2

Inspirasi Pagi (0)

Zubaili January 14, 2021

Suara azan bergemuruh saling sahut menyahut antara satu mesjid dengan mesjid yang lain mengajak hamba-Nya bangun dan mengerjakan kewajibannya melaksanakan shalat subuh. Baik berjamaah maupun munfarid (dibaca: sendiri). Ini awal kisah inspirasi di pagi hari. Suara azan menjadi inspirasi bagi saya, bagaimana tidak, muazin yang saban subuh ikhlas dan rela bangun pagi-pagi sekali berangkat menuju ke mesjid, menghidupkan microphon, membangunkan dan mengajak kaum muslimin untuk shalat subuh, bahkan ada diantara mereka yang rela berjalan kaki ratusan meter dikelamnya malam demi untuk menghidupkan syiar Islam. Mereka tidak mengharapkan pujian dari orang lain, tidak mengharapkan gaji karena memang kebanyakan dari mereka tidak bergaji, tapi mereka yakin kelak Allah akan membalasnya dengan gaji yang lebih bernilai bagi hamba-Nya. Sedang kita yang mendengar suara azan terkadang santai dan cuek, bukannya bangun shalat berjamaah ke mesjid, atau shalat sendiri saja di rumah. Kadang-kadang shalat sendiri saja malasnya minta ampun. Bahkan tak segan-segan selimut yang terbuka yang sudah jauh dari tubuh kita, kembali kita raih untuk menutupi tubuh kita. Kita lupa atau sengaja pura-pura lupa akan dahsyatnya azab bagi orang yang meninggalkan shalat.

***

Saya bergegas bangun mematikan suara alarm hp yang juga berdering bersamaan dengan suara azan, dan juga mematikan kipas angin yang sudah bekerja nonstop mendinginkan tuannya dari semalam, hehe. Lalu mandi, dan shalat.

Selesai shalat, seperti biasa sarapan pagi sudah terhidangkan di meja makan yang dipersiapkan oleh istri tercinta. Dan ini saban hari dilakukan oleh istri tak terkecuali hari minggu. Sebuah inspirasi bagi saya di pagi hari untuk bersemangat dalam mengajar. Secara tersirat, istri mengajari saya bagaimana dia begitu ikhlas menyiapkan sarapan setiap hari kepada suaminya tanpa paksaaan. Tanpa mengharap pujian atau upah dari suaminya tetapi semata-mata mengharapkan ridha dari Allah Swt sebagai imbalan baktinya terhadap suami.

Tidak hanya menyiapkan sarapan pagi, seperti biasa selesai makan saya langsung bergegas keluar dengan memakai tas rangsel kesayangan saya, di depan pintu sepatu yang sudah disemir juga sudah ia letakkan untuk saya pakai.

Kemudian kami saling bersalaman pertanda izin pamit menuju ke sekolah. Sibuah hati nan jelita ikut menjulurkan tangannya untuk bersalaman, dari raut mukanya nampak dia sangat ikhlas orang tuanya menjadi seorang guru.

Bel ganti pelajaran pun berbunyi, tulisan yang saya tulis sambil duduk di meja piket sekolah ini terpaksa saya sudahi sampai di sini dulu, Insya Allah tulisan ini masih ada sambungannya yang juga menginspirasi saya. Ditunggu dan jangan lupa dibaca, kalau ada kata yang salah dalam penulisannya, teguran dari kawan-kawan pembaca sangat diharapkan.

Terima kasih.

#Akhii

Tagged with: , ,

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar