2

Ingat Covid Ingat Masker; Sejatinya Ingat Covid Ingat Ibadah dan Belajar dengan Tekun (0)

Bai Ruindra October 18, 2020

Di Aceh – mungkin di daerah lain juga demikian – beredar poster dan spanduk di mana-mana dengan tagline ‘Ingat Covid Ingat Masker’. Memang tidak masalah dengan slogan tersebut dan seharusnya ada untuk melindungi masyarakat dalam beraktivitas.

Pemerintah Aceh Kampanyekan Pemakaian Masker Melalui Stiker Mobil - Dinas  Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Ingat Covid, Ingat Masker- Sumber: DLHK Aceh

Tentu, bagi siapa yang sadar. Di mana masyarakat kita sangat beragam sedangkan slogan begitu saja sebagai ‘bacaan’ tetapi penerapannya masih kurang.

Spanduk besar berwarna merah dan putih dominan itu tidak saja di jalan raya tetapi di kantor-kantor pemerintah maupun swasta juga terpampang dengan indahnya.

Dari itu semua adalah kesadaran dari masing-masing untuk berbenah atau tidak. Kondisi yang kini sulit ke mana-mana harus menggunakan masker, sampai belajar juga harus bermasker dan menjaga jarak antar siswa.

Masker ‘cuma’ bagian dari penutup wajah tetapi tidak bisa menutupi semua ‘ketelanjangan’ yang ada di diri manusia.

Pakai masker saja ke sekolah – atau ke mana-mana – tanpa diikuti dengan niat baik serta amalan lain, masker hanya akan menutupi dari hal-hal kasat mata tetapi tidak memenuhi semua keinginan; seperti meminta pertolongan kepada-Nya.

Selama pandemi Covid-19 ini, sangat jarang sekali kita mendapati anjuran untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pemerintah yang sibuk dengan ‘tahta’ dan ‘keangkuhan’ hanya mengutuskan materi sebagai pemecahan masalah.

Kementerian Agama yang sejatinya memberikan amanat khusus kepada seluruh umat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, malah sibuk mengurusi hal-hal tidak penting seperti isu SARA dan pemecahan umat.

Maka, dari sini, tugas kita sebagai guru untuk membimbing anak-anak agar jauh dari musibah. Saat ini, hanya diri kita sendiri yang menjaga dengan baik kondisi, memberikan tenaga lebih besar dan memberikan pesan lebih singkat sehingga orang lain menerima dengan baik.

Masker tetaplah kita pakai.

Anak-anak yang bersekolah tidak cukup dengan memakai masker saja. Lingkungan sekolah yang kotor juga akan membuat suasana belajar tidak tentram; bahkan kuman menyakit menjelma menjadi kutukan mematikan yang membuat anak-anak rentan sakit.

Kita tidak saja menjaga diri dari satu penyakit. Covid-19 memang diagungkan setinggi dewa tetapi demam berdarah – misalnya – karena lingkungan sekolah kotor bisa lebih parah pengaruhnya untuk kelangsungan sekolah bersih.

Kebersihan adalah sebagian dari iman.

MAN 2 Aceh Barat sebelum masuk ke belajar normal di Juli lalu membersihkan sekolah secara keseluruhan, termasuk penyemprotan disinfektan.

Suasana belajar yang dinanti-nantikan oleh anak-anak menjadi sebuah keharusan yang penting dalam segala definisi.

Penyemprotan Disinfektan di MAN 2 Aceh Barat

Anak-anak yang datang ke kelas harus mendapatkan pelayanan terbaik agar mereka terhindar dari penyakit. Belajar yang aman dan nyaman juga dimulai dari lingkungan sekolah yang bersih.

Bau sampah dibawa angin membuat kita harus menutup indera penciuman; tidak cukup dengan masker saja.

Daun-daun yang jatuh lama-kelamaan akan membusuk yang akibatnya lebih parah dari yang dibayangkan.

Semua adalah sarang kuman dan bakteri. Semua itu bisa membawa penyakit untuk imum yang kurang kuat.

Bersih-bersih Perkarangan Sekolah

Misteri Covid-19 yang datang mendadak memang belum terpecahkan. Katanya, karena suatu bangsa menyantap makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi, lepas dari fakta yang benar dan salah, lingkungan kita sendiri haruslah bersih.

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Belajar saja tidak cukup dengan sampah berserak di mana-mana. Belajar saja bukan solusi saat bau dari mana saja. Belajar saja tidak akan membawa manfaat ketika lalat berkeliaran di seluruh kelas bahkan lingkungan sekolah.

Belajar butuh ketenangan. Lingkungan yang bersih. Sehingga membersihkan lingkungan sekolah saat itu, membuat sekolah kami lebih indah dilihat dan lebih asri dari yang diinginkan.
Kesehatan mesti diperhatikan.

Lingkungan sekolah yang bersih tidak cukup untuk membuat anak-anak terlindungi. Anak sekolah yang masih dalam masa pertumbuhan, masuk ke dalam kelas jangan sampai sering-sering mengantuk dan malas-malasan.

Kesehatan tetaplah dijaga.

Puskesmas terdekat dari sekolah kami sangatlah rutin memeriksa kesehatan anak-anak. Tiap kelas mendapatkan perhatian khusus. Begitu pula pada masa new normal di mana petugas kesehatan datang untuk memberikan penyuluhan serta memeriksakan kesehatan anak-anak di sekolah kami.

Anak-anak yang sehat belum tentu imumnya kuat. Sehat dari luar di dalam siapa yang tahu. Pemeriksaan yang dilakukan memberikan dampak yang bagus untuk kesehatan anak-anak.

Bagi anak yang mendapatkan gejala tertentu akan langsung direkomendasikan ke Puskesmas atau bahkan ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan penanganan lebih baik.

Demikian kita menjaga agar tubuh selalu sehat, bukan saja takut kepada satu penyakit yang mungkin sudah berlalu.

Berdoa untuk meminta pertolongan.

Masker hanya menutupi fisik. Doa dan bermunajat kepada-Nya adalah cara terbaik agar terhindar dari segala penyakit. Ibadah kita kepada Allah adalah kewajiban untuk meningkatkan derajat masing-masing. Kita lupa kepada Pencipta, tetapi Yang Maha Kuasa tidak demikian.

Sudah berapa banyak kita berdoa agar bala di negeri ini segera usai? Ataukah kita cuma mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak? Mungkinkah kita terlalu sibuk mengikuti work from home atau belajar dari rumah?

Jumat pagi anak-anak mengaji selama 15 menit sebelum masuk jam pelajaran. Kehidupan new normal tidak saja dinilai belajar di dalam kelas, mendapatkan nilai lalu pulang. Kita butuh pendekatan lain agak semua terhindar dari apa yang tidak kita inginkan.

Salat berjamaah di sekolah kami kembali dilaksanakan. Doa dalam salat dan sesudah salat adalah harapan untuk kehidupan lebih baik, dikuatkan ingatkan pelajaran seharian, maupun terhindar dari penyakit yang sedang heboh sendiri.

Salat dan berdoa untuk meminta tolong kepada-Nya

Kita yang mengajarkan anak-anak dan memberi contoh untuk mereka. Dengan demikian, belajar sesungguhnya di sekolah terjadi tanpa pamrih!

Artikel ini ditulis untuk #WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Penulis: Ubaidillah
Sekolah: MAN 2 Aceh Barat
Profil: Mohon cek pada keterangan ‘About’ maupun klik di media sosial penulis.

Comments (2)

  1. Selamat Malam bapak Bai 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar