5

Jadikan Generasi Cerdas Masa Pandemi Meski Sinyal di Desa Terbatas (0)

Malica ahmad October 18, 2020


Dua bulan lalu, ketika saya berkunjung ke Cirebon untuk merawat ibu yang sedang sakit, saya sempat bertemu dengan teman lama. Dia adalah salah satu teman mengajar di salah satu bimbel ternama di Indonesia. Tetapi ternyata, saat ini dia tak lagi mengajar di bimbel. Dia alih profesi mengajar dari tentor menjadi guru akademik di salah satu SD islam yang cukup bonafid di Cirebon.

Senang rasanya bertemu dengan beliau. Karena secara tidak langsung kami bisa berbagi pengalaman mengajar selama pandemi. Yang ternyata kata dia, Pandemi membuatnya menjadi guru yang sibuk dan dituntut mahir teknologi.

Demi sistem belajar mengajar kondusif, setiap guru harus menyiapkan administrasi berupa modul dan latihan soal untuk siswa setiap 2 minggu sekali. Lalu orang tua siswa akan mengambil ke sekolah bahan-bahan pembelajaran tersebut sebagai persiapan proses belajar secara daring dengan menggunakan aplikasi zoom.

Melalui aplikasi zoom tadi, materi untuk siswa disampaikan menggunakan power point atau video agar siswa lebih memahami materi sekaligus merasa seperti melakukan pembelajaran tatap muka.

Di sini teman saya juga bilang, dia cukup tertantang melakukan pembelajaran daring ini.Dia jadi tahu bagaimana mengoperasikan aplikasi zoom secara maksimal menggunakan laptop atau smartphone untuk pembelajaran di kelas. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan aplikasi tersebut.

“Saya jadi melek teknologi banget, Bu Lica. Pokoknya selama ada laptop atau smartphone memadai, kuota internet lancar, dan materi-materi penunjang guru bisa diakses di internet dengan mudah. Kelas yang saya pegang pun akan lancar,” ungkapnya dengan wajah penuh semangat.

Raut mukanya menggambarkan perjuangan guru era digitalisasi tampak nyata. Namun beberapa menit kemudian, semangat itu meredup dari wajahnya. Saya pun penasaran. Kenapa? Pasti ada yang salah.

Tak lama dia bercerita, meski dia mahir teknologi saat ini. Hidup di kota yang mendapat dukungan penuh pembelajaran daring di era digital. Tetap saja ada hal yang membuat cara mengajarnya tidak bisa dinikmati.

Dia khawatir, benarkah semua siswanya akan menyerap semua materi bahasa inggris yang dia ajarkan via zoom?

Sementara dia tahu, tipikal belajar siswa itu berbeda-beda. Dia merasa tidak maksimal mengajar, meski orang tua menjadi pendamping siswa selama PJJ. Dia tetap tidak nyaman. Dia tidak terbiasa dengan pembelajaran daring seperti ini. Apalagi dia paham karakter beberapa orang tua siswa. Setiap orang tua tidak memiliki karakter sama. Ada yang membiarkan anaknya salah dalam mengerjakan tugas atau orang tua yang ingin anaknya mendapatkan hasil sempurna.

Oleh karenanya, tidak sedikit orang tua bertindak sebagai fasilitator saat menemani anaknya belajar jarak jauh. Tetapi ada juga orang tua ikut mengerjakan tugas sang anak.

Di lain sisi, teman saya juga bilang cukup kesulitan mengetahui kemajuan belajar anak setiap harinya. Berbeda jauh saat pembelajaran tatap muka. Guru bisa memantau perkembangan belajar siswa. Yakni mungkin dengan cara menstimulasi anak berupa pertanyaan maupun lembar tugas siswa yang dikumpulkan dan harus selesai saat itu juga.

Kekhawatiran lain pun dia ungkapkan bahwasanya interaksi dengan siswa terbatas. Dia tidak leluasa berinteraksi dengan satu per satu siswa. Karena memahamkan materi untuk usia siswa sekolah dasar secara daring. Ternyata membutuhkan tenaga lebih, juga waktu yang cukup lama.

“Saya kira pembelajaran online lebih ringkas dan praktis, bu,” ungkap saya waktu itu.

“Memang Bu Lica. Pembelajaran daring sangat praktis. Karena kita cukup duduk sembari memanfaatkan teknologi internet. Kita sudah bisa cuap-cuap seru bersama siswa. Tapi terpikir nggak, apakah kedekatan guru dan siswa bisa terjalin sempurna? Saya juga jadi lebih sibuk urusan administrasi sehingga waktu 24 jam rasanya kurang untuk menuntaskan semua pekerjaan sekolah.”

Tak dimungkiri,dampak dari covid 19 memberikan perubahan kepada seluruh masyarakat. Tak terkecuali kepada tenaga pendidik. Jam mengajar dianjurkan tetap sama layaknya mengajar tatap muka. Administrasi sekolah tetap harus dikerjakan dan dikumpulkan ke pihak sekolah tepat waktu. Sistem pembelajaran pun berubah menjadi berbasis online.

Di sini saya mulai bersyukur mengajar di desa. Meskipun tidak ramah sinyal serta sarana maupun prasarana untuk pembelajaran daring tidak begitu komplit seperti di kota. Tetapi kami masih bisa merasakan nikmatnya mengajar.

Kegiatan belajar mengajar kami masih menggunakan metode lama, yaitu tatap muka guna memperjuangkan penerus bangsa mendapatkan haknya dalam belajar. Kami, para pengajar di desa memiliki jargon Jadikan Generasi Cerdas Meski Tinggal di Tempat terbatas. Sekalipun tatap muka, kami tetap memperhatikan anjuran protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam satu minggu, siswa dibuat bergilir masuk ke sekolah. Di mana masing-masing kelas harus berisi 5 siswa saja. Itupun siswa tidak dianjurkan untuk masuk setiap hari. Seminggu, siswa cukup mengikuti kegiatan belajar selama 4 hari saja. Selain tidak ramah sinyal, ruangan di sekolah dipakai bergantian dengan kelas besar, yaitu kelas 4,5,dan 6 sekolah dasar yang jumlah siswanya lebih banyak dibandingkan kelas kecil.

Dua hari sisanya, adalah jatah guru untuk berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya guna memantau siswa belajar dari rumah bersama orang tua.

Proses pemantauan tersebut, guru tidak memberikan tugas mengerjakan soal. Tetapi lebih kepada praktik, seperti praktik salat, wudu, membaca doa-doa pendek, surat-surat pendek, atau bahkan membuat keterampilan dari bahan sederhana yang ada di rumah.

Tidak ramah sinyal memang menjadi kendala kami dalam pembelajaran daring di desa. Namun ada yang lebih urgent. Tidak semua orang tua siswa memiliki smartphone atau laptop canggih meskipun zaman sudah berbeda, jauh lebih modern dari sebelumnya.

Dan ternyata kendala-kendala di atas tidak hanya kami yang merasakan. Dikutip dari berita news.detik.com, data dari Kemendikbud pada bulan juli lalu sejak diberlakukan pembelajaran dari rumah. Di Indonesia terdapat 8.522 sekolah belum memiliki listrik. Dan juga 42.159 tidak ada akses internet. Inilah tantangan sekaligus peluang dari pembelajaran jarak jauh dari pemerintah. Sehingga dari saya pribadi berpendapat bahwa pendidikan Indonesia perlu dibenahi.

Selama hampir dua bulan para pendidik di sini melakukan home visit demi pembelajaran di masa pandemi tetap berjalan lancar. Namun ternyata dari pihak kecamatan memberlakukan peraturan baru. Apa pun alasannya, pembelajaran tatap muka tidak diperbolehkan. Kegiatan belajar harus dilaksanakan secara daring, bagaimanapun caranya.

Memang, aturan baru tersebut tujuannya tidak lain mencegah adanya penyebaran covid 19. Tetapi bagi kami, para pendidik harus memutar otak kembali. Bagaimana bisa tetap mematuhi aturan pemerintah sekaligus kegiatan belajar mengajar di desa tidak berhenti? Sementara sinyal terbatas, gawai maupun laptop tidak semua orang tua mampu memfasilitasi.

Hingga suatu hari, saya menemukan artikel sangat bagus di kompas.com tentang sebuah komunitas di Desa Margosari, Pringsewu, Lampung melakukan pembelajaran daring tanpa kuota internet. PJJ bisa berlangsung on air, online, dan on land menggunakan alat radio transistor, walkie talkie, mini computer, dan tv tabung.

Computer dimanfaatkan untuk Siaran dari sekolah sekaligus persiapan bahan ajar yang nantinya bisa ditampilkan di TV tabung yang menggunakan converter HDMI to RCA.

Sementara interaksi guru dan siswa menggunakan walkie talkie. Tak lupa, agar bisa tersebar luas di daerah yang minim sinyal, on air para guru disebarluaskan melalui jaringan radio komunitas. Keren, kan? Ternyata pandemi juga menuntut kita menjadi sosok kreatif.

Nah, saya pribadi ingin ATM pembelajaran tanpa kuota tersebut di desa. Apalagi setelah mendengar ada lomba guraru yang salah satu hadiahnya laptop acer. Wah, saya tergiur dong!

Mulai deh berandai-andai jika laptop acer tersebut bisa saya bawa pulang. Acer Aspire 5 Magical color merupakan laptop keluaran baru dari Acer Indonesia. Di mana laptop ini didesign untuk para anak muda yang gemar tampil gaya. Baterai tahan lama selama 11 jam. Teknologi Exo Amp Antena memungkinkan mampu menerima wifi lebih luas sampai dengan 360 derajat.

Sumber gambar: harapanrakyat.com

Keunggulan lain dari Acer Aspire Magical color ini telah didukung prosesor Intel Core i3 generasi ke-10 dengan memori Intel SSD Optane berkecepatan tinggi. Body tipis, ringan dan stylish menjadikannya lebih berkelas, serta bisa dijadikan laptop andalan yang akan mendukung mobilitis tinggi siapapun penggunanya.

Tidak hanya itu, Acer Aspire Magical color juga unggul di Artificial Intelligence (AI) bawaan. Intel 10th Gen Processor mampu menyelesaikan pekerjaan online termasuk perihal perangkat mengajar dengan lebih cepat dan lancar. Integrasi dari teknologi Intel Wi-Fi 6, dan Thunderbolt 3 menyediakan konektivitas nirkabel dan kabel yang cepat, andal, dan fungsional.

Akan sangat beruntung apabila laptop Acer tersebut digunakan untuk pembelajaran daring di desa kami. Selain akses cepat, fitur canggih akan sangat membantu pembuatan bahan ajar sekaligus proses belajar-mengajar semakin modern dan menyenangkan.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (5)

  1. Di sekolah tempat aku ngajar, guru dah jumpalitan pakai berbahai cara inovatif. Masalah internet pun nggak ada. Tapi yang jadi masalahnya adalah di motivasi siswa Mbak. Sedih! Dah kita bikin materi sekreatif mungkin, nggak disimak. Dikasih tugas pun mengandalkan guru les.

  2. Bisa dibayangkan sulitnya mengajar ya Bu kalau sinyal byarpet di daerah. Tapi guru tetap harus semangat dan optimistis karena anak-anak juga butuh pelajaran dari guru. Memang PJJ dituntut lebih kreatif ya, biar anak ga bosan karena ga bertatap muka langsung. Kalau bertemu langsung, jamnya terbatas, juga jadi problem tersendiri. Yang jelas teknologi hadir buat memudahkan, jd mesti dimanfaatkan. Kayak laptop Acer Aspire magical Color, prosesor generasi ke-10, bakalan kenceng tuh buat nulis atau ngdit video belajar, hehe. Selamat bertugas bapak ibu guru semua!

  3. Selamat Malam Ibu Lica 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar