5

Kelasku Mungkin Bukan Untukmu (+3)

Wa Saripah May 18, 2015

08 Mei 2015. Wajah kelas madrasahku yang di tengah sawah tentu saja tidak selevel dari segi kualitas dan fasilitas dengan madrasah/sekolah di kota-kota besar. Pun segala hal yang sederhana sudah “wah” bagi saya sebagai guru. Bukan tidak mungkin, guru-guru di kota memandangnya sebagai hal yang biasa atau bahkan tidak seharusnya.

 

IMG_5197

Bagi saya, senang adalah ketika saya melihat setiap gerakan siswa saya adalah belajar. Prosesnya untuk mencoba lebih, sebuah pencapaian tidak bisa menjadi bisa.

Terkadang, saya mengajar dengan cara yang mungkin silabus tidak akan setuju. Karena menabrak jalurnya kadang harus dan terpaksa saya lakukan demi menyenangkan siswa saya.

Saya mengajar mereka membaca cerita berbahasa Inggris. Saya memilihkan cerita yang kosa katanya beginner. Itupun beberapa harus kewalahan karena bagi mereka kosa kata itu tetaplah symbol yang tidak terbaca.

Hal ini menjadikan saya membangun asisten-asisten kecil yang saya sebar ke seluruh penjuru kelas. Saya tidak membentuk kelompok saat itu. Hari itu,saya ingin mereka terjun ke dunia yang tidak terdapat guru tunggal yang mengelompokkan manusia untuk belajar di alam raya.

Siswa yang bisa, saya beri paraf, dan saya beri A plus. Mereka yang maju dan ternyata belum bisa membaca cerita, saya tidak kasih nilai sampai mereka mencari asisten yang akan mengajari mereka.

Saya melihat mereka menyusuri bangku, menemui seseorang yang menurut mereka lebih bisa dan sudah mendapat tanda tangan saya berisi nilai excellent.

Saya memandang kelas yang ribut. Meski suara mereka tidak seribut kelas sebelah yang tidak cocok dengan metode ini.

Tidak ada satu pun siswa yang tidak bergerak. Tidak ada satupun siswa yang tidak menyebarkan dirinya. Kelompoknya terlihat acak, tidak imbang, namun semuanya berisi keaktifan yang tidak dapat saya ukur dengan nilai.

Semua belajar.

Dan bagi saya, inilah arti belajar. Kemauan yang datang untuk berubah. Dorongan yang entah bagaimana, menggerakkan mereka untuk menjadi lebih bisa. Binar mata yang sangat tampak kalau mereka juga ingin lebih baik.

Tentu saja, pemandangan ini, mungkin bagi guru lain sangat tidak teratur, sangat tidak formal, dan sangat tidak seharusnya.

x 1

Tapi… apalah arti belajar, jika siswa duduk, diam, menerima, dan menjadi pintar?

Saya ingin mereka menyebarkan diri, di seluruh penjuru alam, belajar dari siapa saja yang mereka temui, mengambil yang baik dan mengfilter yang tidak pantas.

Setelah proses itu, seluruhnya saya hargai dengan A plus. Bahkan bagi yang tidak pantas mendapatkannya, A plus akan tetap tertera di bukunya. Tanda ini bukan untuk hasil terjemahannya. Tapi hasil usahanya belajar. Semangatnya yang hadir saat itu. Belajar kepada asisten-asisten kecil.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar