6

Inilah Alasan Guru Harus Optimis Mendidik Siswa (0)

Supadilah S.Si October 24, 2021

Ada lima jenis kebahagiaan. Pertama, bahagia sehari. Jika ingin bahagia sehari maka sempatkan tidur siang. Itu akan membuat bahagia. Kedua, bahagia seminggu, yaitu weekend. Manfaatkan akhir pekan betul-betul untuk mengistirahkan fisik dan menikmatinya. Tradisi weekend itu berasal dari Barat. Di sana, masyarakatnya bekerja sungguh-sungguh pada hari kerja. Karena itu ketika akhir pekan tiba, mereka betul-betul menikmatinya. “Persoalannya, di kita weekend itu tidak banyak bedanya karena kita tidak banyak bedanya antara bekerja dan santai”, jelasnya.  Ketiga, bahagia sebulan. Caranya dengan menikah. Maka ada istilah “bulan madu”. Keempat, bahagia setahun. Caranya dengan memperingati hari ulang tahun kita. Dan yang terpenting adalah bahagia sumur hidup. Caranya adalah dengan menikmati profesi kita. Termasuk dalam hal ini adalah menikmati aktivitas mengajar.

Guruharus yakin dengan adanya siklus kebaikan. Saat ini kita menolong peserta didik yang merupakan anak oranglain, namun di suatu waktu bisa jadi kita atau keluarga kita yang ditolong. Kerja keras dan kesungguhan dalam mendidik merupakan upaya menciptakan kebahagiaan di masa depan.

Mendidik merupakan investasi kebaikan. Saat mendidik kita menanam, kelak kita akan mendapati mereka yang ada yang menjadi orang besar atau pemimpin negeri ini. Paling tidak, mereka menjadi orang yang mendoakan kita saat meninggal kelak. Semakin banyak peserta didik yang terinspirasi makin banyak pula investasi kebaikannya. Guru akan mendapat pahala dari menunjukkan dan membimbing kepada kebaikan.

Nabi Muhammad SAW mengatakan,   ”Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).

Maka, sungguh beruntung mereka yang berprofesi guru, yang orangtuanya guru,  yang pasangan hidupnya guru, yang anaknya guru, atau temannya guru. Mudah-mudahan juga mendapat cipratan ilmu dan pahala yang dari  sang guru. Ilmu yang diajarkan kepada siswa kelak akan memberikan balasan yang tidak hanya di dunia saja melainkan hingga ke akhirat kelak.

Tengoklah wajah para peserta didik. Wajah-wajah yang menantikan curahan ilmu dari lisan guru, mendambakan inspirasi dari perbuatan dan laku sang guru. Pada guru harapan tersematkan untuk menunjukkan dan menuntun jalan kehidupan. Karena itu janganlah sia-siakan harapan mereka. Dengan mengingat ini, semoga guru senantiasa bersemangat dalam mengajarnya.

Sekarang ini profesi guru menjadi incaran banyak orang. Kampus-kampus yang keguruan yang mencetak calon guru membludak peminatnya. Mudah-mudahan calon guru, atau yang sudah menjadi guru mempunyai ketulusan hati mengabdikan diri kepada bangsa.

Jika ada yang mengatakan bangsa ini krisis keteladanan, maka dari sekolah keteladanan itu dilakukan. Guru sesungguhnya pihak pertama dan utama yang harus optimis bahwa perbaikan diri, masyarakat, dan bangsa sangat mungkin dilakukan dengan pendidikan. Optimisme itu haruslah menjadi kontruksi diri guru yang terinternalisasi dalam tindakan guru. Optimisme guru merupakan setengah jalan dari keberhasilan memajukan pendidikan. Perlu disadari bahwa optimisme beresonansi. Guru yang optimis akan melahirkan peserta didik yang optimis pula.

Esensi dari pendidikan adalah proses membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan potensinya. Guru senantiasa berusaha menemukan ‘versi terbaik’ dari peserta didik. Itulah mengapa guru senantiasa perhatian, mengarahkan, dan membimbing peserta didik. Harapan agar anak didiknya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (6)

    • Sepakat, Bu. Jadi gimana pun masalahnya guru, dia harus terlihat bahagia di depan siswanya ya. Kadang agak susah, tapi mau tidak mau dilakukan. Bu, terima kasih ya sudah dikomentari.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar