0

KASIH IBU, MANIS, HARUM, LEMBUT… (0)

Riyo February 21, 2021

 Malam yang kurasakan saat ini telah hampa, jauh dari ibu, dan sungguh rasa ini tidak pernah habis menyapa dalam hari-hariku yang penuh tanya. Aku merindukanmu ibu…

Sempat sekejap aku teringat ucapan dari salah seorang teman yang berkata kepadaku. Begini kata dia:

Jadikanlah tiga hal sebagai sikapmu terhadap orang-orang mukmin;

Jika tidak bisa memberi manfaat, jangan membahayakannya;

Jika tidak bisa membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih;

Jika tidak bisa memuji, maka jangan mencacinya;

Keesokkan harinya aku bertekad pulang ke Singapura hanya untuk meluapkan rasa rinduku kepada ibu. Mulanya ketika aku berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta,aku menjumpai seorang ibu yang satu pesawat dengan aku.

Tak lama ketika melihat ibu tadi, rupanya dia sudah menghilang memasuki ruangan pesawat. Kupercepat langkahku untuk berada di dalam ruang pesawat dan mencari tempat duduk sesuai dengan nomor tiket pemesanan yang aku peroleh. Diperjalanan seperti biasanya aku menyapa dan mengajak bicara dengan siapa saja yang berdiri didekatku ataupun ketika orang lain duduk di sampingku; dan tergantung dengan lawan bicara; jika itu semuanya membuat aku nyaman mengapa tidak hal ini aku lakukan demi terjalin silahturahim.

Biasanya aku akan terhanyut dalam perbincangan mengasyikkan, akan tetapi apabila yang aku sapa terlihat merasa terganggu aku akan mengalihkan semua perbincanganku untuk kembali memangku buku bacaan yang sudah aku siapkan sebelum aku letakkan ke bagasi di ruang penyimpanan atas. Aku juga tak pernah lupa membuka apa saja isi yang ada pada tas ransel kecilku, mengeluarkan sebuah buku bacaan dan melemparkan ke sisi tengah kursi itu, setelah itu aku duduk.

Hari itu yang duduk disampingku dalam penerbangan jakarta-singapura tampak tak biasa seorang ibu seseorang ibu. Sudah cukup sepuh dengan wajah keriput mulai menggayut, memakai kerudung kusut, sandalnya jepit sederhana, dan bagi pandangan saya beliau agak udik. Pikirku setua ini apakah dia seorang tenaga kerjakah?

Tetapi saya menyapa, si ibu itu tersenyum padaku dengan memunculkan raut muka yang semringah dan merdeka. Seketika aku melihat garis-garis ketuaan diwajahnya menjelma menjadi semburat cahaya kebijaksanaan. Saya takjub dengan sikap beliau kemudian tak tau mengapa bibir inipun ingin menegurnya.

” Ibu, hendak kemana?” Tanyaku sambil tersenyum penuh.

” Mau ke singapura Nak,” Senyum sang ibu bersahaja.

” Akan bekerja atau…?”

” Bukan Nak, anak ibu yang nomor dua bekerja disana, ini saya mau menengok cucu. Kebetulan menantu ibu baru saja melahirkan putra kedua mereka.”

Akupun dengan sadar sudah merasa tidak enak atas pertanyaan tadi, kini aku mencoba lebih berhati-hati.

”Ohya putra Ibu ada berapa?”

”Alhamdulillah Nak, ada empat. Yang di singapura ini adalah anak nomor dua, dan anak yang nomor tiga sudah tugas jadi dokter bedah di jakarta. Dan yang nomor empat sedang mengambil S2 di Jerman. Dia mendapat beasiswa.” Terangnya lagi.

”Masya Allah, Luar biasa sekali anak-anak ibu. Alangkah bahagianya jika seandainya aku menjadi seorang ibu yang memiliki anak-anak yang sukses. Akupun sungguh kagum sekali dengan ibu yang telah mendidik mereka hingga pada akhirnya mereka sukses.” akupun mengerjap mata dan mendecakkan lidah.

Kemudian si Ibu mengangguk-angguk dan berulangkali berucap ”alhamdulillah” imbuhnya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Lalu saya berkata lagi:” Oya ibu bagaimana dengan anak ibu yang pertama?’’

Si Ibu menundukkan kepala, sejenak tangannya memain-mainkan sabuk keselamatan yang terpasang dipinggangnya. Lalu dia menatap lekat-lekat wajahku. ” Dia putra pertama ibu yang telah tinggal di kampung bersama Ibu Nak. Dia bertani, meneruskan menggarap secuil sawah peninggalan bapaknya.” Lalu si Ibu terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang, menegakkan kepala, tapi kemudian menggeleng menerawang ke arah jendela pesawat sambil menyembunyikan senyum yang entah apa artinya. Akupun menyesal harus berkata seperti tadi. Betul-betul menyesal. Dan aku juga prihatin akan hal itu.

Aku mencoba mengalihkan suasana dengan meluapkan penyesalanku untuk aku bersikeras meminta maaf kepadanya atas ucapan-ucapanku yang tadi keluar dari kerongkongan.

” Maaf `Bu, kalau pertanyaan aku yang tadi menyinggung Ibu, ibu mungkin menjadi sedih karena tidak bisa membahanggakan putra pertama ibu sebagaimana putra-putra ibu yang lainnya.”

” Oh tidak Nak, bukan begitu !” Si ibu cepat-cepat menatap tajam mataku, lalu…

” Ibu justru bangga pada putra pertama ibu itu, sangat bangga, sangat-sangat bangga !” Pungkasnya.

Lalu si ibu menepuk-nepuk pundakku dengan mata berbinar seolah akulah sang putra pertamanya.

” Ibu juga bangga sekali padanya, karena dialah yang rela membanting tulang dan menguras tenaga untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Bahkan dialah yang senantiasa mendorong, menasihati, dan mengirimi surat penyemangat saat mereka di rantauan. Mungkin tanpa jasa dia, tidaklah mungkin adik-adiknya menjadi seperti sekarang ini !”

Lalu sang ibu menangis, polos sekali isak tangisnya. Lalu akupun mengambilkan sapu tangan di tas ransel kecilku, kemudian kuberikan sapu tangan itu kepadanya.

Suasana menjadi sepi, genangan air matanya tampak…

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar