2

Kamu. Iya Kamu, Inspirasiku (“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”) (+3)

Andi Ardianto May 7, 2015

Kamu. Iya Kamu, Inspirasiku

Namanya Wawan Nugroho, salah satu murid asal Magelang. Dia adalah murid pindahan kelas empat yang masuk di pertengahan tahun ajaran sehingga ada beberapa materi yang tertinggal. Tidak hanya itu, perilakunya pun sering membuat para guru deg-degan dan mengelus dada. Bagaimana tidak, sering kami mendapati dia buang air kecil tidak di kamar mandi. Lalu dimana? Depan kelas di lantai dua. Dada kami lebih miris ketika tidak jarang mendapatinya memasukkan air kencingnya ke dalam plastik dan melempar dari lantai dua. Beruntung setiap dia membuang tidak ada temannya yang jadi sasaran. Entahlah, dia mungkin melakukannya karena iseng, merasa kurang diperhatikan guru atau ada tekanan dari teman-temannya karena statusnya sebagai murid pindahan.

Perilakunya ini menjadi perbincangan hangat di kalangan guru. Sebagai guru mengusulkan adanya hukuman yang tegas agar Wawan tidak mengulangi lagi. Sebagaian yang lain menginginkan pendekatan personal agar ada kedekatan dan bisa menggali lebih dalam apa permasalahannya. Bahkan yang lebih ekstrim membawa raport dari sekolah sebelumnya dan menunjukkan nilai-nilainya yang hampir semua merah. Sang guru ingin guru yang lain realistis bahwa Wawan memang sudah diatur dan tidak akan bisa berprestasi. Sulit baginya untuk berubah, demikian kata sang guru dengan nada geram.

Ya, diakui atau tidak perilaku Wawan memang sudah melewati batas. Ada-ada saja yang membuat kami geleng-geleng kepala. Saya yang saat itu berstatus wali kelasnya terus mencari cara agar bisa mendalami kepribadian Wawan. Bekal pengalaman dari kasus murid-murid sebelumnya dan bacaan buku-buku pendidikan dan parenting menjadi bekal saya menghadapinya. Terutama untuk buku-buku parenting, saya kemudian banyak membeli dan melahapnya. Saya perlu banyak belajar hubungan antara anak dan orantua. Ya, Saya beranggapan pendekatan dengan Wawan tak ubahnya pendekatan anak dan orangtua. Hingga akhirnya tibalah kejadian itu, Wawan sakit.

Sudah hampir tiga hari ini dia izin. Tipes yang sudah dialami beberapa tahun terakhir ini kambuh lagi. Sebagai gurunya, saya pun menyempatkan diri ke asramanya yang tidak jauh dari sekolah. Sebagai catatan, Wawan adalah salah satu murid yang ikut program boarding school. Kamar yang cukup luas, ada enam buah ranjang di dalamnya. Ranjang-ranjang yang lain adalah punya teman sekamarnya. Aroma bunga mawar yang berasal dari lantai kamar tercium menusuk hidung menandakan belum lama di pel petugas asrama. Di atas kasur bersprei coklat dia merebahkan diri. Di sampingnya ada beberapa makanan khas orang sakit; bubur yang baru berkurang beberapa sendok, teh hangat, air putih, dan beberapa obat. Wajahnya pucat dan sesekali mulutnya terlihat sedikit mengaduh menahan nyeri.

Saya mendekat. Ada senyum tersimpul dari bibirnya. Tidak lupa dia mencium tangan saya. Ya, meski perilakunya sering dikeluhkan tapi sejatinya dalam beberapa hal Wawan bisa menjaga adab. Ada kesan kaku saat saya mengelus rambutnya, mungkin karena sudah beberapa hari ini tidak mandi dan pakai shampo. Sambutannya yang hangat membuatku lebih percaya diri mengajak berbincang-bincang. Topiknya memang kemana-mana tapi bagiku yang penting ada kedekatan lebih dahulu. Hingga akhirnya saya mulai menggali tentang keluarganya. Cukup panjang dia bercerita seolah tidak ada ruang untuk menyela.

Kata Wawan, alasan dia dipindahkan dari Magelang ke Solo adalah masalah biaya. Kedua orangtuanya telah meninggal dua tahun yang lalu. Lebih membuat mulut ini bisu adalah ceritanya tentang jarak kematian ibu dan bapaknya yang hanya seminggu. Ayahnya meninggal karena sakit berlanjut. Ketiadaan biaya membuat ayahnya tidak mendapat perawatan maksimal dari dokter dan memilih pada pengobatan tradisiolal. Namun apa boleh buat, ayahnya tidak bertahan lama dengan penyakit menahunnya itu. Ada air mata yang berusaha saya tahan agar tidak membasahi lantai.

Belum hilang kesedihan ditinggal ayah tercintanya, seminggu kemudian ibunya menyusul sang ayah. Dengan penyebab yang sama, sakit berkelanjutan. Lengkap sudah kesedihannya. Di usianya yang baru delapan tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Selanjutnya dia hidup dengan kakaknya yang belum punya perkerjaan mapan. Karena desakan ekonomi dan tidak ingin membebani kakaknya, akhirnya dia memutuskan berhenti sekolah. Menjaga adik keponakan menjadi rutinitas menggantikan aktivitas membalik buku pelajaran. Hampir satu tahun dia menjalani rutinitas itu.

Merasa rindu dengan suasana sekolah, tahun ajaran baru dia kembali merasakan bangku sekolah. Alhamdulillah, ada beberapa tetangga yang membantu biaya sekolah meski tidak seberapa. Hari-harinya kembali berwarna. Harapan merajut asa telah terpenuhi lagi. Namun perputaran nasib memang tidak ada yang tahu. Dua tahun setelah kembali bersekolah, permasalahan klise kembali melanda. Kondisi keuangan kakaknya yang memang bekerja serabutan bergejolak. Untuk memenuhi kebutuhan harian dia dan keluarganya saja agak kerepotan, apalagi memberi uang saku Wawan. Tidak ada pilihan lagi bagi Wawan kecuali berhenti sekolah untuk kali kedua. Ini semacam ironi di tengah gencarnya program pemerintah mensukseskan wajib belajar sembilan tahun, bahkan untuk tahun-tahun belakangan ini menjadi dua belas tahun.

Suara Wawan semakin kecil. Ada riak-riak di tengah ceritanya. Sesekali dia mengusap pipinya yang basah air mata. Bantal coklat yang senada warna kasur pun terlihat basah. Dia menghela nafas dan diam beberapa saat. Saya menyodorkan air teh yang segera disambutnya. Suasana hening. Saya semakin tidak kuat menahan tangisnya. Kelas empat, dengan usia sepuluh tahun saat itu dia sudah mengalami berbagai liku kehidupan. Selang beberapa saat dia kembali membuka mulutnya. “Setelah itu, saya ikut orang bekerja sebagai tukang pembuat batu bata” Deg, seolah ada yang memukul jantung ini begitu mendengar penjelasan Wawan mengenai aktivitas selepas keluar sekolah. Dari hasil kerjanya, dia gunakan untuk jajan dan membelikan susu untuk adik keponakannya.

Air mata semakin banyak yang tidak bisa ditahan. Saya memeluknya untuk menghindari dia melihat saya menangis. Perlahan saya hapus air mata dengan lengan baju. “Dari ikut orang itu saya bisa menabung dan melanjutkan sekolah lagi sebelum pindah ke sini” Kata Wawan melanjutkan. Penjelasan panjang Wawan seketika mengubah persepsiku tentang dia. Dia tidak sebandel yang ada dalam bayangan dan saya yakin bisa berubah. Saya pegang tangannya yang berkeringat dingin.

“Wan, mau tidak bapak dan ibumu bangga punya anak seperti kamu? Mau tidak kamu menghadiahkan pahala kepada mereka?” Tanyaku. Wawan hanya diam. “Kamu harus pintar Wan. Kamu harus belajar dan banyak beribadah agar orangtuamu juga mendapat kebaikan karena kebaikanmu. Kalau dulu kamu jarang shalat dan suka buang air kencing sembarangan, kamu harus merubahnya. Kamu bisa menjadi anak yang pintar dan shaleh. Orangtuamu pasti bangga punya anak seperti kamu” Kata saya selanjutnya. “Ya pak. Maafkan Wawan kalau selama ini banyak salah dan suka membuat guru marah” Tiba-tiba Wawan menjawab. “Bapak dan ibu guru tidak marah dengan kamu. Kami hanya ingin tahu mengapa dulu kamu sering seperti itu. Mungkin Wawan belum paham kalau itu salah. Nah, sekarang Wawan sudah tahu, saatnya Wawan berubah. Bisa?” Sambungku sambil mengusap rambutnya.

Setelah percakapan itu saya pergi meninggalkan Wawan sendirian di kamar. Saya tahu, dia sebenarnya anak baik dan yakin bisa berubah. Sekarang saya pun baru menyadari mengapa Wawan begitu terampil kalau disuruh melakukan pekerjaan. Seperti saat hari raya idul adha kemarin, dia begitu cekatan mengiris daging kambing dan sangat cepat memasang spanduk ucapan selamat idul adha kepada kaum muslim. Harus diakui saya kalah dalam hal ini.

Seminggu kemudian Wawan sudah sembuh. Selama sakit, saya memang sering menjenguk dan memberi banyak nasihat padanya. Kali ini dengan dandanan rapi; bersarung, baju koko dan berpeci hitam dia melangkahkan diri ke masjid. Segera saya melihat jam. Jarum pendek masih di angka dua dan jarum panjang ada diangka sebelas. Menunjukkan wakti shalat masih lima menit lagi. Saya yang saat itu masih di sekolah merasa takjub dengan penampilan Wawan. Saya dekati dia. “Wan, rapi banget” Sapaku. “Iya pak, saya ingin jadi anak shelah biar orang tua senang” Jawabnya. Guru mana yang tidak bangga mendengar dan menyaksikan sendiri perubahan pada muridnya. Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah atas hidayah yang ditujukanNya pada Wawan. Belakangan tidak hanya rajin ke masjid sebelum adzan, dia juga sudah mulai rajin belajar dan mengaji. Bahkan untuk memperlancar bacaan Al Qur’annya dia sering menarget sendiri jumlah halaman yang akan dibaca, di luar pembelajaran dengan guru. Tidak ketinggalan, shalat malam juga jarang ditinggalkan. Sejak sakit itu Wawan benar-benar berubah. Bahkan kalau dipilih siapa murid di asrama yang paling rajin, dialah pemenangnya. Nilai di sekolah juga mulai ada perbaikan.

Bukti keterampilannya dia tunjukkan dengan menyabet juara satu dalam lomba pembuatan karya dari bahan bekas. Yang lebih membanggakan, Wawan adalah satu-satunya peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Prestasi itu membuat kami tidak memandang Wawan sebagai biang kerusuhan dan susah diatur.

Dari Wawan saya belajar untuk tidak mudah berprasangka buruk pada murid. Harus ada pendekatan untuk mendengar dan mengetahui latar belakangnya. Baru setelah itu ada masukan agar berbenah. Dan memang pendekatan murid dan guru adalah pendekatan orangtua. Wawan, kamulah inspirasiku. Ya, kamu.

Koleksi Foto

HASIL KARYA DARI KALENG BEKAS

BERSAMA PIALA

 

BERSAMA HASIL KARYA

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

 

 

Biodata Penulis:

Nama               : Andi Ardianto

Aktivitas         : Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali

No. Telepon    : 085 725 153 164

FB                   : Andi Ar

 

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar