22

Kehati-hatian dalam menulis (+6)

Bu Etna @gurutematik December 27, 2013

Selamat pagi Guraru. Insya Allah kita semua dalam keadaan sehat wal afiat, tak kurang suatu apa. Kita masih berada dalam liburan yang cukup panjang. Insya Allah apapun yang kita lakukan tetap berada di jalan Allah SWT. Beberapa hari bahkan beberapa minggu ini tampak bahwa sebagian rekan Guraru belum dapat meluangkan waktu untuk memposting artikel atau merespon artikel kita. Insya Allah beliau-beliau selalu dalam lindungan-Nya dan segera mempunyai waktu untuk bergabung kembali dengan kita, meramaikan website ini. Walau hanya di dunia maya, namun ikatan bathin rasanya sudah mulai terbentuk. Saya merasa rindu, ingin berdiskusi lagi dengan pak Subhan, pak Taufik, pak Muhammad, dan masih banyak lagi. Setiap hari saya selalu menunggu-nunggu beliau-beliau itu, hehehe rasanya seperti ada yang kurang. Saya tak lupa lho, namun agak kepanjangan kalau ditulis di sini. Maaf beribu maaf seandainya ada kata yang salah atau kurang santun hingga kurang berkenan membacanya. Namun sungguh saya kangen pada tulisan, respon, saran, humor, motivasi, dan doanya.

Pagi ini saya ingin membahas tentang kehati-hatian kita dalam menulis sesuatu, apakah tulisan itu sebagai respon atau artikel yang kita posting di sini, atau di blog pribadi. Lebih jauh lagi mungkin kita sering menulis sesuatu di media sosial yang lain seperti FB, twitter, dan lainnya. Seperti yang kita ketahui, tulisan-tulisan yang terdapat di internet atau media komunikasi lain, amat bervariasi. Sering ketika membaca suatu tulisan, waduh … rasanya menjadi ngeri, kadang ikut merasa kecewa, marah, atau malu, bahkan terbawa emosi ikut menyalahkan orang lain, dan banyak hal yang mungkin dapat terjadi. Oleh sebab itu, kita harus selektif terhadap tulisan yang kita baca. Lebih penting lagi, kehati-hatian kita menulis sesuatu baik dipublish ataupun tidak.

Apa yang kita tulis dapat dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalaman, cara bicara sehari-hari, hasil bacaan kesukaan kita, atau lainnya. Sehingga kehati-hatian ini dapat kita kembangkan lagi. Kita di manapun berada, kapan saja, dengan siapa saja, harus selalu kontrol diri, pikirran dan perasaan, agar ucapan maupun tulisan yang kita sampaikan disukai Allah SWT. Insya Allah kita bisa. Apalagi kita sebagai guru, dalam tugas selalu berkomunikasi melalui lisan dan tulis. Lebih-lebih lagi untuk ibu yang harus mendidik anak sejak janin, bapak yang harus dapat memuliakan istrinya, agar anak-anak dapat terdidik dengan baik, sholeh dan sholeha, amin.

Kehati-hatian dalam mengisi hidup di era cyber yang serba kompleks ini, sangat perlu mendapatkan perhatian. Rekan Guraru, pagi yang indah ini saya membuka FB dan mencari kuliah subuh atau renungan pagi dari para murid jadul (jaman dulu). Alhamdulillah, saya memperoleh suntikan psikologis yang pas dengan maksud hati. Berikut sumbang saran dari beliaunya Prof. Dr. Kudang Seminar. Terima kasih atas ijin sharing ini ustad.

Kehati-hatian dalam berkata dan menulis kalimat yang didengar dan dibaca oleh publik haruslah diperhatikan, dan jangan semata melepas unek-unek isi hati dan sekedar curhat, apalagi menfitnah atau menyinggung orang lain. Teknologi semakin memudahkan kita berinteraksi,  bertukar informasi dan berdiskusi, serta berbagi pengalaman namun pengemasan isi dan metoda penyampaian isi perlu diperhatikan. Dari cara seseorang berbicara dan menulis hakikinya tersirat jiwa dan karakter (jati diri) orang tersebut dan itulah yang menjadi impresi publik terhadap dirinya. Ajaklah manusia kepada jalan Allah SWT dengan penuh hikmah dan cara yang baik dan berfaedah, bukan dengan cara yang gegabah.

Demikianlah sharing saya pagi ini Guraru, Insya Allah bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca, amin. Teriring salam perjuangan untuk selalu berupaya berjalan di jalan Allah SWT. Selamat berlibur, Insya Allah waktu-waktu libur ini bermakna.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (22)

  1. Iya bu Amiroh, sama-sama. Sudah menjadi tugas kita saling mengingatkan, ya untuk refreshing bu, termasuk mengingatkan diri sendiri. Insya Allah Guraru bisa. Iya ibu, ini saya nyantol di Wonosobo, semua keluarga sudah pulang. Saya home schooling di rumah pak Yusuf berlatih membuat cerpen. Hahaha, ibu kan belum membaca cerpenku, ada 2 postingan lho, wkwkwk. Nanti kami bersama-sama naik travel ke TWC 3, hehehe. Terima kasih responnya. Selamat berlibur juga, have a nice holiday.

  2. Tulisan yang menginspiraasi, Bu Etna. Tapi saya jadi sedih, mendadak pagi ini tidak jadi dapat berangkat. Padahal ingin sekali bertemu teman-teman Gurarauer lainnya di TWC3. Untuk pertama kali saya hampir pasti ikut (karena sudah beli tiket PP) tapi Allah berkehendak lain. Saya tidak jadi berangkat. Salam untuk semua rekan-rekan di TWC3.

  3. Amin YRA. Terima kasih responnya pak Rasyid. Waduh mengapa bapak batalkan? Sayang donk ya, berarti memang urgent sekali. Ya apa boleh buat, maksud hati bisa belajar bareng di TWC bersama teman-teman dunia maya, hehehe. OK selamat beraktivitas, salam sukses.

  4. Alhamdulillah pak Okky, saya turut senang kalau upaya menulis dapat bermanfaat. Apapun yang saya tulis juga sebagai peringatan untuk diri sendiri pak, sehingga kalau kita sedang dan dapat berlatih sesuatu yang baik, Insya Allah segera kita sosialisaikan kepada yang lain. Marilah bersama selalu berbuat yang terbaik, selalu berada di jalan Allah SWT. Terima kasih respon dan dukungannya. Salam perjuangan.

  5. Iya betul itu. Kita memang harus berhati-hati dalam menulis. Jangan sampai menulis membabi buta dengan tanpa menghormati, menyinggung atau memfitnah orang lain. Gunakan bahasa yang halus, sesuai dengan fakta dan data-data.

    Terimakasih ibu atas sharingnya dan telah mengingatkan. Saya berikan “VOTE”.

    Salam menulis,

  6. Terima kasih banyak pak Sukani atas dukungan dan votenya. Iya saya sendiri merasa harus instropeksi, selalu self-assessment. Maka dari itu apa yang saya pelajari dan terapkan dalam hidup, ingin saya sharingkan agar kita bisa bersama-sama menulis dan merespon dengan baik dan bermanfaat. Salam sukses dan sampai jumpa di TWC 3.

  7. maturnuwun ibu etna. ya, hati-hati. kita kadang lupa untuk hati-hati. apalagi kalau sudah emosi. Kehatian-hatian dalam menulis, lebih-lebih di media sosial seperti guraru ini menjadi sangat penting. tapi yang tidak kalah penting adalah menjaga hati setiap membaca tulisan yang—mungkin menurut kita—ditulis tidak hati-hati. hehe.. malah jadi mbulet. intinya, hati-hati dalam menulis, hati-hati dalam membaca, hati-hati menjaga hati. wah, senang sekali rumah kami bisa kedatangan tamu agung dari suroboyo… semoga perjalanan nanti lancar ya.
    🙂
    +1

  8. @Pak Yusuf: ternyata HATI dan HATI-HATI amat penting untuk diperHATIkan ya pak. Hehehe kalau respon bapak dibaca cepat sepertinya mbulet, namun kalau membacanya serba HATI-HATI, nah tambah mbulet ya? Tidak ah, asalkan … hahaha … saya malah bingung sendiri. Wao … tamu agung, bapak ada-ada saja, makanya saya dimanjakan, meja makan selalu penuh, masakan baru bermunculan terus, menu sehat bertubi-tubi, hehehe, Thx so much my teacher for your kindness that important for me, hahaha. It’s the time to prepare for going to TWC 3.

  9. Tks,Buperingatannya.Penting banget! Seorang penulis di lapak sebelah disomasi oleh seorang pengacara karena tulisannya itu.Entah,penulisnya yang kurang hati-hati atau si penyewa pengacaranya yang kurang gimana gitu hehehehe

  10. Iya Pak Isna. Peringatan itu tadinya untuk saya sendiri yang diingatkan oleh murid jadul saya. Namun karena berbagi kebaikan itu membuat hidup makin indah, maka saya tulis di sini. Insya Allah kita selalu dapat berhati-hati. Thx so much for your respons.

  11. Hay Bundaaaa… Terima kasih diingatkan untuk lebih berhati-hati menulis. Hmmm, menulis kalo pake perasaan memang jadi lebih punya pesan ya? Tinggal penulis itu sendiri yang lebih bijak memilih perasaan dan kata-kata sehingga pesan yang disampaikannya tepat sasaran. Maaf baru sempat mampir bunda, tadi harus mengerjakan banyak hal… Selamat menulis!!! 🙂

  12. Hehehe terima kasih bu Thya, iya sebenarnya sih saya itu sedang baca-baca, kemudian merasa ngeri melihat postingan di internet. Wah benar-benar banyak juga ya tak mendidik. Oleh sebab itu saya merasa hrs super hati-hati. Kemudian saya ingat Guraru. Nah akhirnya kuposting saja di sini. Alhamdullilah ternyata bermanfaat. Saya akan ke Jkt bu, ikut kegiatan IGI. Salam sukses bu.

  13. Pak Nuel, maaf lho saya tidak tahu kalau bapak respon. Hari ini saya ingin membuka daftar artikel, untuk melihat apakah ide yang akan kutulis pernah kutulis apa belum. Eh ternyata bapak respon artikel ini. Ths so much pak, ya semester depan ikutan ya, bagus lho acaranya. Salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar