6

#KenapaJadiGuru? Begini Kisah Saya (0)

Wahid Priyono, S.Pd. November 29, 2020

Menjadi guru merupakan pekerjaan yang mulia. Karena berkat jasa para gurulah, semua orang bisa baca tulis, bahkan bisa menjadi sosok orang-orang sukses yang ikut berkontribusi untuk bangsa dan negara. Guru di Indonesia sejak dulu telah melahirkan banyak multi profesi seperti dosen, presiden, pejabat pemerintah, konselor, polisi, TNI, pedagang, kuli bangunan, dan multiprofesi lainnya.

Melihat peran guru yang begitu luar biasa, strategis, dan jasanya akan selalu terkenang sepanjang masa, maka menjadi guru telah terpupuk di benak saya sejak Sekolah Dasar (SD) dulu, dan baru saya tentukan untuk mengambil sarjana pendidikan (S.Pd.) ketika saya akan kuliah.

Sebagai guru Biologi saya siap untuk mendampingi siswa/i saya untuk menganalisis hasil kegiatan praktikum materi pertumbuhan dan perkembangan kelas XII IPA.

Keinginan saya untuk menjadi guru karena alasan bahwa saya pernah diperlakukan baik oleh ibu guru saya waktu kelas 1 SD. Saat itu, ketika ibu guru saya, sebut saja Ibu Syam (sudah almarhum) yang sedang membahas materi pelajaran, tiba-tiba di tengah pelajaran perut saya mulas (ada keinginan untuk BAB) dan karena tipe saya orang pemalu dan saat itu takut dengan guru untuk izin ke toilet, maka keinginan buang air besar/berak saya tahan-tahan, namun akhirnya karena sudah tak tertahan lagi, akhirnya saya berak “Buang air besar” di celana. Duh, waktu itu saya kaku banget pas disuruh maju mengerjakan soal latihan latihan di depan kelas, diem ketika disuruh maju di depan kelas karena “feses sudah keluar dan menempel di celana).

Karena curiga ketika disuruh maju di depan kelas saya tidak juga maju, akhirnya ibu guru saya tersebut menghampiri saya, dan menanyakan saya mengapa tidak mau maju. Ketika saya disuruh berdiri akhirnya “feses/tahi” yang ada di dalam celana saya akhirnya jatuh di bangku kelas. Sontak semua siswa menertawakan saya, namun untuk guru saya tidak tertawa, justru beliau malah membantu membersihkan feses yang menempel di celana saya maupun feses yang menempel di bangku kelas. Beliau menuntun saya ke toilet sekolah untuk membersihkan celana saya dengan air yang mengalir, lalu menggantikan saya dengan celana lain yang kebetulan ada di sekolah tersebut.

Saat itu, hingga saat ini saya selalu mengenang sosok guru yang sangat baik. Sehingga sampai saat ini, bahkan sebelum kuliah saya selalu berkeinginan untuk menjadi guru, karena saya di masa lalu saat SD kelas 1 pernah diperlakukan baik oleh ibu guru saya, yakni ibu Syam. Terima kasih ibu Syam, jasamu akan selalu kuingat, dan semoga kebaikan-kebaikanmu akan menjadi amalan di akhiratmu. Dari Wahid, alumni SDN 1 Negararatu, kec.Natar ‘2003, —Love you dan selamat hari guru Nasional 2020, semoga bapak dan ibu guru semuanya, termasuk saya yang sekarang sudah jadi guru selalu berdoa semoga guru-guru se-Tanah air semuanya sehat-sehat selalu dan bisa menjadi pendidikan dan guru pembelajar yang menyayangi siswa-siswinya, baik di kelas maupun di luar kelas.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar