3

Kearifan Lokal Komunitas Unik “Manusia Belang” (0)

Darwis Kadir December 11, 2020

Setiap masyarakat dalam belahan dunia ini mempunyai berbagai system budaya, adat serta kepercayaan. Menjadi landasan dan kekuatan dalam berbuat mengarungi kehidupan. Indonesia adalah salah satu Negara yang majemuk dengan berbagai budaya dan adat istiadat yang sampai sekarang masih terus dipertahankan menjadi sistem nilai.

Kemajemukan itu yang kemudian menjadikan Indonesia  salah negara yang unik. Menjadi sebuah khasanah dan kekayaan negara ini untuk bersanding dengan negara-negara lain di belahan benua di dunia ini. Keunikan ini menjadi daya tarik beberapa warga negara lain untuk melihat Indonesia secara dekat. Bagi masyarakat Indonesia sendiri, ini yang kemudian kita kenal sebagai sebuah kearifan lokal.

Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Di Indonesia yang kita kenal sebagai Nusantara kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional.

Sebagai contoh, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa, folklore), dan manuskrip.

Pujananting adalah salah satu wilayah kecamatan di kabupaten Barru provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan terletak di ujung selatan Kabupaten Barru. Letak geografisnya pada lintang : 4° 32′ 56.454″ – 4° 47′ 59.4384″ LS dan bujur : 119° 37′ 48.4608″ –  119° 49′ 22.3212″ BT.Luas wilayah 314,26 km2. Kecamatan ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang lain di Kabupaten Barru. Selain faktor topologynya yang di dominasi perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian antara 150 sampai 400 mdpl. Mayoritas penduduknya bergelut dalam pertanian, ada berbagai jenis adat kebudayaan yang masih terus dipertahankan sampai kini.

Selain itu di kecamatan ini tepatnya di desa Bulo-Bulo, terdapat komunitas masyakat to Balo ( manusia berkulit belang ) dan komunitas masyarakat berambut Garibo ( keriting ). Dulu mereka dinamai sebagai suku terasing yang ada di pelosok Barru. Dalam perkembangannya penamaan itu kemudian bergeser menjadi sebuah komunitas. Alasannya bahwa jumlah masyarakat terasing ( manusia belang )  dalam jumlah sedikit dan hanya pada komunitas keluarga tertentu.

Dan ciri khas dari to Balo ini hampir pada sekujur tubuh mereka berkulit belang, terutama pada bagian kaki, badan dan tangan penuh dengan bercak putih. Jumlahnya selalu pada angka ganjil. Mereka pun sudah diangap bukan lagi sebagai masyarakat terasing karna akses transportasi pun sudah menjangkau perkampungan ini. Komunitas ini kemudian dianggap unik dan istimewa kemudian sering menjadi bahan penelitian dalam memperkaya khazanah kebudayaan bangsa.

Menarik untuk membahas tentang komunitas ini, selain karena mungkin hanya satu-satunya di nusantara yang terekspos. Bahkan mungkin di dunia. Memunculkan berbagai pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban ilmiah. Bukan mitos-mitos yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan terkini. Menurut Prof.DR.H. Abu Hamid, peneliti dari UNHAS, kelainan kulit ini bukanlah sebuah penyakit melainkan pembawaan gen. Namun berbagai versi berkembang sendiri dalam ranah itu tentang asal usul To Balo ini. Salah satunya berkisah tentang kutukan akibat melanggar petuah yang dipesankan para pendahulunya.

Ketika seseorang to Balo ini menikah dengan manusia normal dalam artian bukan dari komunitas mereka sendiri, anak mereka terlahir ada yang tidak mewarisi kelainan kulit ini. Pada sebuah kunjungan tahun 2013 dan 2017 penulis melihat ada beberapa anak keturunan mereka yang mewarisi kulit belang dan ada beberapa yang lahir normal tanpa kulit belang.

Selain itu masih ada komunitas berambut Garibo/keriting yang mendiami pelosok Pujananting ini. Menimbulkan sebuah pertanyaan yang mesti dijawab pula secara ilmiah. Masyarakat Pujananting adalah masyarakat suku Bugis perpaduan Suku Makassar dalam hal ini adalah ras melayu. Keberadaan komunitas to Garibo ini mirip dengan masyarakat yang terdapat pada belahan Indonesia timur yang ras mereka tergolong negroid. Memiliki rambut keriting khas dan kulit agak hitam. Ini yang menimbulkan tanya. Apakah mereka adalah keturunan ras negroid yang kemudian tinggal menetap bercocok tanam di pelosok Pujananting. Kapan pertama kali mereka datang ?

Terlepas dari ciri-ciri fisik mereka, penulis mencoba fokus pada kehidupan sosial keseharian mereka beserta dengan komunitas masyarakat lainnya yang mendiami wilayah kecamatan Pujananting. Adat dan kepercayaan yang dianut sebelum islam menjangkau daerah ini. Sampai pada sistem nilai yang masih terus dipertahankan dan menjadi sebuah kekayaan budaya Indonesia termasuk salah satunya adalah tarian Sere Api ( tarian di atas api yang sedang menyala-nyala ). Budaya Tabe, Massuro baca / doa keselamatan. Massu galung / waktu memulai menanam padi. Mabbakkang / berpantang sesuatu baik makanan atau tingkah laku.

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar