Tadi bertengkar sama Iid terus pulang ustadzah,” Hamas, sang ketua kelas menjawab.

“Waah, ya ndak bisa begitu, Nak. Kalau mau keluar sekolah ya harus pamit ustadzah. Kalau ustadzah ditanya orang tua kalian biar bisa jawab.’

“Baik, Ustadzah.”

‘Oke, kita lanjutkan.”

Kukira sesederhana itu. Anak pulang tidak pamit kuanggap melanggar. Besok setelah dia ada di sekolah lagi akan aku tanya kronologis kejadiannya.

Tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Sore itu sepulang sekolah Kepala sekolah menelponku untuk menanyakan kejadian itu. Siang itu ayah Rafi datang ke sekolah. Beliau tidak terima anaknya dihajar oleh temannya di bagian kepala. Beliau akan membawa Rafi untuk visum di Rumah Sakit. Jika Rafi mengalami luka serius, maka beliau akan menuntut pihak sekolah karena dianggap lalai terhadap siswanya.

Aku terkejut sekali, tak menyangka akan begini kelanjutannya. Tak kusangka, kepergianku selama 15 menit untuk menjemput anakku di TK akan menimbulkan masalah sebesar ini. Apalagi ibu Rafi adalah ketua komite sekolah dan cukup akrab denganku.

Malamnya, selepas maghrib aku segera meluncur ke rumah Rafi yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumahku. Kedatnganku disambut dengan baik oleh ayah dan ibu Rafi. Kusampaikan permohonan maaf atas kelalaianku di sekolah siang tadi.

“Maafkan saya, Bu. Tadi saya jemput Azka dari TK. Padahal tidak lebih dari 15 menit.”

“Ya itu, Bu Dyna. Memang awalnya anak saya yang salah.”

“Tadi saya tanya anak-anak memang katanya Rafi dulu yang ngolok-olok Iid, Bu.”

“Benar, Bu. Rafi yang ngolok-olok Iid dulu. Katanya ‘tangannya kurus, keriput’. Iid tak terima, Rafi dipukul kepalanya. “

“Astaghfirullah, maaf Bu, saya tidak ada di tempat saat kejadian berlangsung.”

“Dimaklumi Bu. Anak saya juga memang salah. Tapi saya agak kecewanya karena kepalanya yang diserang. Ini tadi Rafi merasa pusing. Kalau sampai besok dia masih pusing akan saya bawa ke dokter untuk diperiksa.”

“Semoga mas Rafi baik-baik saja, Bu. Tidak ada cedera berat. Sekali lagi say minta maaf nggih Bu Nanik dan Pak Urip.”

“Nggih Bu Dyna,” kali ini Pak Urip yang menjawab

“Maafkan juga, saya tadi nglurug ke sekolah. Saya emosi melihat anak saya diperlakukan begitu oleh temannya. Saya kuatir ada apa-apa dengan anak saya, karena kepala yang dipukul.”

“Oalah Bu, Pak…padahal Senin depan sudah Ujian Sekolah dan besok Kamis ini ada kegiatan Do’a Bersama menjelang ujian.”

“Ya itu, sekalian kami minta ijin untuk Rafi tidak masuk sekolah dulu sampai ujian.”

“Seminggu berarti Bu?”

“Iya. Mohon maaf ya, Bu Dyna. Rafi agak trauma dengan pemukulan ini. Dia butuh mengembalikan moodnya.”

“Tapi besok ada acara Do’a Bersama, Bu. Berarti Mas Rafi tidak ikut dong.”

“Iya, Bu. Maaf ya.”

“Waah, sebenarnya sayang, Bu. Ini kan momen spesial siswa bersama orang tuanya. Akan ada acara sungkeman juga, minta do’a restu untuk keberhasilan dalam ujian.”

“Yaa gimana lagi, Bu. Rafi masih mogok.”

“Ya sudah, Bu. Semoga Mas Rafi segera bisa kembali ke sekolah. Sekali lagi saya mohon maaf atas kelalaian saya.”

“Kalau begitu saya pamit dulu nggih, Bu. Tolong nanti saya dikabari tentang perkembangan Mas Rafi.”

“Nggih, Bu Dyna. Terima kasih atas kehadiran dan perhatiannya.”

Aku pulang dari rumah Rafi dengan perasaan kacau. Istighfar kulafadzkan berkali-kali.

‘Yaa Allah, karena kelalaianku anak-anakku berkelahi sampai ada yang mogok sekolah. Ampuni aku Yaa Allah…’

Biasanya saat anak-anak mengambil wudhu memang kutinggalkan sebentar untuk menjemput anakku yang bersekolah di TK se-yayasan yang tidak jauh dari sekolah. Saat anak-anak bersiap sholat dhuhur biasanya aku sudah berada di sekolah kembali untuk membersamai mereka melakukan sholat dhuhur.

Tetapi hari ini Allah mengujiku dengan kasus ini. Padahal sepekan lagi mereka akan menghadapi ujian akhir, dan dua hari lagi akan ada acara Do’a Bersama untuk mengantarkan mereka menyongsong ujian.

‘Yaa Allah, bimbing hamba untuk meyelesaikan masalah ini dengan baik.’

Hari Kamis sore, saatnya Do’a Bersama. Sejak pagi aku sudah menghubungi Bu Nanik untuk menghadirkan Rafi di sekolah. Beliau kekeuh menyatakan bahwa Rafi tidak mau hadir.

Aku dekati Bu Karlina, ibunda Iid, seteru Rafi.

“Bu, saya minta maaf nggih atas kejadian yang menimpa Mas Iid.”

“Iya, Ustadzah. Saya memaklumi namanya anak-anak kadang emosi berlebihan. Apalagi anak saya itu memang pemarah. Sebenarnya hari ini saya ingin minta maaf pada Bu Nanik atas perbuatan anak saya.”

“Beliau mengatakan Mas Rafi tidak mau datang, Bu.”

“Berarti nanti saya harus kesana sendiri, Ustadzah.”

“Apa saya temani, Bu?”

“Tidak usah, Ustadzah. biar saya sendiri saja.”

“Nggih Bu. Semoga happy ending nggih.”

“Aamiin. Terima kasih, Ustadzah.”

Jum’at pagi Bu Nanik menelponku. Beliau bermaksud mengumpulkan seluruh siswa putra pada sore harinya. Tujuan utamanya agar Rafi dan Iid bisa berdamai. Selain itu juga untuk refreshing, agar tidak stress menjelang ujian.

Acara itu atas kesepakatan Bu Nanik bersama Bu Karlina yang tidak ingin putra-putranya berseteru berkepanjangan. Alhamdulillah…semoga ini menjadi akhir yang baik untuk kasus perkelahian itu.

Sorenya aku meluncur ke pantai dengan hati penuh harap. Sudah tampak beberapa anak di sana. Bu Nanik dan Bu Lina menyambutku sambil tersenyum.

“Terima kasih sudah hadir, Bu.”

“Sama-sama, Bu. Saya ingin masalah ini cepat selesai.”

“Itu, anak-anak sudah bermain bersama.”

“Alhamdulillah.”

Kuamati beberapa anak laki-laki yang sedang bermain di tepi pantai. Awalnya memang Rafi dan Iid agak berjauhan, belum mau berkumpul. Tetapi sudah tidak ada pandangan permusuhan lagi di antara mereka. Alhamdulillah, sebuah awal yang baik.

Satu hal yang sangat kukagumi dari anak-anak. Mereka begitu mudah memaafkan dan melupakan pertengkaran. Setelah beberapa waktu mereka akan mudah berbaur kembali dan bermain bersama lagi.

Saat satu kaki sudah hampir menapak di gerbang ujian, kerikil mengganjalnya. Untungnya banyak pihak telah mengulurkan tangan untuk menolong, sehingga badan ini tidak limbung dan terjatuh. Terima kasih Bu Nanik dan Bu Lina yang telah berlapang dada dan saling memaafkan, sehingga masalah ini tidak menjadi besar.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar