4

JANGAN JADI GURU EGOIS (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto February 12, 2021

            Malam tadi saya dibuat terkejut saat membaca di sebuah grup yang anggotanya adalah para guru dan tenaga kependidikan, nama grupnya pun berbau kementrian pendidikan. Yang membuat saya terkejut adalah, si pembuat postingan menampilkan gambar dirinya sedang mengajar murid-muridnya bukan di sekolah, mungkin yang diistilahkan sebagai gurling, atau guru keliling itu. Pada gambar itu diperlihatkan kondisi murid yang mengabaikan protokol kesehatan, tidak jaga jarak dan masker pun dipakai secara asal-asalan. Mirisnya lagi, penulis seakan menantang pemerintah dengan mengatakan terpaksa melakukan itu karena rindu murid dan sudah siap dengan konsekuensinya. Bahkan saat ada yang mengingatkannya, lebih banyak lagi yang membela dengan mengatakan sakit dan kematian itu takdir.

            Saya membaca itu sambil mengelus dada. Kondisi sekarang ini memang membuat banyak orang terpuruk, sakit mental. Apalagi bagi seorang guru honorer yang gajinya tidak seberapa dan masih harus memberikan pelayanan pendidikan yang maksimal kepada murid-muridnya, belum lagi harus memikirkan kesehatannya sendiri. Sangat dimaklumi jika akhirnya memunculkan perilaku-perilaku yang kurang sepantasnya.

            Tapi harap disadari bahwa kita ini guru, yang perilakunya seharusnya bisa “digugu lan ditiru”. Di masa pandemi begini bukan saja harus taat aturan, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran kita akan bahaya virus ini dan cara pencegahannya. Kalau hanya rindu murid, saya yakin semua guru di negeri ini pasti merindukan muridnya dan ingin segera mengajar di kelas. Tapi ini kan bukan sekedar menuntaskan kerinduan. Ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum melakukan tatap muka. Apakah kita sudah yakin murid kita itu di rumahnya bebas virus? Apakah kita paham kondisi tubuh kita sendiri yang mungkin tanpa sengaja membawa virus?

            Hidup, mati, sakit, sehat itu memang urusan Allah, tetapi kita sebagai insan beriman juga wajib berikhtiar untuk menjaga kesehatan. Kepala dinas di tempat saya bertugas menyampaikan alasan mengapa meskipun sudah ada SKB 4 Menteri, dinas kabupaten belum juga menurunkan SK Pelaksanaan PTM, karena beliau masih belum percaya bahwa guru-guru bisa mengawasi dan menjaga pola perilaku siswa di sekolah. Saya pikir ini ada benarnya juga. Kalau gurunya saja masih abai terhadap protokol kesehatan, bagaimana mau mengawasi perilaku murid-muridnya? Karena pola perilaku di sekolah saat ini harus benar-benar berubah dari sebelumnya. Guru juga harus selalu memantau kondisi kesehatan murid-muridnya. Pinjam meminjam barang antar murid di kelas juga tidak diperbolehkan lagi, dan guru juga harus paham ini.

            Memang takdir itu urusan Allah, tetapi apakah kita akan bisa dengan enteng mengucapkannya jika ada kerabat kita yang sakit atau bahkan meninggal karena kelalaian orang yang abai? Sulit pasti. Maka dari itu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa sekarang ini bukan sekedar menuntaskan rindu belajar di sekolah, tetapi bagaimana bisa memberikan pembelajaran yang efektif dengan tetap menomorsatukan menjaga kesehatan. Dan itu diperlukan kebijaksanaan dan kreatifitas.

Comments (4)

  1. wah benar bu..sekarang banyak guru egois nga mau memperhatikan kepentingan sesama guru, jangankan sesama guru di sekolah, sesama guru di mgmp pun nga mau lagi berbagi. misalnya ada teman kekurangan jam, dia tidak mau berbagi untuk menyelamatkan guru tersebut..miris memang bu..dah serba egois

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar