3

Inspirasi Hidup dari Penjual Asongan| Kisah Nyata (0)

Zubaili January 15, 2021

“Bruuuumm..” suara kereta butut yang saya ambil di showroom 15 tahun silam mulai meraung. Memberi isyarat Saya akan segera berangkat dan meninggalkan istri dan si buah hati nan jelita untuk sementara waktu. Ucapan salam dan diikuti lambaian tangan secara perlahan-lahan membuat jarak kami semakin jauh, semakin jauh, jauh, dan akhirnya menghilang mengikuti arus jalan bebatuan.

Dalam perjalanan menuju ke sekolah Madrasah Tsanawiyah Swasta Keutapang Dua (MTsS Keutapang Dua, Aceh Besar) tempat saya mengajar saat ini, dari kejauhan nampak samar-samar seseorang laki-laki yang berjalan kaki membawa barang dagangan, ia berjalan pelan tapi dengan semangat yang membara. Semakin dekat jarak saya dengan ia, semakin jelas nampak tubuh laki-laki tersebut dengan pakaian yang bersih. Tiba-tiba Saya terkejut.

“Subhanallah, sangat jarang orang yang seperti ini dizaman sekarang. Sungguh mulia hati penjual ini, semoga Allah mudahkan urusannya, dan Allah lapangkan rezekinya.” Gumam saya dalam hati secara spontan.

Bayangkan, Sobat! Bagaimana saya tidak terkejut, hal yang serupa pasti akan kalian rasakan jika melihat kejadian seperti ini. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, bukan cerita dongeng, bukan kabar burung. Seorang laki-laki yang berusia lebih kurang 40 tahun membawa barang dagangan dengan berjalan kaki sambil menawarkan barang dagangannya kepada orang-orang yang dia hampiri.

Banyak pedagang yang lain yang menawarkan barang dagangan seperti halnya yang Bapak ini lakukan yaitu dengan berjalan kaki, tetapi yang membedakannya adalah Bapak ini membawa barang dagangannya dengan berjalan kaki, dan kaki yang digunakan hanya satu kaki. Sekali lagi saya ulangi, beliau menggunakan satu kaki, karena kaki satunya lagi sudah tidak beliau miliki lagi. Entah apa penyebabnya beliau seperti ini, saya kurang tahu. Sangat terharu melihatnya.

Siapa saja yang melihatnya pasti merasa iba, bayangkan disaat sebagian orang yang kadang-kadang tidak memiliki kekurangan seperti beliau (tidak cacat) tapi masih malas bekerja, malas mencari nafkah, tetapi demi mencari rezeki yang halal beliau tidak memperdulikan kekurangan yang beliau miliki.

Beliau malu menjadi peminta!

Bayangkan cukup banyak di sekitar beliau yang sama seperti kondisi beliau atau yang tidak cacat tapi lebih senang mencari jalan pintas dengan meminta-minta demi meraup peng griek (dibaca: uang recehan) yang menggiurkan. Mereka tak segan-segan meminta-minta di lampu merah, masuk warung-warung dengan membawa kotak sumbangan, dan lain sebagainya. Tetapi tidak dengan beliau. Padahal dengan kondisi seperti beliau, saya yakin seandainya beliau menjadi seorang peminta pasti akan sangat banyak yang iba, dan memberikannya.

Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Sosok Bapak ini bisa dijadikan inspirasi dan motivasi kita dalam kehidupan sehari-hari.

Tak perlu diperbanyak kosakata. Mari kita renungkan!

#Akhii | Zubaili

Comments (3)

  1. Luar biasa.

    Sedikit cerita juga tentang tetangga belakang rumah saya PAS. Beliau adalah seorang ibu yang berprofesi sebagai pemulung. Saya pernah bercengkrama dengannya dulu dan prinsipnya ” saya tidak malu memungut gelas/botol bekas ditiap sudut jalanan bahkan jika ada ditempat sampah. Dari pada harus mengemis sambil membawa anak. Saya tidak tega”

    Jawabnya. Sungguh menggetarkan hati.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar