3

Jaga Bara, Bukan Nyala (+4)

Vanda Fakhrozi May 21, 2015

Perkenalkan saya adalah seorang lulusan sarjana bahasa Inggris dari fakultas pendidikan, dalam beberapa aspek mungkin saya belum layak untuk disebut sebagai guru karena nyatanya saya belum pernah mengajar dalam pendidikan formal. 3 bulan terakhir ini saya mendapat tawaran menjadi seorang instruktur atau pengajar di sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan siap kerja satu tahun untuk mengajar bahasa inggris. Yaitu sebuah lembaga untuk mereka lulusan SMA hingga maksimal usia 23 tahun untuk mengambil program keahlian, kami didik hingga matang sampai akhirnya siap ditempatkan menjadi karyawan sebuah perusahaan, jadi tempat saya bekerja adalah batu loncatan bagi lulusan menengah atas untuk mendapat pekerjaan pertama mereka. Akhirnya tawaran itu saya ambil hitung-hitung sebagai langkah awal menapaki karir saya sebagai guru, dengan penempatan awal di kota Malang, Jawa Timur. Yaitu kota kedua terbesar di Jawa Timur yang terkenal akan pendidikannya, sampai ketika saya harus dimutasi ke sebuah kota di seberang pesisir utara tepatnya di kawasan pantura perbatasan langsung dengan Jawa Tengah, kota adalah Tuban. Iya kota yang dijuluki sebagai kota Bumi Wali, dengan kultur yang benar-benar berbeda dengan dengan kondisi kota saya Malang. Biaya hidup di kota ini cukup tinggi dengan tingkat ekonomi yang kurang begitu baik serta pendidikan yang dibawah rata-rata padahal disini terdapat pusat pabrik semen raksasa, mulai dari pabrik Semen Gresik, Holcim & Petrochina. Kita sendiri tahu bekerja di tempat tersebut bukanlah hal yang mudah dan banyak orang berlomba-lomba bagaimana caranya untuk bekerja di tempat tersebut padahal secara latar belakang pendidikan dan keahlian pun mereka tidak punya, dan apalagi kata banyak orang jika bekerja di tempat tersebut, kita akan digaji lebih dari 5 juta rupiah padahal UMK Tuban 2015 hanya berkisar di angka 1,5Juta. Nah, disinilah tantangan sebenarnya mulai saya hadapi, yaitu bagaimana cara merubah pola pikir anak didik saya agar bagaimana bahwa harapan hidup orang Tuban tidak hanya dari satu tempat itu saja yaitu dari pabrik semen semata tapi masih banyak harapan di tempat lain untuk memperbaiki taraf hidup mereka.
Jumlah anak didik saya hanya sejumlah 124 anak dengan rentang usia 17-21 tahun jadi masih dalam tahapan usia remaja, masih jarang yang bisa mandiri dan nyaris 90% dari mereka berada di keluarga dengan ekonomi pas-pasan, orang tua mereka rata-rata petani tambak atau nelayan yang penghasilan tak menentu. Mereka tersebar dan berasal dari Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Rembang dan Blora. dengan range rata-rata umk kota antara 1,3-1,5 Juta bahkan 2 kota terakhir umk kotanya tak lebih dari 1,1juta dan kemiskinan benar-benar sudah mendarah daging. Nah dari fakta itulah mengapa saya merasa begitu terpacu untuk menumbuhkan semangat harapan mereka yang nyaris mati karena kemiskinan, saya merasa tugas saya di sini selain memberi mereka keahlian bahasa Inggris tapi juga turut memotivasi mereka agar harapan untuk sukses itu tetap tumbuh. Dan inilah bagian susah dan sekaligus menyenangkan sebagai seorang tenaga pengajar.
Saya memang bukan psikolog tapi saya belajar banyak dari buku atau artikel yang saya baca tentang psikis manusia dan motivasi khususnya, saya berpikir jika saya saya tidak memulai langkah kecil untuk menumbuhkan semngat mereka di antara himpitan kemiskinan dan tuntutan zaman siapa lagi yang mau melakukan ini. Yang mereka butuhkan selain soft dan hard skill mereka juga butuh kematangan mental untuk mengarungi kehidupan pasca lulus, saya hanya ingin tahu sejauh apa mereka optimis dengan kehidupannya.
Dengan metode simpel saya mencoba untuk memotivasi mereka dengan 3 video pendek, yang pertama Berjudul Berani video motivasi singkat yang dibawakan Mario Teguh berisi tentang dalam hidup kita harus berani atau punya cita-cita setinggi apapun. Next, yang kedua video berjudul Dont Give Up, yang berisi seorang pelari muda yang bercita-cita ingin berlagi di Olimpiade, hingga di bisa menembus Olimpiade namun ketika akan sampai garis fini kakinya patah sehingga dia harus dipapaj ayahnya untuk menujun garis finis. Yang terakhir video berjudul “La Tahzan” atau jangan bersih, sebuah video berisi bahwa apapun yang terjadi dengan mimpi kita nentah itu berhasil atau gagal ingatlah jangan menyerah, ingat ada senyum dan ridho orang tuamu yang menaungimu. Kelas benar-benar sendu ketika video terakhir diputar, beberapa sudah mengusap air matanya masing-masing.
Ketika 3 video tersebut selesei saya putar. Saya menugaskan mereka untuk menuliskan di buku masing-masing sebuah jawaban dari 2 pertanyaan yang akan saya sampaikan. Pertanyaan pertama adalah hal apa yang benar-benar tidak bisa kamu miliki atau tidak bisa kamu lakukan di dunia. Dengan pertanyaan ini saya ingin mengajarkan pada mereka bahwa ada hal-hal didunia ini di luar kemampuan manusia yang tak bisa kita lawan itu semua sudah kehendak Tuhan yang kita hanya sanggup mensyukurinya, banyak jawaban unik, lucu dan mengharukan dari kepolosan mereka. Ada yang menjawab dengan guyon atau memang selera sastranya tinggi, mereka bilang saya tidak bisa terbang seperti kupu-kupu atau saya tidak akan bisa berubah jadi burung, saya pun hanya tersenyum tipis membacanya. Kemudian beberapa dari mereka ada yang menjawab saya tidak bisa jadi tentara, sebelum saya bertanya langsung saya sudah paham mengapa dia menulis tersebut, iya postur tubuh menghalangi dia menjadi tentara, tapi its ok. Ada juga yang menjawab saya tidak akan bisa menjadi pramugari, setelah saya tanya kenapa karena saya tidak punya biaya untuk sekolah prammugari pak, saya pun juga hanya bisa tersenyum tipis, beberapa orang entah saling menyontek jawaban temannya atau tidak tapi 4-5 anak menjawab dengan jawaban, saya tidak akan bisa langsung sukses. ketika saya tanya kepada mereka, dan mereka menjawab dengan mantap,” sukses butuh pengorbanan dan kerja keras pak”.Ketika mendengar jawaban saya senang sekali bahwa mereka tahu arti perjuangan itu seperti apa. Dan ada seseorang yang menjawab dengan kalimat sederhana tapi saya benar-benar tidak paham apa maksudnya, dia menuliskan,” Saya tidak akan bisa berfoto keluarga” saya benar-benar bingung mengartikan kalimat dia, di ujung kertas dia menuliskan kembali sebuah kata singkat,”Selamat jalan Ayah”. Disitu saya merasa terharu menenteskan air mata bahwa saya menyadari hidup bebeberapa dari anak didik saya benar-benar memang berat.
Pertanyaan kedua yang harus mereka jawab adalah Apa keinginan atau cita-cita yang kelak bakal kalian impikan dan itu harus benar-benar terjadi. Seperti yang bisa saya duga 90% dari mereka pasti menjawab saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya, menaikkan haji mereka, membelikan mereka rumah yang layak, makanan yang enak, ingin belikan bapak sawah, ingin belikan ibu baju dan banyak hal yang intinya mengarah kepada kebahagiaan orang tua mereka masing-masing. Dari situ saya percaya bahwa mereka disini punya keinginan lebih untuk sukses, yang mereka inginkan hanyalah senyum bahagia yang terpancar dari raut orang tua mereka ketika sudah bekerja nanti. sungguh mulia sekali mereka, menempatkan sisi kesuksesan diri dari hal apapun didunia ini. Dari pertanyaan ini saya hanya ingin mengajarkan pada mereka bahwasanya cita-citalah, bermimpilah, setting your goal setingginya, apa yang tidak mungkin bagaimana membuatnya menjadi mungkin lewat jalan kerja keras, kerja cerdas dan berdoa.
Hari itu saya benar-benar bahagia melihat raut wajah bahagia penuh harapan dari mereka, Harapan itu nyatanya seperti api, yang dijaga bukanlah nyalanya tapi baranya agar tetap hidup. Disitulah saya senang sekali mampu memnumbuhkan pribadi-pribadi dengan sikap positif dan optimis, karena saat ini mereka sedang berjuang bukan hanya untuk diri mereka masing-masing tapi juga untuk orang tua dan keluarga. Saya berharap cara seperti ini diterapkan oleh setiap guru atau pendidik di sudut dunia manapun, karena salah satu kesuksesan mengajar itu terletak pada sejauh mana keberanian anak didik bapak’ibu sekalian untuk bermimpi maupun bercita-cita hal yang mustahil. Terima Kasih.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar