5

Keburu Over Thinking (0)

AfanZulkarnain December 24, 2020

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Maret 2016. Tanggalnya aku lupa. Saat itu aku masih aktif mengajar di sebuah smp swasta di kawasan perkebunan kopi di Kabupaten Banyuwangi.

 Akses menuju kesana, subhanallah, menguras  kesabaran jiwa. Sudah berlubang, berbatu pula. Bahkan motor Supraku sempat terpeleset jatuh ke sawah. Jelas, sekujur tubuhku pun penuh dengan lumpur basah. Kalau mengingat hal itu membuat aku jadi tertawa. Sungguh pengalaman luar biasa.

Selain itu, lokasi sekolah tersebut tak tersentuh sinyal. Smartphone menjadi tak jelas fungsinya. Untuk menerima pesan WA tak bisa, menerima telpon pun harus keliling desa sambil teriak-teriak,

 “Halo??? Tidak dengar…Suaramu tidak jelas..Halo….???”  

Dan sambungan terputus.

Yang aku suka dari sekolah ini adalah keceriaan siswa-siswanya. Meski jumlah mereka tak banyak, tapi semangat belajar mereka tak kalah dengan siswa di kota.

Rata-rata murid-murid di sekolah tersebut dari keluarga menengah ke bawah. Bahkan saat sekolah, ada yang tak bersepatu. Satu buku tulis bisa untuk semua mata pelajaran. Siswa putra biasanya menyelipkan buku itu di celana bagian belakang. Ada juga yang memasukkannya ke dalam seragam yang mereka pakai. Sehingga saat diambil, buku tersebut bercampur aroma keringat. Pensil mereka pun sudah pendek sekali. Untuk mengakali, mereka membalutnya dengan kertas koran, sehingga saat menulis pensil mudah dipegang. Kreatif sekali, bukan?

***

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sekolah ini. Biasanya ada Pak Herman. Hari ini beliau tak datang. Ingin aku menelphone-nya, tapi sekali lagi sinyal menjadi kendala.

“Ah…mungkin beliau ada urusan sehingga tidak dapat ke sekolah,” gumamku.

Tapi anak-anak? Mengapa mereka tak kunjung datang? Padahal pertemuan sebelumnya aku sudah mewanti-wanti agar mereka selalu hadir. Setidaknya kalau tidak bisa datang, konfirmasi dengan surat izin.

Berkali-kali aku melongok ke arah gerbang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan anak-anak itu. Aku mulai khawatir. Apakah mereka sakit? Atau terjadi apa-apa dengan mereka saat berangkat ke sekolah? Atau mungkinkah mereka kecelakaan? Atau … ah pikiranku pun mulai disesaki dengan berbagai spekulasi.

Tiba-tiba aku teringat kejadian pada pertemuan sebelumnya. Aku menghukum mereka karena tak ada yang mengerjakan tugas rumah. Aku meminta sebagian dari mereka memotong rumput yang sudah meninggi di halaman sekolah. Sebagian lain merapikan gudang.

Apakah mereka trauma dengan hukuman itu? Apakah mereka membenciku karena hukuman itu sehingga mereka kompak tidak datang hari ini?

Padahal aku hanya ingin mendidik mereka agar disiplin. 

Aku menghela nafas panjang. Apakah mereka tidak suka dengan gayaku mengajar? Aku rasa aku sudah berusaha membuat pelajaran yang aku ampu, matematika menjadi menyenangkan. Terkadang aku menggunakan boneka jari, menggunakan video animasi, atau menggunakan berbagai permainan yang dikaitkan dengan pelajaran. Apakah mereka tidak suka dengan itu semua? Apa mereka bosan?

Aku mulai overthingking.

Kalau saja mereka tahu perjuanganku menuju ke sini. 45 menit dari rumah menempuh jalan berbatu dan berlubang hingga membuat sekujur tubuhku pegal. Kalau saja mereka tahu aku tadi harus menuntun motor karena ban belakang bocor. Kalau saja mereka tahu…ah…ayolah cepat datang, anak-anak. Bapak ingin bertemu kalian. Bapak ingin mengajak kalian menyelami rimba ilmu pengetahuan.

Aku memandangi ruangan kelas. Terbayang wajah-wajah mereka. Feri yang suka membawa botol minuman warna merah, Ayu yang pendiam, Rindu yang suka sholawatan, Angga yang hobinya main bola, Dino yang selalu datang dengan sepeda bmx, Irma yang selalu pakai bandana warna jingga, Lisa yang hobi menggambar, Indah yang selalu ke sekolah membawa jajanan untuk dijual, dan Ahmad yang mengaku penggemar JKT48.

Ingin aku menjemput mereka. Tapi aku tak tahu dimana rumah mereka. Aku juga kurang hafal daerah ini.

Pukul 10 pagi. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk meninggalkan sekolah. Kecewa tentu amat terasa. Dengan langkah gontai aku keluar gerbang sambil menuntun motor yang bocor pada ban belakang. Menyusuri jalan di antara perkebunan kopi yang sepi.

Hingga aku melewati lapangan desa. Aku melihat sosok yang aku kenal. Muridku, Ahmad. Ia asyik mengejar layang-layang yang benangnya putus. Ia melambaikan tangan dan berlari ke arahku.

“Pak Afan… dari mana?” tanyanya sambil mencium tanganku.

“Dari sekolah. Kamu kok tidak ke sekolah? Malah ngejar layangan.” Aku balik tanya dengan nada tinggi.

“Lho? Sekolah, tho pak? Ini kan tanggal merah?” Ahmad menunjukkan ekspresi kebingungan.

Tiba-tiba mukaku merah padam. Cepat-cepat aku mengecek kalender di smartphone. Ternyata benar, ini tanggal merah. Mengapa aku tidak teliti seperti ini. Harusnya sebelum berangkat tadi aku cek kalender dulu. Ah..aku kan jadi malu.

“Hehehe…Pak Afan rajin banget ke sekolah tanggal merah.” Ledek Ahmad dengan logat medhoknya.

“Ah kamu, Mad…” Aku tersipu malu.

Ahmad lalu mengambil alih stang motor. Ia menuntun motorku hingga sampai di tempat tambal ban, sementara aku membuntutinya di belakang. Meski sempat aku tolak bantuannya secara halus, tapi ia tetap bersikukuh. Seketika aku merasa menyesal telah berfikir macam-macam tentang muridku saat di sekolah tadi. Aku terlalu overthingking pada mereka, padahal ini semua gara-gara aku yang tidak teliti kalau ini tanggal merah.

Hahaha…sumpah, aku mengetik cerita ini sambil tertawa lepas. Iya , menertawakan tingkah dan pikiran konyolku saat itu. Sungguh kejadian yang tak akan aku lupakan, bahkan sampai aku menjadi ASN seperti sekarang.

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar