6

Ice Breaking, go! (+5)

Umi Azzurasantika February 21, 2014

 

Menjadi MC (=Master of Ceremony) tidaklah mudah bagi saya. Untuk bisa memandu acara, supaya menjadi cair adalah sesuatu yang sangat sulit saya lakukan. Namun, mungkin dengan bekal kecerewetan (=ngaku), dan terbiasa bicara di depan kelas, seperitnya. Saya berusaha ceplas ceplos agar suasana menjadi friendly, enjoy, dan berusaha menjaga suasana selalu segar.

Seperti tadi siang, waktu sudah menunjukkan pukul 12.15 siang. Biasanya waktu-waktu ini adalah waktu makan siang, kalau tidak mata sedang ngantuk-ngantuknya pingin tidur siang. Di ruang Tata Kecantikan Kulit, anak-anak kelas x, xi, xii kecantikan sudah siap-siap mendengarkan demo penataan rambut dan make up bridal internasional dari Martha Tilaar. Pada acara ini saya kebagian sebagai pembawa acara. Kondisi saya tadi pun sebenarnya kurang sip, karena baru saja melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Tapi demi tugas saya harus tetap melaksanakan.

Assalamu’alaikum….

Selamat pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,

saya awali acara.

 Anak-anak menjawab,

pagiiiiiiiiiiiiii, heeeeeeeeeeeeeee, siang buuuuukkk,

 kata mereka.

Saya sengaja memberikan salam selamat pagi agar mereka lebih bersemangat. Dan saya ulang salam saya.

Semangat pagiiiiiiii…

Pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,

ternyata mereka menjawab lebih keras dan lebih bersemangat. Sambil mereka senyum maniiiiiiissss sekali. Membuat lega perasaan saya. Semakin membuat saya bersemangat untuk membawakan acara.

 

============

 

Pembuka dengan ice breaking

 

Kalimat pembuka adalah hal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam membawakan sebuah acara dari awal, tengah hingga akhir. Sama seperti guru, ketika dalam mengajar diawali dengan pembukaan tidak menarik, maka sepanjang mengajar pasti akan terbawa suasana menjadi tidak menarik. Namun jika pembuka sudah di awali dengan memecah suasana (=ice breaking), dimungkinkan suasana akan lebih cair, sepanjang waktu mengajar juga anak-anak akan lebih fresh pikirannya, bisa menerima ilmu dengan baik.

Ice breaking bisa dilakukan di awal pembelajaran maupun di akhir pembelajaran. Selama ini yang menjadi pengertian guru, bahwa membuka pembelajaran adalah dengan memberikan salam, berdoa, presensi. Sedangkan penutup dalam akhir pelajaran kalimat yang terucap adalah karena bel sudah berbunyi, atau waktu sudah habis, pemberian tugas dirumah berupa PR, piket, berdoa. Padahal jika mau, ice breaking bisa dilakukan dengan cara kreatif sehingga bisa membuka pola pikir siswa agar bisa menerima pelajaran dengan baik. Misalnya kita bisa saja dengan memberikan tebak-tebakkan yang  lucu, game yang mengingatkan pelajaran sebelumnya, dan sebagainya. Dengan seperti itu anak-anak tidak akan merasa tegang ketika masuk pelajaran. Apalagi kalau gurunya sudah tidak bisa senyum J hehehe. Sedangkan untuk ice breaking dalam menutup pelajaran bisa saja dengan kuis, berupa pertanyaan ringan, yang bisa difungsikan untuk mengingat materi pelajaran yang telah dipelajari selama pembelajaran tadi.

Jika kita mau berinovasi dalam pembelajaran, anak didik kita pasti senang dengan pembelajaran kita. Mereka pasti akan selalu menanti kita untuk selalu datang di kelas mereka.

 

Selamat berkarya para pendidik generasi muda!

***

 Jumat, 21 Pebruari 2014

 Umi Azzurasantika

 

Comments (6)

  1. hehe om Jay semoga selalu ada terus ya yang baru …

    pak Tri GP semoga ice breaking nikmat di pagi hari tambah nikmat bersama kopi di malam hari 🙂

    trima kasih apresiasinya pak M Yusuf….

    mengajar memang selalu asyik.

    salam untuk semuanya saja, selamat malam selamat menikmati tuth2 yang setia menemani bersama mouse disamping selalu

    🙂 🙂 🙂 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar