4

Kacamata Guru : Lady Gaga(H) dan Lady Gaga(L) (+1)

Mustafa Kamal May 15, 2012

Saya tertarik menulis tentang Lady Gaga yang katanya terkenal itu. Padahal saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang Lady Gaga. Hal ini menjadi menarik bukan karena berita dibatalkannya izin konser Lady Gaga di Jakarta oleh POLRI tapi lebih karena status kekecewaan eks siswi-siswi saya di Facebook yang sudah bela-belain jauh dari Tanjung Pinang ke Jakarta untuk menonton konser Lady Gaga namun akhirnya gagal dan sekarang "galau" dengan nasib tiket yang sudah dibeli mahal.


Ketertarikan itu membuat saya mengetik kata "Lady Gaga" di search Google. Setelah cukup bahan tentang Lady Gaga di Internet akhirnya dikelas saya sisipkan sedikit materi tentang Lady Gaga ini, diawali dengan bertanya ke siswa siswi apakah kalian mengenal Lady Gaga? hampir sebagian besar mengenalnya, komentar mereka menggambarkan sosok Lady Gaga antara lain "dia monster cantik, pak!" , Dia Artis pengusung Kebebasan berekspresi, pak!, dan " Lady Gaga itu gay pak…! yang memacing tawa se isi kelas.
Kemudian saya sedikit bercerita, versi saya tentang Lady Gaga yang Gagal konser di Indonesia baru-baru ini: "…Lady Gaga adalah nama nama panggung dari penyanyi Pop Amerika Serikat Stefani Joanne Angelina Germanotta, Usianya baru 26 tahun tapi prestasinya sudah luar biasa, dia masuk 100 orang paling berperngaruh di dunia versi majalah Time, Artis terbaik 2010 versi billboard, dan peringkat satu dari 100 selebriti paling berkuasa dan berpengaruh di dunia versi majalah Forbes disamping itu dia sudah memperoleh 5 grammy Awards di bidang musik, penjualan album yang fantastis di seluruh dunia dan banyak prestasi lainnya. "


Apa yang dilakukan Lady Gaga hingga bisa mencapai prestasi spektakuler ini? Pertanyaan saya berikutnya, yang kemudian saya jawab sendiri :" Sejak kanak-kanak Lady yang berasal dari keluarga yang tidak kaya ini sudah aktif di musik, disekolahkan di sekolah khusus perempuan Katolik Roma, mengambil kuliah jurusan drama dan penampilan, disana ia belajar musik,drama, menulis dan menyusun makalah tentang seni, seks, isu-isu agama dan politik yang kemudian menjadi bekal baginya berkarir di musik. Dalam karirnya dia pernah membangun musik berkarakter elektro pop , namun dikeluarkan setelah bergabung tiga bulan sebelum selesai proyek album yang ditawarkan padanya, pemecatan ini membuatnya kecewa berat dan membuatnya mengenal kehidupan malam di Lower East Side. Di kehidupan malam Gaga tampil mengenakan pakaian lebih kecil dari bikini dan mulai bereksperimen dengan obat-obatan sambil tampil di banyak pertunjukan serta menyanyikan lagu-lagu tentang oral seks. "


Kulihat wajah anak-anak mulai bergidik dengan cerita saya. Saya melanjutkan : "Ayahnya mengacuhkannya dan tidak mau melihatnya karena tidak mengerti alasan dibalik kegemarannya pada obat-obatan dan jalan hidup yang dia pilih. Namun Gaga tak bergeming, dia terus melejit dengan karirnya dan mengeluarkan banyak album yang sukses serta penggemar yang banyak di seluruh dunia. Dia dikenal karena musikalitas dan kecakapannya memainkan pertunjukan dan sisi seksualitasnya yang kuat pada setiap penampilan. Liga Katolik Amerika Serikat juga pernah menyerang Saga untuk dugaan penggunaan simbol penghujatan Agama.
Pada intinya menurut banyak pengamat Gaga menjadi satu dengan orang-orang aneh dan orang-orang buangan. Ikon "Monster Ball" yang dia buat adalah simbol kebebasan bagi penggemarnya. Dalam sebuah majalah The Sunday Times sebuah artikel berjudul "Lady Gaga and the death of sex" (Lady Gaga dan kematian seks) Lady Gaga digambarkan lebih seperti pencuri identitas daripada sebuah perusak tabu erotis, sebuah produk manufaktur utama yang mengaku menyanyi untuk orang-orang aneh, para memberontak dan orang-orang buangan. "


Lady Gaga juga merupakan ikon Gay. Dia menjadi "pembela sengit dan nyata" untuk kaum gay dan lesbian. Ketika dia muncul sebagai tamu di The Ellen Degeneras Show pada tahun 2009 ia memuji DeGeneres untuk menjadi "sebuah inspirasi bagi perempuan dan untuk komunitas gay". Lady Gaga disebuah acara pernah berkata "Tuhan memberkati , Tuhan memberkati para gay" yang disambut riuh tepuk tangan penggemarnya.
Gaga baru-baru ini muncul di acara pan-Eropa internasional yang didedikasikan untuk masyarakat gay seluruh dunia khususnya Eropa, diselenggarakan di Roma pada bulan Juni 2011. Dalam pidato hampir dua puluh menit dia mengkritik ketidak-toleran negara terhadap hak-hak gay di banyak negara Eropa dan menggambarkan homoseksual sebagai "revolusioner cinta" sebelum melakukan persembahan akustik "Born This Way" dan "The Edge of Glory" di depan ribuan orang diCircus Maximus. Dia menyatakan bahwa "Hari ini dan setiap hari kita memperjuangkan kebebasan. Kita berjuang untuk keadilan. Kita memanggilnya untuk belas kasih, mencoba pengertian dan di atas semua yang kita inginkan kita berada dalam kesetaraan penuh sekarang. Gaga mengungkapkan bahwa ia sering mempertanyakan mengapa dia mendedikasikan dirinya untuk "pidato gay" dan "bagaimana gay"-nya dia, dia mengatakan: "Mengapa pertanyaan ini, mengapa masalah ini begitu penting? Jawaban saya adalah: Saya anak keanekaragaman, saya satu dengan generasi saya, saya merasakan sebuah kewajiban moral sebagai wanita, atau seorang pria, untuk melatih potensi revolusioner saya dan membuat dunia tempat yang lebih baik. Dan saya katakan pada skala gay dari 1 sampai 10, saya seorang dengan skala 42! "


Terakhir saya bertanya kepada siswa-siswi saya, apakah kalian masih meneladani dan rela menghabiskan banyak uang untuk Lady Gaga pendukung gay dan lesbian yang jelas dilarang dalam agama baik itu Katolik maupun Muslim? Apakah kalian masih ingin menjadi bagian dari penggemar Lady Gaga yang menurut banyak pengamat merupakan orang-orang aneh, pemberontak, dan orang-orang buangan?


Serentak seluruh siswa siswi saya berkata tidak. Saya tersenyum.


"Dedikasi, Kegigihan dan kesuksesan Lady Gaga dalam bermusik boleh kita acungkan jempol, namun dalam penampilannya yang menonjolkan seksualitas dengan beragam kontrovesi serta pilihan hidupnya sebagai pendukung komunitas Gay dan lesbian kita boleh acungkan jempol terbalik. Setiap orang berhak memilih dia penggemar Lady atau tidak. Setiap negara juga berhak menerima Lady Gaga, dan Indonesia mengatakan tidak untuk Lady Gaga! Mungkin ini bukan pilihan seluruh rakyat indonesia, tapi bapak yakin orangtua kalian, Bapak dan ibu guru, pendeta dan ulama, dan orang-orang terdidik yang beriman dan bertakwa masuk pada persentase terbesar yang memilih tidak!


Biarlah Lady Gaga(H) disana, tapi disini kita sepakat Lady Gaga(L) ! Ujar saya menutup materi tentang Lady Gaga, diiringi tepuk tangan seisi kelas pagi itu.


Bagaimana dengan anda?

Comments (4)

  1. Jangankan membeli tiket Konser Lady Gaga.. Siswa/i saya berangkat sekolah aja banyak yang tidak membawa uang saku. Makan pagi pun mereka bawa dari rumah.,
    Bagi siswa/i saya, Lady gaga hanyalah sebuah dogeng dan tontonan,, Kl mau mencari tuntunan, tidak harus bljr dari..
    Salut buat bapak yang bisa membuat siswa/i mengerti…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar