6

Jualan Kurikulum? (+4)

Botaksakti May 16, 2013

Beberapa waktu lalu, saya menyimak ‘keributan kecil’ antara Pak @Bukik dengan @Rheinald Khasali di jagad Twitter.  Keduanya membahas tentang Kurikulum 2013 yang akan segera diterapkan. Seru dan menarik ‘keributan kecil’ tersebut. Pak @bukik begitu gencar ‘memburu’ @Rheinald Khasali soal keikut sertaannya dalam meng-endourse Kurikulum 2013.

Meski bernuansa ‘keributan’, akan tetapi jujur saja, banyak hal terkuak dari peristiwa itu. Setidaknya bagi yang belum sempat melihat langsung dokumen uji publik Kurikulum dimaksud beberapa waktu lalu. Mengapa dokumen uji publik? Begitulah, sampai saat ini, dokumen resmi final dari Kurikulum 2013 memang belum ada(baca: belum diperlihatkan ke publik).

Hebatnya, meski dokumen resminya belum ada, tetapi seperti juga terungkap dalam keributan tersebut, buku pendukung kurikulum tersebut ternyata telah ditenderkan.  Bahkan, konon, bukunya sudah dicetak.  Seorang pengguna Twitter lain yang ikut nimbrung mengatakan bahwa tahun depan, anaknya sudah akan memakai buku penunjang Kurikulum 2013, sementara Kurikulumnya sendiri belum ada.

Ungkapan pengguna tersebut cukup menohok. Entah dengan nalar apa bisa dipahami, bahwa sementara kurikulumnya saja belum final, tetapi buku penunjangnya sudah jadi. Mungkin, ini seperti orang tua yang begitu yakin anaknya akan lahir laki=laki, sehingga ia telah mempersiapkan semua keperluan bayi laki-laki. Bagaimana seandainya nanti ternyata yang lahir bayi perempuan?

Sebenarnya, sejak awal kemunculan ide Kurikulum 2013 ini pro-kontra memang sudah terjadi. Bermula dari gagasan karena Kurikulum yang sekarang belum mampu menghasilkan out put yang memadai, maka dilahirkanlah Kurikulum 2013. Konon, Kurikulum ini juga lebih menekankan kepada aspek kecerdasan non-akdemis, karena aspek inilah yang dirasa sangat kurang seiring dengan merebaknya tawuran anak sekolah waktu itu.

Maka, mungkin ada benarnya juga kalau tokoh sekelas Gunawan Muhammad ikut mendorong Kurikulum baru ini. “Saya setuju karena niat awalnya baik!”, demikian kicauan Gunawan melalui akun @gm_gm(kalau tidak salah). Hanya saja, rupanya Gunawan dan Rheinald sedikit kurang cermat. Beliau mungkin tidak mengikuti bagaimana kemudian niat itu dijabarkan.

Akan tetapi, sudahlah, itu sudah terjadi. Yang lebih menarik adalah jalan pintas Kemdikbud untuk ‘memaksakan’ agar Kurikulum 2013 yang begitu banyak dikritik untuk diterima oleh masyarakat melalui (konon) iklan televisi. Melalui iklan, Kemdikbud seolah ingin menunjukkan bahwa beberapa tokoh penting dan ternama mendukung penerapan kurikulum baru tersebut. Kenapa menarik? Ya, rupanya Kemdikbud beranggapan bahwa Kurikulum itu tak ubahnya seperti mie instan yang harus dijual dengan cara yang sama. Ah, begitu absurdkah para penentu kebijakan pendidikan negeri ini?

Comments (6)

  1. Saya melihat, lahirnya PP 32 tahun 2013 tampaknya cenderung lebih memfokuskan dan dilatari oleh semangat untuk mengganti kurikulum yang berlaku saat ini, daripada menata standar-standar pendidikan yang selama ini masih dianggap rapuh.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar