3

JADIKAN SISWA ITU SEBAGAI SAHABAT (+3)

MUHAMMAD ZAKI, S.Pd May 4, 2015

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Mereka ingat, ketika kita mengingatkan

SMP Negeri 5 Sawang Kab. Aceh Utara, merupakan sekolah semi terpencil tempat saya mengabdi sebagai Guru Honorer Sukarela. Sepertinya Ijazah Sarjana (S1) yang saya miliki belum cukup untuk mencurahkan ilmu kepada sahabat-sahabat (siswa) saya. Ingin melanjutkan namun keuangan sangat tidak mengizinkan.

Setiap pukul 05.30 wib, saya sudah berangkat menuju sekolah yang jaraknya mencapai 40 KM dari tempat tinggal saya, dengan melalui jalan berdebu, berbatu, menanjak dan menurun. Kadang kala, muncul rasa bosan, malas dan jenuh terhadap situasi seperti ini. Apalagi kadang-kadang harus menumpang (berboncengan) dengan guru lain. Dibalik kejenuhan itu, saya tidak bisa meninggalkan sahabat-sahabat (siswa) saya di sekolah. Karena bagi saya mereka adalah orang yang paling dekat dan sangat mengerti saya. Satu hari saja tidak hadir, banyak pertanyaan harus dijawab dan utang yang harus saya bayar  kepada mereka, hal ini dikarenakan setiap ada jadwal mengajar saya selalu memberikan kejutan kepada mereka, sesuai dengan materi pelajaran. Saya tidak bisa tidur nyenyak sampai pagi, jika belum saya menyiapkan media untuk pembelajaran besok yang sesuai dengan materi.

Setiap saya tiba disekolah, saya sudah ditunggu oleh sahabat-sahabat saya. Kebiasaannya kami duduk sebentar dibawah pohon dekat kanting, sebelum jam belajar dimulai. Disitulah kami bercerita sambil menunggu sahabat-sahabat lainnya. Banyak sekali cerita yang terangkai, keingin tahuan mereka membuat saya terus ingin menyampaikan informasi secara luas, karena saya melihat informasi yang saya sampaikan sangat melekat dalam pikiran mereka. sehingga kapanpun ditanyakan kembali mereka masih mengingatnya secara jelas. Disinilah, saya menamakan hubungan kami adalah “Siswa sebagai sahabatku”. Wilayah terpencil, yang susah dengan listrik, signal HP, TV dan Radio yang menjadikan saya sebagai media informasi kepada sahabat-sahabat (siswa) saya. Mereka tidak pernah tau informasi secepat kilat, kalau kita tidak pernah menyampaikannya. Oleh karena itulah, saya jujur kepada siswa “Anggaplah saya sebagai sahabatmu, tempat kamu mencurahkan apa yang ingin kami sampaikan”

Pembelajaran yang saya sampaikan kepada mereka sedikit berbeda, kebanyakan media yang saya tunjukkan adalah media yang saya rangkai berdasarkan materi hasil dari adopsi Internet, picture, video ataupun artiket-artiket yang dikemas menjadi menarik dengan memanfaatkan power-point atau Adobe photoshop. Mungkin disinilah sahabat-sahabat saya terus ingin tau. Mereka tidak pernah malu bertanya, dan ketika dibuatkan tugas tidak ada yang ketinggalan, walapun ada tugas yang kurang tepat. Tetapi setelah dijelaskan, diluruskan, sampai kapanmu mereka akan mengingatkannya.

Yang menjadi pengalaman saya dalam proses belajar-mengajar di SMPN 5 Sawang Kab. Aceh Utara, adalah ke akraban dengan siswa, disamping itu apapun yang diterapkan dalam pembelajaran mereka akan berjuang terus untuk dapat menyelesaikannya dengan baik. jika hasilnya tidak memuaskan, akan terlihat rasa kecewa diraut wajah mereka. Dari itulah, saya tidak ingin mengecawakan sahabat-sahabat saya, malam-malam jarang saya gunakan waktu untuk tidur penuh, biasanya saya tidur rata-rata 4 jam setiap malamnya. Karena tugas saya sebagai Operator Sekolah, juga mempersiapkan media pembelajaran untuk sahabat saya tersebut.

Harapan saya, sahabat-sahabat saya tersebut, yang sudah dibekali secuil pengetahuan tentang kemajuan zaman, akan lebih bermanfaat suatu saat nanti dan mereka dapat menempuh sekolah yang lebih maju, jangan lagi diwilayah terpencil itu. Saya menyarankan kepada semua guru-guru seluruh Indonesia, jadikanlah siswa itu sebagai sahabat, jangan membuat mereka takut kepada guru, karena jika mereka takut kepada guru tugas belajar yang mereka kerjakan hanya karena keterpaksaan saja, bukan karena ingin mencapai komptensi. Disamping itu, jika keakraban terbina dengan baik, akan meminimalkan dendam siswa terhadap gurunya. Dan cita-cita saya yang paling besar adalah ingin menempuh S2, serta tetap menjadi guru disekolah terpecil. Hal ini terus saya cita-cita bersama siswa saya, agar mereka dalam menempuh pendidikan, bukan untuk mengejar Gaji Pokok yang besar, tetapi pengambdian yang paling utama. Semoga saja, saya dan siswa saya diberikan kemudahan, dan rizki untuk menggapai ciota-cita tersebut.

http://guraru.org/guru-berbagi/lomba-menulis-bulan-pendidikan-guraru-berhadiah-acer-one-10/

 

Comments (3)

  1. Dan cita-cita saya yang paling besar adalah ingin menempuh S2, serta tetap menjadi guru disekolah terpecil dengan status Hohorer Sukarela. Hal ini terus saya cita-cita bersama siswa saya, agar mereka dalam menempuh pendidikan, bukan untuk mengejar Gaji Pokok yang besar, tetapi pengambdian yang paling utama.
    ===================================
    bener nih ingin tetap jadi honorer … jadi pns itu lebih memudahkan bpk berkarya karena secara finansial bisa menunjang kegiatan belajar …. artinya sudah tidak bingung untuk mencari pengahasilan lagi …. hidup kan butuh materi pak? heeeee …. belum menikah ya? heeeeee
    tetap semangat …… 🙂

    ===============================
    proses belajar setuju Pak Iwan Sumatri

    ==================================
    dekat boleh, terlalu jangan, guru ya guru bukan siswa … ada batasnya 🙂

    • terima kasih atas komentar bapak.
      klo dilihat dari situasi negara sebenarnya tidak memungkinkan di PNS-kan.
      di tempat saya, Aceh Utara butuh 4000 guru mapel, tapi situasi yg terjadi di Aceh UTara memiliki 7000 guru mapel.
      tp berbakti diwilah terpencil itu ada kenikmatan tersendiri..
      gak percaya yuk coba…
      apalagi musim duren hahahahahahahaaha 😀

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar