5

“Jangan zalimi saya dengan pujian!” (+3)

Botaksakti July 9, 2013

Suatu ketika, seorang anak datang kepada saya. Mukanya seperti menyimpan beban yang luar biasa. Agak heran juga melihatnya seperti itu. Biasanya anak itu selalu ceria, pembawaannya ringan dan hangat.

“Pak, boleh bicara?”

“Silakan. Ada apa?”

“Tapi Bapak jangan marah, ya. Soalnya ini menyangkut diri Bapak!”

Saya tidak segera mengiyakan. Entahlah, seperti Presiden, saya pun manusia biasa. Menghadapi ‘terkaman’ seperti itu saya masih harus berpikir untuk mengiyakan atau tidak.

“Baiklah…apapun silakan katakan!”, jawab saya setelah saya berhasil menepis segala kekhawatiran.

“Begini, Pak, saya kurang menyukai gaya mengajar Bapak!”

“Kenapa beitu?”, saya memberi atensi.

“Bapak itu mungkin orang baik, tapi Bapak terlalu banyak memuji”

Saya tertegun. Mungkin benar yang dia katakan. Maksud saya dengan banyak memuji murid saya, sekedar ingin memelihara semangat mereka.

“Bukannya itu baik? Saya kan ingin agar kalian selalu bersemangat!”

“Boleh jadi begitu, dan saya sangat menghargai niat Bapak. Akan tetapi, untuk saya pribadi kurang suka dengan terlalu seringnya menerima pujian Bapak”

Hemm….ya, anak itu memang termasuk cerdas. Dan, yah, jujur saja saya memang rajin memujinya. Saya merasa anak itu pantas menerimanya.

“Berderainya pujian dari Bapak membuat saya kadang ‘mabuk’. Saya merasa begitu sempurna, sampai-sampai saya seperti tidak mengenal diri saya sendiri”

Anak itu terdiam. Air mukanya terlihat lebih cerah.

“Jadi, bagaimana yang kamu inginkan?”

“Begini, Pak, saya mohon Bapak tidak usah ragu-ragu. Kalau memang saya harus dikritik, kritik saja langsung. Setidaknya dengan kritik lebih terbuka ruang bagi kita untuk berdiskusi. Dengan begitu kan saya bisa lebih banyak belajar, Pak!”

Saya tersenyum.

“Saya pikir, kami anak-anak, tidak bisa tumbuh ‘hanya’ dengan pujian. Kami juga butuh kritik, bahkan yang keras sekalipun. Bukankah itu juga akan membantu kami berpikir dan berlaku objektif?”

Saya tertegun. Sepertinya anak itu benar.

“Mohon tidak ‘menzalimi’ saya dan teman-teman dengan pujian, ya Pak!”

Saya terkekeh.

“Saya suka gaya kamu!”

Dan kami ‘tos’ bersama.

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar