12

Kekhawatiran Menghadapi Ujian Praktik Memuncak. Mengapa? (+6)

Bu Etna @gurutematik February 12, 2014

Selamat Pagi Guraru. Kekhawatiran menghadapi ujian praktik terjadi di mana-mana. Seminggu yang lalu saya memposting artikel tentang ujian praktik dan masih tampak pada bagian Guru Berbagi: Terpopuler. Sebagai guru les (berbayar dan tak berbayar lho, hehehe) saya sangat prihatin pada para anak bangsa yang sedang bersiap diri menghadapi ujian akhir. Dalam minggu-minggu ini saya sibuk dengan mereka, tak hanya melayani pemantapan bahan ajar atau kognitif saja. Secara bertubi-tubi mereka meminta bantuan mengenai masalah praktik atau psikomotor. Mengapa hal ini sampai terjadi? Sebagian sudah terbahas pada artikel yang lalu.

Sekarang kekhawatiran itu makin memuncak. Sebagian siswa sudah mulai stress dini, kasihan. Tegakah saya membiarkan mereka seperti itu? Suara hati mungkin akan menggetarkan tubuh, seandainya dalam sedetik saja terbersit suatu pemikiran untuk tak memprioritaskan layanan siswa. Anak-anakku, Insya Allah ibu tetap melayanimu apapun yang kau perlukan dalam meraih cita-citamu, khususnya kesuksesan menghadapi ujian praktik ini. Guraru, benar kan walau ujian sekolah, kita tak boleh meremehkannya? Aneh bin ajaiblah andaikan ada diantara kita yang merasa ujian sekolah itu tak penting. Kan tinggal nilainya dibaguskan agar lulus semua. Begitukah pandangan kita? Insya Allah tidak. Berikut sepenggal layanan saya pada sekelompok siswa.

“Ibu tolonglah kami. Ini LKS untuk ujian praktik kimia. Sebagian dari soal ujiannya tak pernah dikerjakan, terus bagaimana praktiknya nanti? Takut ibu, belum lagi fisika dll.”

“Tenanglah sayang, ibu akan membantu kalian. Sekarang sudah sore, LKS ini akan ibu baca di rumah. Lusa kita bertemu lagi dan fokus membahas ujian praktik ini. OK? Senyumlah semuanya. Kalian tampak tegang sekali. Khawatir, takut tidak bisa dll. amat berbahaya bagi kesiapanmu. Pikiran kita bisa macet ketika kita merasa khawatir.”

Hik hik hik. Lho kok semua pada berdekapan dan menangis. Apa salah saya? Apakah saya menakut-nakuti mereka? Tidak mungkin, tidak akan. Ya Allah ampuni hamba. Saya jadi turut stress melihat mereka pada menangis.

“Sayang, tenanglah. Yuk kita bicara lagi, maafkan ibu seandainya kata-kata tadi membuat kalian tambah khawatir. Mengapa kalian menangis? Ceritakan, ibu dengan sungguh-sungguh akan menolongmu, sekarangpun ibu kan sedang menolong kalian.”

Mereka mulai tenang. Saya ambil persediaan tissue di tas dan saya berikan kepada mereka. Ternyata mereka sudah memiliki tissue bahkan banyak, hanya tak terpikir untuk menggunakannya.

“OK bicaralah, solusi Insya Allah bisa segera kita temukan.”

“Ujiannya lusa Ibu.”

Ya Allah, sungguh berat beban mereka. Mengapa bisa begini? Beberapa saat saya sampai tak bisa berkata sepatah katapun. Bibir ini rasanya terkunci. Ehmm … saya tak boleh menunjukkan kekhawatiran di depan mereka. Saya harus optimis dan mampu mencari jalan keluarnya. Ya Allah bimbinglah kami. Bismillah.

“OK sayang, kalau begitu LKS ini segera ibu pelajari dan ibu akan memberi panduan rinci. Namun sekarang sudah sore. Kalau kita sekarang pulang, sebelum Magrib sudah bisa sampai rumah masing-masing. Nah nanti malam ibu akan emailkan semuanya. Kalian juga lembur belajar yang lain, dan ibu juga akan fokus LKS ini saja. Bagaimana? Setuju kan? Insya Allah kalian akan lancar dalam menghadapi ujian. Ini satu-satunya solusi yang bisa ibu tawarkan.”

“Bu saya tidak bisa online, di rumah tak ada modem.”

“HP saya jadul bu, hanya bisa terima sms. Tapi pulsa saya terbatas, tidak bisa membalas sms ibu.”

“Oh ya maaf, ibu sampai lupa. Iya sayang, ibu akan smskan panduannya, mungkin bisa lebih dari 10 sms lho, hehehe.”

“Iya Bu tidak apa-apa. Nanti saya membalasnya terakhir saja ya Bu. Terima kasihnya sekarang saja. Maaf.”

“Oh ya tak masalah, sudahlah tak membalas juga tak apa. Namun ya memang harus ada salah satu yang membalas agar ibu lega. Sekarang semua senyum ya. Nah … begitu, cantik, ganteng, keren, hehehe, Sukses deh untuk kalian. Tenang itu amat penting, jauhkan rasa takut dan khawatir itu. Insya Allah kalian bisa. Ingatkah cara menenangkan diri yang telah ibu latihkan?”

“Ingat sekali Ibu, kami melakukannya secara rutin.”

“Iya Bu, the power of water. Kita doa dulu baru minum air. Mengatur nafas dan berdoa.”

“Bu kami berdua mempunyai HP yang bisa online. Seperti biasanya kami diemail saja ya bu, terima kasih banyak. Maaf merepotkan Ibu.”

Guraru, itulah sepenggal kejadian yang nyata. Sungguh memprihatinkan apabila hal seperti ini terjadi terus tahun demi tahun. Ayolah rekan-rekan guru semuanya, di manapun berada, yang sedang bertugas membuat soal ujian tulis maupun praktik, serta mempersiapkan anak bangsa, let’s doing our best for our students. Insya Allah himbauan kedua ini belum terlambat untuk segera meningkatkan layanan pendidikan bangsa. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya rabbal alamin.

 

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (12)

  1. Terima kasih juga pak Nur’alim, atas responnya. Ayolah bapak, kita mulai dari diri kita, kemudian kita tunjukkan ke guru-guru lain, tentang stress siswa ini. Kita tak bisa menyalahkan mereka, sedang stress kok disalahkan. Lucu kan? Apalagi stress mereka ternyata sebagian disebabkan oleh guru. Insya Allah kita tak termasuk membuat siswa stress. Ayo kita dampingi mereka, kita layani semampu kita, yang penting dengan hati ya pak. Kita kan mengidolakan pak Habibie, hati nurani sampai akhir hayat. Insya Allah. Salam perjuangan.

  2. Hehehe Thx juga pak Yusuf. Menulis yang sudah dilakukan, kan enak pak, tinggal ngetik kisah non fiksinya begitu kan? Bapak ngajari saya begitu kan? Wah tapi ini berita penting lho, kasihan anak bangsa tuh banyak yang stress. Untung musim hujan, jadi airmatanya nyampur dengan air hujan (#gak nyambung?). Udara dingin menembus kulit anak-anak, semoga pikiran perasaannya cukup dingin menghadapi ujian yang kadang soalnya agak begitu. OK kita doakan nank bangsa yang sedang berjuang ya. Salam sukses.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar