1

Ikut atau Hanyut dalam Era Digital ? Kita Yang Memilihnya (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 12, 2021

Tujuan dalam pembelajaran di era digital industri 4.o salah satunya mempersiapkan peserta didik untuk siap menghadapi segala ragam kehidupan yang serba digital, cepat, lintas sektoral. Peserta didik mulai disiapkan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan dan mulai mengenal segala kemajuannya. Paradigma dan cara berpikir peserta didik ini untuk siap segala kemungkinan yang terjadi di abad yang tidak tentu ini dan sangat tidak stabil, sehingga harus terus menerus mengupdate segala perkembangan yang ada.

Baru saja peserta didik mengenal era digital, dunia dikenalkan lagi dengan society 5.0. Dimana semua akan mengalami perubahan orientasi, yaitu orientasi untuk kesejahteraan manusia secara jasmani dan rohani. Pemikiran manusia dengan adanya segala macam kemudahan, kerja manual yang dapat di digitalkan, robot sudah banyak berperan , kemudian manusia sudah mulai tersadarkan dan kembali kepada kemanusiaannya. Sebenarnya apa yang ingin dicapai dari puncak pencapaian suatu kemajuan teknologi yang, yaitu kemanusiaannya itu sendiri. Alat dan teknologi idmaksimalkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan manusia di dunia.

Manusai indonesia sebagai bagian dari dunia tentunya tidak bisa lepas dari perubahan yang terjadi. Pendidikan yang saat ini berlangsung juga seharusnya mengalami adaptasi untuk dapat mengakrabi perubahan agar manusia Indonesia tidak tersingkir dari perubahan dan tidak dapat mengambil peran dalam kehidupan. Perubahan yang ada tentu tidak semulus yang di teorikan. Setiap perubahan tentu ada energi yang diperlukan untuk mengadaptasi.

Pendidikan di masa milenial ini dan sekarang sedang dalam masa pandemi ada beberapa komponen yang terlibat dalam masyrakat perubahan. Masyarakat perubahan yang dimaksud adalah komponen masyarakat yang pasti terkena imbas perubahan. Pandemi Covid 19 seakan sebuah pemaksaan bagi masyarakat untuk bertransformasi. Sehinggaada beberapa komponen yang belum siap dalam menghadapi perubahan.

Komponen masyarakat dalam pembelajaran di era pandemi milenial ini adalah orang tua. Karakter orang tua yang merupakan terdiri dari beberapa generasi yang berbeda. Ada karakter orang tua yang kurang familiar dengan teknologi dan perubahan. Ketidak familiaran ini bisa jadi karena sarana yang dimiliki tidak ada karena adanya perbedaan kesejahteran atau kemampuan ekonomi orang tua yang kurang, sehingga akan memunculkan sikap apatis karena tidak familiar terhadap perubahan yang ada. Tetapi ada juga orang tua yang familiar dengan kondisi yang ada, sehingga menyikapi kebijakan pemerintahan dalam bidang pendidikan lebih cenderung mengikuti dan mengkritsi secara bijak. Perbedaan masyarakat sperti ini yang harus dihadpi pemegang kebijakan baik ditingkat sekolah ataupun tingkat yang lebih tinggi. ditambah lagi dengan sistem pembelajaran yang klasikal dengan rombongan belajar yang relatif banyak dan jumlah guru dan sarana yang hanya sesuai dengan pembelajaran tatap muka klasikal.

Tantangan yang dihadapi lagi adalah birokrasi yang vertikal terkait sekolah. Ketika perubahan yang terjadi relatif cepat maka terjadi kekurang sinergisan dalam suatu hubungan birokrasi. Karakter birokrasi yang cebderung formal ini menjadi terkendala. Sekarang sudah mulai adanya rapat atau forum diadakan secara virtual untuk mengatasi ketika ada perubahan yang memerlukan kebijakan secara cepat. Produk kebijakan inipun relatif harus cepat terdistribusikan dengan tidak mengabaikan legalitasnya. Sebuah SK atau SE dari birokrasi sekarang banyak menggunakan digital dengan aplikasi dan atribut legalitasnya sperti barcode, QR Code dan lain sebagainya. Yang menjadi pemikiran adalah pelaku birokrasi ini apakah secara kompetensi dan sarana pendudkungnya menunjang perubahan ini.

Komponen masyarakat perubahan yang lain ini adalah media sosial. Media sosial sekarang bukan hanya untuk kirim berita atau berkomunikasi tetapi lebih dari itu sekarang menjadi suatu realitas yang mencerminkan akhlak dari seseorang dalam berinteraksi dengan media sosial. Di Media sosial ada 2 kutub masyarakat berdasarkan karakter mensikapi media sosial yaitu yang pertama menyikapi media sosial sebagai sarana untuk beraktuaisasi diri, meningkatkan keompetensi dan pengetahuan, relasi dan kolaborasi untuk hal positif. Karakter yang kedua adalah karakter yang cenderung reaktif dan mudah terprovokasi dan sibuk membahas sesuatu yang kurang produktif di media sosial , karakter ini merupakan sasaran empuk para influencer, buzzer untuk dijadikan komoditas pendapatan mereka.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar