19

Kepala Sekolah Bersih, Mungkinkah? (+4)

Mushlihin September 9, 2013

Kondisi yang saya akan uraikan mungkin beda dengan kondisi di daerah lain. Seperti yang tertera di Judul, sangat sulit menjadi seorang Kepala Sekolah yang bersih, bersih dari permainan anggaran, dan bahkan mungkin bersih dari korupsi. ini bukan pengalaman saya pastinya, karena saya hanya seorang guru dan tak ada yang lain di sekolah. Bagi rekan guraru yang sekaligus menjabat Kepala Sekolah, semoga bisa menambah khazanah pengalamannya nantinya.

Seperti diketahui, secara material tunjangan tambahan seorang Kepala Sekolah adalah Rp. 500.000/ bulan. Sangat berat dibanding perubahan derajat sosial yang disandang. Kepala Sekolah tetangga saya mengeluh, dia dikira pelit lantaran ke pesta, cuma ngasih angpao Rp. 50.000 doang. “Kepala Sekolah kok cuma segitu,” demikian kalimat yang didengarkannya.

Seorang Ustad pernah ditanya ibu Kepala Sekolah da;lam sebuah pengajian, “Kalau mengubah kuitansi belanja, hukumnya bagaimana yah?”. Saya jawab, kalau hukum Islam, pastilah haram. Dia hanya tersenyum kecut. Keluar dari pengajian, saya samperin, “memang susah, karena terlalu banyak anggaran yang “wajib” dikeluarkan padahal tidak ada di pos dan ketentuan anggaran.” Dia berkata, makanya saya tanyakan.

Pengawas bidang study yang datang ke sekolah, wartawan, tamu dinas pendidikan, acara lomba 17-an, tahun baru Islam, Ultah PGRI, adalah rupa-rupa kegiatan yang memancing keluarnya anggaran, padahal anggaran itu tak tahu sumbernya dari mana. Paman saya pernah mencoba merubah kebiasaan tidak mengeluarkan anggaran selain yang tertera dalam aturan, walhasil cuma menjadi Kepala Sekolah selama enam bulan, plus predikat pelit di Dinas Pendidikan tempatnya bernaung.

Upacara bendera oleh Kepala Sekolah

Gejala Kepala Sekolah bukanlah manusia bersih di daerah saya selain bentuk di atas adalah upaya menjadi Kepala Sekolah dengan langkah politis. Di daerah saya, pelatihan calon Kepala Sekolah untuk menjadi Kepala Sekolah nantinya tidak lagi berdasarkan aturan dan juklak yang sudah ditentukan, tapi berdasarkan kedekatan dengan pejabat masanya.

Saya tak habis pikir, kenapa kondisi pendidikan kita seperti ini. Seorang Kepala Sekolah diharapkan bukanlah yang bisa memajukan satuan pendidikannya, tapi yang bisa me-manajemen segala sesuatu dan tak menimbulkan kasak kusuk. Ada sebagian dari mereka awalnya bersih, tapi terjebak dengan sistem. Ada yang awalnya idealis, tapi terpedaya oleh keadaan.

Ya Tuhan, Selamatkanlah mereka dan selamatkan Pendidikan negara kami….

Tagged with:

Comments (19)

  1. Sistem kita tidak mendukung Pak Rasyid. Contoh, banyak bantuan dari pusat yang pajaknya ditanggung penerima bantuan, padahal dalam LPJ, diwajibkan memakai jumlah anggaran sesuai niali tanpa pajak… Jadi??? 🙂

  2. Ya … Insya Allah pendidikan di Indonesia terus meningkat, tak dipengaruhi oleh karakter pendidik yang mungkin tak mendidik. Guraru harus terus berjuang dan berdoa, sharing disini amat penting untuk peningkatan layanan pendidikan bangsa. Salam kenal pak Mushlihin, terima kasih sharingnya. Salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar