8

Jangan Menakut-nakuti Anak Agar Tidak Menjadi Anak Penakut (0)

oloan December 10, 2020

Karena kesibukan bersama, akhir-akhir ini kami sering meninggalkan anak di rumah. Dan setiap kali kami agak lama pulang, khususnya ketika hari menjelang sore, anak-anak sering menelepon dan berkata, “Jangan lama pulang Mak”, “Cepat Pulang Mak”, ternyata selidik punya selidik, mereka punya rasa takut.

Cerita ketakutan merekapun beragam dan kami sebagai orangtua memaklumi rasa takut itu, karena memang saat usia mereka, mereka punya rasa takut ketika ditinggal orangtua. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja masih punya rasa takut ketika berada dalam kesepian, konon ketika anak-anak?

Cerita ketakutan merekapun lumayan banyak dan beragam, misalnya “Mak, tadi dari belakang kami mendegar suara tok..tok..tok, kayak mengetok pintu gitu mak. Tapi saat kami lihat ke belakang, nga ada loh Mak?”.
Lalu anak perempuanku pun berkata di lain hari, “Pak, kami tadi mendengar suara orang kayak membuka gerbang, ketika kami intip dari jendela, nga ada Mak?”.

Dan berbagai cerita ketakutan versi mereka. Bahkan, ketika orang benar-benar datang, muncul rasa takut dalam diri mereka. Dan hal itu wajar, karena nenek mereka ketika ke Medan beberapa saat lalu pernah menakut-nakuti mereka dengan cara kolot. Anak ditakut-takuti agar patuh. Anak akan jadi penakut. Pasti ingat dong dengan beberapa kalimat menakut-nakuti ini …

Awas, ada penculik!
Awas, jangan main pisau, nanti tangan terluka!
Hii … di situ ada setan!

Pasti familiar.

Orang tua di masa lalu memang menggunakan perasaan takut untuk mendapatkan wibawanya. Agar aturan emas yang ditentukan, dipatuhi dan tidak dilanggar anaknya. Memang pemahamannya seperti itu. Cara itu juga dilakukan pada saat ibu bapak kita masih kecil. Pada masa sebelum mereka, peringatan di atas bisa jadi benar adanya, karena mereka di masa perang, masa penculikan, dan lainnya. Mereka hidup di masa seorang anak masih begitu mudah terancam dan hilang.

Masa sekarang sudah relatif aman. Yang bisa kita lakukan adalah memberitahu kepada anak tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Mengajarkan kebiasaan dan kemandirian agar ia selalu percaya diri dan tenang menghadapi sebuah permasalahan. Beritahu dengan lembut dan jelas.

Melatih anak pekerjaan rumah sesuai usianya bisa membuatnya menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.

Memberitahu pada anak perilaku yang boleh dan tidak boleh juga membuatnya paham jika sebuah kejadian atau tempat perlu diwaspadai atau tidak. Contohnya, area yang boleh dijelajah, area privasi pada tubuhnya, alat yang tidak boleh dipakai tanpa pengawasan, dan lainnya.

Saya yakin dengan cara memberitahu yang lembut dan jelas, akan membuat anak paham. Lakukan beberapa kali sebagai penguatan. Berapa kali jumlahnya? Secukupnya. Indikatornya sampai ia mengatakan cukup atau menirukan nasihat kita.

Rasa takut itu normal, yang tidak normal adalah ditakut-takuti. Bagi anak, penyebab rasa takut adalah sebuah ancaman, dan ia bisa benar-benar ketakutan sampai terbawa ke dalam mimpi. Seakan-akan apa yang dikatakan itu benar adanya. Nyata dan akan terjadi padanya. Kita tentu tak ingin memiliki anak yang sering ketakutan akan hal yang tidak jelas.

Menurut Halodoc dalam artikel “Orang Tua Perlu Tahu Dampak Negatif Menakuti-nakuti Anak”, dikatakan bahwa akibat dari menakut-nakuti anak akan membuatnya jadi penakut dan tidak percaya lagi pada orang tuanya.

Kelihatannya sepele, hanya mengatakan, “Awas ada penculik. Jangan keluar,” lalu anak kembali masuk ke rumah. Namun, lambat laun anak akan menyadari bahwa orang tuanya pembohong. Ia akan sampai pada kesimpulan itu, setelah mengalami berbagai rasa takut dan perasaan terancam jika akan keluar rumah.

Ini, lho, dampak menakuti anak:

1. Anak jadi penakut
2. Anak jadi tidak percaya diri
3. Anak memiliki phobia
4. Anak menganggap orang tuanya pembohong

Kelihatannya simpel dan sering keceplosan, tapi ternyata dampaknya sangat luar biasa. Sebaiknya Bunda segera meminta maaf pada anak dan menghentikan kebiasaan menakut-nakuti anak.

Jadi orangtua tentu tidak ingin anaknya menjadi penakut kan? Kalau tidak mau? Jangan menakut-nakuti anak yah…

Comments (8)

  1. Hihiii saya merasa tersindir paak

    Saya sering menakut²i anak saya tapi pada saat itu niay saya agar anak saya menjauh dari sesuatu yang tidak baik untuk didekati. Eeh ternyata memang benar ya, anak saya jadi sedikit phobia jika melihat hal yang saya takut²i itu 😀😀 bagaimana memulihkannya pak??

    Lanjut artikel selanjutnya ya pak (request) 😁

  2. kalau saya dulu, semakin ditakuti semakin penasaran hehehe.. Misalnya dulu, kakak saya bilang, “Jangan lewat kebun itu ada hantu”. eh saya malah penasaran , dan melewati kebun tersebut.
    dan tidak terjadi apa apa. Tidak ada hantu hehehehe

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar