4

JANGAN JADI ORANG TUA DURHAKA (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto April 1, 2021

            Kemarin saya menonton film berjudul “Ava” di televisi. Film ini berkisah tentang seorang pembunuh bayaran perempuan yang juga mantan tentara bernama Ava. Dia menjadi seorang pembunuh andalan yang tak pernah gagal dan telah menghabisi 41 orang. Dia menjadi begitu kejam karena menyimpan dendam kepada orangtuanya, khususnya ayahnya. Di masa lalu dia pernah memergoki ayahnya berselingkuh, kemudian dia minta ayahnya itu untuk segera mengaku dan meminta maaf kepada ibunya. Tetapi apa yang kemudian dilakukan ayahnya itu? Dia memfitnah sang putri di depan ibunya. Dikatakannya bahwa Ava mengancam akan mengatakan si ayah selingkuh jika tidak diberi uang lima ribu dollar. Sang ibu percaya kepada ayahnya dan memarahi Ava habis-habisan. Dari situlah Ava dendam kepada ayahnya dan sakit hati atas perlakuan ibunya, yang membuatnya pergi dari rumah untuk masuk militer, dan kemudian menjerumuskannya menjadi seorang pembunuh bayaran.

            Tak lama setelah menonton film itu saya membaca sebuah artikel tentang seorang sutradara terkenal dari Hollywood bernama Woody Allen. Dia dituduh telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak perempuannya. Tetapi apa yang terjadi? Dia menolak tuduhan itu, bahkan menuding istrinya telah mempengaruhi sang anak untuk melawannya. Dunia sepertinya berpihak kepadanya karena dia adalah seorang sutradara terkenal yang jenius dan jempolan dalam membesut film-filmnya. Dunia tak ingin namanya tercoreng karena pelecehan yang dilakukannya, sehingga mereka menutup mata atas bukti-bukti yang dibawa anak dan istri Woody Allen.

            Dari dua kisah di atas ada benang merah yang bisa kita tarik, yaitu peran ayah yang gagal menjadi pelindung bagi anak perempuannya. Peran ayah sangatlah penting dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Dia seharusnya menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya, pelindung dan pemberi rasa aman yang paling utama. Bukan malah menghancurkan masa depannya dan memfitnahnya demi kepentingan pribadi sang ayah. Jika kemudian si anak terjerumus ke jalan yang salah, maka yang paling bertanggungjawab dan patut disalahkan adalah ayahnya.

            Dalam Islam, seorang laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban terhadap 4 orang perempuan dalam hidupnya, yaitu ibunya, saudara perempuannya, istrinya, dan anak perempuannya. Kesalahan yang dilakukan oleh 4 orang ini akan menjadi tanggung jawab seorang laki-laki. Sudahkah dia memberikan bimbingan kepada mereka? Sudahkah dia melindungi dan memberikan rasa aman kepada mereka? Jika sudah tetapi tidak dilaksanakan, maka dosanya ditanggung sendiri oleh yang bersangkutan. Tetapi jika belum, para perempuan ini bisa menuntut si laki-laki kelak di akhirat. Jika hanya karena tidak memberikan bimbingan saja dosanya bisa dilimpahkan kepada si laki-laki, apalagi jika si laki-laki justru menjadi sumber rasa sakit para perempuan ini. Jadilah dia suami durhaka, ayah durhaka.

            Jadi sebelum menyalahkan seorang anak yang dianggap durhaka kepada orang tuanya, mungkin bisa kita lihat dulu ke belakang, bagaimana sikap si orang tua kepada anaknya. Luka hati seorang anak akan sulit sembuhnya. Seperti kisah Ava di atas, dia pergi dari rumah karena sakit hati dan dendam kepada ayahnya. Dia baru pulang menemui ibu dan adik perempuannya setelah pemakaman ayahya. Film ini ditutup dengan permohonan maaf sang ibu kepada Ava. Dia sebenarnya tahu apa yang telah dilakukan suaminya, tetapi dia sengaja mengorbankan sang anak karena takut hidup sendiri. Ibunya memohon agar Ava memaafkannya.

            Sebagai orang tua tak ada salahnya kita meminta maaf kepada anak-anak kita, agar mereka lebih terbuka dan dekat dengan kita, serta merasa dilindungi dan diperhatikan. Juga agar kita tidak egois dan menjadi orang tua yang durhaka.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar