4

Kehilangan Kapten Marvel (0)

AfanZulkarnain January 14, 2021

Tulisan ke-19 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Banyuwangi, 23 September 2018. Bertepatan dengan Hari Minggu. Saya mengajak dua siswa saya, Bryan dan Marvel untuk mengikuti latihan olimpiade matematika di sebuah sekolah.

Empat hari sebelumnya, saya sudah menawarkan kegiatan tersebut ke Bryan dan Marvel. Saya bertanya kesediaan mereka karena berkaitan dengan jadwal ibadah mereka. Alhamdulillah, keduanya bersedia karena menurut mereka kegiatan tersebut tidak bentrok dengan kegiatan ibadah.

Saya selalu harus memastikan kesediaan siswa apabila ada kegiatan di hari minggu. Kegiatan apapun. Saya tak ingin mereka harus mengorbankan waktu ibadah mereka.

Jam 9 pagi. Saya menjemput Marvel di rumahnya. Waktu itu dia masih kelas 7. Sejak kali pertama bertemu Marvel, saya sudah merasa dia memiliki kemampuan lebih di pelajaran matematika. Dia bisa menghitung secara cepat dan tepat. Dia juga jago menganalisa soal. Selain itu, dia memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. Marvel saya gadang-gadang dapat menjadi penerus seniornya, Bryan.

Saya mengendarai vario putih sementara Marvel membonceng di belakang. Dalam perjalanan, saya mengingatkannya untuk mengikuti kegiatan pelatihan olimpiade tersebut dengan baik. Dia saya minta memahami dan mencatat materi yang diajarkan oleh pembina di lokasi nanti.

Sesampainya di sekolah tersebut, Bryan sudah menanti dengan ayahnya. Setelah beberapa menit menyapa ayahnya, saya mengajak Marvel dan Bryan ke kelas yang disediakan untuk pelatihan. Keduanya mengikuti kegiatan tersebut dengan baik. Mereka membaur dengan siswa dari sekolah lain. Sengaja saya sering mengajak mereka mengikuti kegiatan seperti ini, agar mereka dapat mengukur kemampuan. Saya tak ingin mereka hanya jago kandang. Karena prinsip saya waktu itu, seorang pembalap tidak bisa mengukur kemampuannya apabila dia berada di lintasan seorang diri.

Pelatihan olimpiade matematika ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh MGMP Matematika SMP Banyuwangi Zona 1. Yang menarik, bukan hanya siswa yang belajar, namun gurunya juga ikut berlatih. Para guru berlatih soal olimpiade di ruang terpisah.

Saya dan beberapa rekan guru dari sekolah lain pun larut dalam diskusi. Mengerjakan soal olimpiade matematika memang mengasyikkan. Kami saling bertukar pikiran sampai kegiatan itu selesai.

Begitu kagetnya saya. Saat saya mengunjugi kelas para siswa, Bryan dan Marvel sudah tidak ada. Saya langsung menghubungi Bryan. Hanya dia yang memiliki alat komunikasi. Bryan mengkonfirmasi bahwa ia sudah di mobil dalam perjalanan pulang. Ketika saya tanya mengenai Marvel, Bryan menjawab kurang tahu karena dia langsung dijemput ayahnya.

Saya kebingungan. Saya mencari di setiap sudut sekolah tersebut. Tak ada tanda-tanda keberadaan Marvel. Apakah dia pulang sendiri? Ataukah ia dijemput? Pertanyaan kedua itu sepertinya tidak mungkin, Marvel tidak memiliki alat komunikasi, bagaimana ia mengkonfirmasi orang tuanya? Apakah dia naik angkutan umum? Tidak mungkin karena tak ada angkutan umum yang melewati daerah rumahnya. Atau jangan-jangan dia jalan kaki?

Berbagai pertanyaan tersebut memenuhi isi kepala saya. Akhirnya saya putuskan untuk berpamitan dengan rekan guru lainnya dan mulai mencari Marvel dengan menyusuri jalanan menggunakan motor. Saya pelankan kecepatan sembari melihat trotoar, mungkin saja saya melihat Marvel berjalan kaki. Tapi ternyata sampai hampir mendekati rumahnya, dia tidak saya temukan.

Dimana Kapten Marvel ini?

Saya memang selalu memanggilnya Kapten Marvel. Namanya mirip dengan tokoh super hero pembela kebenaran pemberantas kejahatan.

Kejahatan?

Astagfirullah…jangan-jangan Marvel menjadi korban kejahatan? Apa Marvel diculik? Waduh kalau benar, bagaimana saya harus mempertanggung jawabkan di depan orang tuanya?

Begitulah saya sangat over thinking waktu itu. Maklum saya sangat kebingungan. Juga ketakutan. Takut kalau Marvel ada apa-apa.

Saya putuskan kembali menyusuri jalan. Mungkin dia melewati jalan alternatif. Namun seberapa sering saya mencari, Marvel tak terlacak. Sementara jam tangan sudah hampir menunjukkan waktu dimana saya harus segera bergegas ke studio untuk siaran. Selain menjalani profesi guru, saya juga bekerja sebagai penyiar radio waktu itu.

Akhirnya, saya pun berniat untuk ke rumah Marvel. Apapun yang terjadi saya akan pertanggung jawabkan. Bisa jadi,kan Marvel sudah berada di kediaman?

Jantung saya berdegup kencang saat mengetuk pintu rumahnya. Pintu terbuka, engkongnya muncul. Engkong adalah sebutan untuk kakek bagi masyarakat tiong hoa.

“Maaf, kong. Apa Marvel sudah pulang?” tanya saya terbata-bata.

“Sudah,Pak. Dia sedang istirahat.” Begitu jawab Engkongnya Marvel. Jawaban tersebut seakan mengangkat semua beban di pundak saya.

“Alhamdulillah..”

Saya sangat bersyukur tak terjadi apa-apa dengan Marvel. Tapi saya sedikit merasa bersalah, harusnya saya mengantar Marvel pulang. Saya pun minta maaf kepada Engkongnya dan beliau memaklumi.

Besok paginya, saya melakukan suatu kebiasaan berdiri di gerbang sekolah untuk menyambut siswa. Marvel turun dari becak langganannya dan menyalami saya.

“Marvel kok kemarin pulang duluan?” tanya saya.

Dia meringis, “Hehe..maaf Pak.”

“Kamu naik apa?”

“Jalan kaki, Pak” jawabnya singkat.

Tak lupa saya mengingatkan untuknya apabila berada di suatu kegiatan bersama guru, dia harus pamit terlebih dahulu apabila hendak pulang. Dia mengangguk dan kembali mengucapkan maaf.

“Saya takut kamu diculik lho, Vel,” celetuk saya. Bercanda.

“Hehehe…ndak,lah Pak.” katanya sambil mengembangkan senyuman. Kami pun larut dalam tawa dan canda.

Harapan saya untuk terus melatih Marvel terhenti setelah saya dinyatakan lulus seleksi CPNS. Saya harus meninggalkan sekolah tersebut untuk pindah ke madrasah tempat saya di tempatkan. Di Jombang.

Di akhir perjalanan saya di sekolah tersebut, saya memberi Marvel kenang-kenangan, sebuah buku kumpulan soal matematika. Saya memintanya untuk mempelajari buku itu. Saya berharap kemampuan matematikanya semakin berkembang.

Sehat terus, Kapten Marvel. Semoga cita-citamu tercapai.

Ah…saya selalu membayangkan. Di masa depan, entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saya bertemu siswa-siswa saya di situasi yang tak terduga, dan mereka sudah menjadi pribadi yang luar biasa. Aamiin.

Comments (4)

    • hehehe…jabatan apa ya bu ,,,saya ndak punya jabatan hehehe

      alhamdulillah, sampai sekarang saya dan marvel masih berkomunikasi. kami saling diskusi. biasalah hehehe diskusi matematika

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar