1

Jangan Mau Dipusingkan dengan Berbagai Istilah Asing dalam Pengajaran (+2)

Urip Rukim August 14, 2013

Sering kali pada akhir-akhir ini guru melihat, mendengar istilah asing dalam teori pembelajaran atau pengajaran. Sepertinya itu hal baru, nyata tidak mutlak semua itu hal baru. Contoh yang sendang ngetrend adalah istilah pendidikan karakter. Seolah ini adalah hal baru, ternyata sejak jaman dulu hal ini sudah ada, hanya saja istilah itu tidak mengemuka, namun praktiknya banyak guru telah menerapkan pendidikan karakter. Coba ingat sejak kita jadi siswa dulu bukankah kita telah banyak mendapatkan pendidikan karakter dari guru-guru kita?!

Itu belum seberapa dan memang bagi kebanyakan orang istilah pendidikan karakter itu adalah istilah berbahasa Indonesia. Coba kita lihat berapa banyak teori pembelajaran yang sekarang ada? Mendengarnya saja asing apalagi memahami berbagai maksud-nya. Penuh “kesimpang-siuran” dan ada banyak tumpang tindih di antara makna berbagai istilah asing itu.

Penamaan memang membuat sesuatu itu menjadi mudah dikenali atau diidentifikasi, namun sekali lagi jangan sampai kita pelaku pusing lebih dahulu dengan berbagai istilah yang terkesan asing tapi dipraktiknya mungkin kita sering melakukannya, atau menerapkan semua itu, hanya kita tidak menamai sesuai dengan berbagai teori yang kedengaran asing itu saja ๐Ÿ™‚

Meskipun begitu kita juga perlu tahu sedikit-sedikit tentang semua yang asing itu tapi tidaklah perlu kita harus hafal seluruhnya, apalagi hal-hal asing itu kalau tidak dapat atau tidak memungkinkan untuk kita terapkan dalam aktivitas kita sebagai guru. Kadang hal-hal seperti itu membuat kita tidak bebas, terbelenggu dengan keharusan ini itu untuk menerapkan teoari X. Dalam proses pembelajaran kita sah-sah saja dalam mengubah, tepatnya melakukan adaptasi. Dengan begitu mungkin kita dapat menciptakan model atau teori baru dalam pembelajaran yang kita lakukan. Ingat bahwa ruang kelas di sekolah adalah tempat di mana guru bisa melakukan berbagai hal dengan tujuan bagaimana siswa kita bisa memahami apa yang kita sampaikan dan kita dapat memfasilitasinya agar tujuan pembelajaran kita tercapai. Biarlah penamaan atau sebutan model apapun nanti yang sesuai. Jadi sebaiknya kita tidak menyesuaikan model pembelajaran, tapi biarlah model pembelajaran yang kita lakukan akan masuk kategori model yang mana.

Dengan sedikit tahu berbagai model atau teori pembelajaran kita bisa berangkat dari situ untuk bisa mengembangkan yang ada. Sekali lagi dengan penyesuaian sana-sini. Pelajaran yang kita bawakan tentu memiliki “kebiasaan” dalam proses pembelajaran yang tidak mungkin menggunakan model pembelajaran tertentu. Ruang diskusi secara terbuka, baik secara daring (online) atau luring (offline) dapat membuka khasanah pengetahuan kita, “Oh ternyata selama ini yang saya lakukan berada pada model pembelajaran ini.”

Bedanya guru di Indonesia dengan guru di luar sana (pendidikan yang lebih maju) adalah dalam hal pengidentifikasian atas kerja dan penamaan atas aktivitasnya selama ini, serta publikasi atas apa yang sudah dan sedang mereka lakukan. Dampak dari itu semua kita “hanya” sebagai pengekor saja. Mengikuti mereka. Lalu mengapa kita tidak “mencipta” sendiri, menamainya sendiri, kemudian mempublikasikannya. Ayo, mari kita coba ๐Ÿ™‚

Jika ingin tahu lebih banyak kita bisa memanfaatkan search engine terkait dengan wilayah kerja dan bidang kerja kita. Kita juga bisa merujuk berbagai jurnal internasional yang banyak untuk bisa diakses secara bebas. Tapi sekali lagi semua itu cukuplah untuk menambah wawasan bukan untuk mengekang diri dalam beraktivitas sebagai seorang guru.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar