22

Kamera Mak Onah(cara lain menyatakan kekesalan) (+5)

Botaksakti January 17, 2014

Mak Onah, tetangga yang tinggal di ujung gang belakangan menjadi buah bibir di kampung kami. Konon, sejak menikah dengan Pak Kades, tingkahnya banyak berubah, Ia yang dulu bukan siapa-siapa, tiba-tiba menyandangkan dirinya sendiri dengan sebutan “ibu Desa”. Sebuah sebutan yang barangkali didapatkan dengan menganalogikannya pada sosok ‘ibu negara’.

Sebenarnya, kata orang-orang, sebelum menjadi ‘ibu kelurahan’, Mak Onah orangnya biasa-biasa saja. Pekerjaannya tukang urut yang bisa dipanggil. Mungkin saja, gaya mengurutnya memang luar biasa sehingga membuat Pak Kades kecantol untuk menjadikannya tukang urut pribadi. Dari situlah, ketika istri Pak Kades meninggal, tak lama kemudian Mak Onah menggantikan posisi almarhumah sebagai ‘ibu desa’.

Meski soal urut-mengurut menjadi latar belakang yang menjadi merk mak Onah, tetapi musabab ia menjadi buah bibir kali ini ternyata tak ada hubungannya dengan itu. Sebuah lompatan jauh telah dibuat oleh Mak Onah. Ia yang dulu bermain minyak urut, sekarang bermain ‘tustel’ atau kamera, digital pula!

Kok bisa?

Begitulah, sebagai ‘ibu desa’ Mak Onah merasa harus mengikuti gaya hidup yang juga meningkat. Ketika ia mengikuti suaminya hadir dalam suatu acara di kecamatan, ia melihat istri pak Camat sibuk memotret sana-sini. Kegiatan istri Pak Camat itu rupanya menarik perhatian hadirin. Alih-alih memperhatikan Pak Camat yang sedang memberikan sambutan, hadirin malah sibuk memperhatikan gerak-gerik istri Pak Camat mengambil gambar.

“Ih, keren ya istri Pak Camat!”, kata seorang perempuan yang duduk di sampingnya.

“Iya!”, jawabnya singkat.

Sejak itu, Mak Onah seperti punya spirit baru.

“Kamera!”, batinnnya,”Dengan kamera aku bisa menjadi sesuatu!”

Tanpa buang waktu, dalam perjalanan pulang Mak Onah merayu suaminya untuk membelikannya kamera. Katanya, belum ada istri lurah yang mempunyai hobi memotret. Oleh karenanya, bila ia punya kamera maka ia akan dikenal sebagai istri Kades pertama yang memiliki hobi memotret.

“Memotret itu hobi kelas tinggi, lho Pak. Pasti Bapak bangga deh kalau punya istri seperti itu!”, rajuknya.

Terbius bujuk rayu istrinya, Pak Kades tanpa pikir panjang segera membelikan kamera untuk istrinya. Ia mengajak istrinya ke sebuah toko kamera di kota.

“Ibu mau kamera yang mana?”, tanya Pak Kades begitu mereka sampai.

“Yang keren, lah. Malu kalau cuma yang biasa. Mosok istri Kades kameranya kayak kamera orang biasa!”

“Ini pas untuk Ibu. Kelasnya sama dengan yang dipakai istri pejabat penting negeri ini!”, kata sang penjual.

“Wow…….aku kalau pakai ini pasti berkelas seperti istri pejabat penting itu, ya Pak?”, katanya manja sambil mencubit keras pinggang suaminya.

Pak Kades meringis. Bukan karena sakit akibat cubitan istrinya, tetapi karena ketakutan membayangkan harganya.

“Berapa, Mas yang kayak gini?”

“Murah, Pak, cuma 250!”

“Wow……ini aja, Pak!”

“Ya, udah deh……saya ambil yang ini!”, kata Pak Kades lega. Ia tak menyangka, ternyata kamera yang katanya sekelas dipakai istri pejabat tinggi itu sedemikian murah. Segera ia ambil dompetnya dan dikeluarkannya uang 250 ribu rupiah.

“Pakai cek saja, Pak!”, kata sang penjual sambil melirik duit di tangan Pak Kades.

“Cuma segini pakai cek?”

“Bukan 250 ribu, Pak, tapi 250 juta!”

“Hah……….???”, Pak Kades terperanjat.

“Ya, mana ada istri pejabat pakai kamera seharga 250 ribu, Pak? Itu mah mainan anak-anak! Tapi harga 250 juta itu sebanding lho, Pak!”

“Maksudnya?”

“Yah, meski nanti hasil memotretnya tidak bagus-bagus amat, tetapi begitu orang tahu harga kameranya pasti mereka akan berdecak kagum!”

“Oh, begitu, ya? Jadi, hasil potretan istri pejabat itu juga tidak bagus-bagus amat ya?”

“Begitulah kira-kira!”

“Ayolah, Pak, ambil. Mosok Bapak tidak punya uang sebanyak itu?”, timpal istrinya.

“Iya, deh. Saya ambil!”

Waktu terus berlalu. Mak Onah sudah eksis dengan kameranya. Banyak hal yang ia abadikan. Ia memang berbeda dengan istri lurah yang lain. Di pundaknya selalu tergantung kamera dengan anggunnya.

Selera memotret Mak Onah memang luar biasa. Ia tidak pilih-pilih objek. Dari bangunan kantor kelurahan sampai rumah Bi Ijah yang hampir roboh ia lalap dengan kameranya. Dari perkawinan anak Pak RT 01 sampai entok kawin juga ia potret.

“Selalu ada eksotika dalam setiap objek!”, katanya berfilosofi.

Mak Onah terus beraksi. kali ini ia harus mendampingi suaminya melayat seorang warga yang meninggal karena kecelakaan. Konon, tubuh korban hancur parah. Maklum, korban yang sedang berjalan kaki tersambar sebuah mobil truk pengangkut material yang dikemudikan sopir sedang mabuk.

“Coba tolong dibuka dulu itu kafan di bagian wajah!”, pinta Mak Onah kepada ajudannya.

“Untuk apa, Bu?”, bisik si ajudan.

“Saya ingin mendapatkan gambar wajahnya yang hancur. Pasti ekslusif!”

“Waduh, Bu, apakah etis kalau seperti itu?”

“Sudahlah, jangan banyak omong. Kalau pakai etis nggak etis, bagaimana saya bisa mendapat gambar ekslusif?”, katanya sambil mendelik.

Taku dipecat, ajudannya segera membuka kafan yang menutupi bagian wajah si mayat.

“Cepret….cepret…..cepret!”, kilatan blitz menyambar beberapa kali.

Aksi Mak Onah berjalan aman dan lancar. Tak satupun kerabat dan keluarga berani bereaksi melihat kelakuannya.

Hanya saja, dua hari setelah itu kegemparan terjadi. Di kantor desa, Pak Kades sedang menerima kunjungan Pak Bupati. Untuk itu, di halaman kantor desa digelar pameran hasil karya warga desa. Pak Kades ingin menunjukkan bagaimana ia berhasil memimpin pembangunan. Selain hasil budidaya pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan memanfaatkan keterbatasan lahan, juga dipampang foto-foto hasil pembangunan fisik. Ada gardu ronda yang telah dipugar lebih cantik, ada perpustakaan desa yang berisi buku dalam jumlah lumayan banyak, dan kegiatan posyandu yang rutin digelar. Di ujung dekat pintu masuk kantor kelurahan digelar hasil-hasil kreatif warga, seperti hasil kerajinan dari bahan sampah, kerajinan dari limbah pabrik konveksi di sebelah kampung, dan tidak lupa foto-foto hasil jepretan Mak Onah sebagai ‘ibu desa”.

Melihat itu semua, Pak Bupati tersenyum cerah. Ia puas dengan pembangunan yang dimotori oleh Pak Kades. Namun, muka Pak Bupati tiba-tiba keruh. Matanya menatap tajam beberapa foto korban kecelakaan yang dijepret Mak Onah dua hari yang lalu.

“Ini apa?”, Pak Bupati bertanya kepada Pak Lurah yang mendampinginya.

“Ini foto muka jenazah warga kami yang menjadi korban kecelakaan, Pak. Istri saya yang mengabadikannya!”, kata Pak Kades sambil menunjuk istrinya.

Mak Onah tersenyum sambil sedikit membungkuk. Ia bersiap menerima acungan jempol dari Pak Bupati.

“Kayak gini kok dipotret? Anda belajar memotret dari siapa?”

“Otodidak, Pak!”, jawab Mak Onah masih sambil tersenyum

“Pantas, tapi ya mustinya pakai hati dong! Mosok kayak gini Anda potret. Di mana hati nurani Anda?”

Mak Onah terdiam. Wajahnya panas. Ia tak menyangka Pak Bupati akan menyemprotnya sedemikian rupa.

“Tarik foto ini. Dan mulai sekarang, saya melarang semua istri pejabat di Kabupaten ini memiliki hobi memotret! Urusin tuh orang miskin, warga kurang gizi, bukan motret sana-motret .sini. Tugas istri pejabat itu membantu suaminya menjalankan tugas dengan baik, bukan mencari kesenangan sendiri!”, kata Pak Bupati dengan marah.

Mak Onah gemetar. Bukan takut melihat kemafrahan Pak Bupati, tetapi karena tiba-tiba ia melihat suaminya digandeng dua orang yang tadi ikut dalam rombongan Bupati.

“Anda ditangkap dengan tuduhan korupsi uang bantuan kelurahan!”, kata seorang di antara yang menggandeng suaminya. Rupanya, dua orang itu adalah petugas dari Kejaksaan yang memang mengincar Pak Kades.

Comments (22)

  1. Hai para isteri…. tanyakan ke suaminya yach… gajinya sebulan berapa? jika tiba-tiba pulang bawa uang sekaleng kerupuk… tanyakan dengan baik. “Uang siapa pak, dari mana? mengapa ada di bapak? . jangan gembira…”wow banyak amat, ada lagi gak pak?”.

  2. Pak Yusuf: wuaduh…..terbaca deh#jadmalu. Btw, alhamdulillah sudah dilirk oleh seorang sastrawan. Tks, Pak, salam. Mohon berkenan mengkritiknya! Habis-habisan juga boleh, insyaallah akan saya tanggapi dengan karya 😀

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar