0

kaca mata AMANAH untuk SEORANG PEMIMPIN (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 7, 2021

Pemimpin banyak orang mengartikan adalah orang nomor satu dalam satu komunitas. Orang yang menjadi teladan bagi yang lainnya, menjadi pengayom bagi yang lainnya, lebih daripada orang lain , yang ini berarti bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan yang lebih di segala bidang.Baik dari segi inteligensia , emosional, dan spiritualnya. Sehingga mampu mengemban tugas kepemimipinannya. Pemimpin yang ideal dengan nuansa moral yang luhur dicontohkan dalam beberapa riwayat dan legenda.

Pemimpin merupakan perpanjangan atau titisan dari sang pencipta. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam istilah jawa “ Sabda Pandita Ratu”. Betapa dekatnya seorang pemimpin dengan Tuhan, sehingga kata-katanya penuh dengan makna dan sacral. Kesakralan ucapan seorang pemimpin akan terpelihara jika seorang pemimpin itu memenuhi aturan alam. Alam tidak pernah bohong, dan alam tak pernah pilih kasih. Tetapi penuh kasih sayang. Pemimpin yang mampu belajar dari alam dan menyatu dengan alam inilah yang akan bertahan dari seleksi alam. Hingar binger edannya jaman tentang keserakahan manusia, sebagai pertanda adanya seleksi alam terhadap pemimpin yang serakah. Sifat serakah yang bertentangan dengan alam, sekarang ini mewarnai kehidupan kepemimpinan dan pemimpin di sekitar kita. Dari tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/ kota, bahkan sampai pada level unit kerja. Kesrakahan dengan bersembunyi kedok kreativitas dan entrepreneur menjadi lazim. Menipu akal yang mulai teracuni budaya kapitalis. Pemimpin yang serakah ini akan ditelan oleh alam, dengan hukumnya yang tak pernah pilih kasih.

Setiap manusia dikodratkan oleh yang maha kuasa sebagai pemimpin bagi alam semesta ini, hal ini diberitakan dalam kitab suci alquran, bahwa manusia adalah khalifah bagi alam semesta.Kepemimpinan manusia memliki 2 potensi , yaitu menuju kepada suatu perbaikan atau kepada suatu kerusakan. Tergantung pada manusianya , lebih memilih hawa nafsu negative atau hawa nafsu yang disertai dengan mengharapkan rahmat dan ridho Allah. Dalam alquran pemimpin diidentikkan dengan bathin , dan rakyatnya adalah lahiriyahnya. Sehingga manusia yang berilmu harus mampu menempatkan lahir dan bathin sesuai porsinya. Kekuatan kepemimpinan manusia terletak pada bathinnya, dengan bathin yang baik niscaya lahiriahnya akan baik. Jika bathinnya bobrok dan lahirnya baik hanya sebuah kemunafikan. Ini yang sering dilakukan oleh para politikus busuk, yang bermuka manis tapi menyimpan suatu kepentingan yang menguntungkan diri sendiri. Sudah banyak contoh para pemimpin yang saat kampanye berbeda jauh dengan saat duduk memegang kekuasaan.

Dalam filosofi pendidikan jawa yang diajarkan oleh ki hajar dewantara , bahwa seorang pemimpin harus mampu menempatkan diri pada 3 posisi yaitu didepan sebagai teladan, ditengah membangun semangat dan dibelakang meberikan wejangan. Idealnya dapat dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena manusia pada dasarnya adalah pemimpin maka manusia sebaiknya memiliki ketiga sifat tersebut dalam segala situasi dan kondisi. Seorang guru dapat menjadi pemimpin bagi anak muridnya dengan memberikan tauladan yang baik bagi anak didiknya, jika sedang dalam kondisi menjadi sorotan. Seorang kawan dalam suatu komunitas dapat menjadi pemimpin kawan-kawan yang lainnya dengan memberikan motivasi kepada kawan-kawannya. Dan seorang orang tua bias menjadi pemimpin bagi anaknya dengan memberikan nasihat yang baik ketika sang anak mengadukan permasalahan yang dihadapinya. Dalam hal ini pemimpin tidak hanya yang tampil didepan.

Jabatan adalah sebuah amanah. Memimpin adalah sebuah amanah. Paradigma kepemimpinan adalah sebuah amanah mungkin sekarang mulai bergeser kearah memimpin adalah peluang usaha atau proyek mencari materi atau kepuasan yang tak pernah terpenuhi. Ujung dari paradigm ini adalah keserakahan atau tamak. Prestasi memimpin sekarang ini orang, melihatnya dari parameter berapa harta yang mereka kumpulkan selama menjabat suatu kepemimpinan. Jiwa entrepreneurship para pejabat dan pemimpin sudah kebablasan kesemua aspek, terutama pada aspek anggaran suatu instansi. Kreativitas yang lebih condong adalah bagaiman mengakali ssebuah anggaran supaya dapat menguntungkan diri sendiri. Figur yang amanah mungkin sangat langka kita jumpai. Prestise dan prestasi menjadi bias, batas mereka begitu tipis. Benteng keimanan dengan pagar-pagar rasa syukur sudah digantikan dengan target setoran pemenuhan nafsu.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar