0

IBADAH RUH DAN JASAD (0)

@ahysholih February 10, 2021

Selayaknya tubuh, ibadah yang Allah SWT syariatkan memiliki dua unsur; zahir dan batin, ruh dan jasad. Bacaan terangkai dalam zikir dan doa, gerakan anggota badan saat menunaikan, itulah unsur zahir yang bisa kita dengar dan saksikan. Sedangkan batin dan ruhnya adalah lautan dan kedalaman makna, kehadiran jiwa saat melafalkan setiap bacaan menunaikan setiap gerakan, juga pengaruhnya dalam hati yang kemudian berdampak pada iman dalam hati, ucapan lisan, juga amal perbuatan setelah ibadah ditunaikan.

Oleh sebab itu, ibadah hakikatnya adalah nutrisi bagi hati, maka sudah selayaknya ia memberi pengaruh besar pada jiwa; hati mendapat ketentraman dan ketenangannya, kebahagiaan dan kelapangannya, mendapatkan obat dari segala macam penyakitnya, mendapatkan rehat dari kepenatan dunia dengan segala permainannya.

Lalu bagaimana jika kita sudah shalat dan beribadah sekian lama kpd Allah SWT namun hati tetap gersang dan jiwa hampa? Apa penyebab shalat hanya seperti rutinitas tanpa makna? Mengapa kondisi hati sebelum, saat & setelah shalat sama saja tiada beda?

Mungkin karena kita salah memaknai ibadah; memandang ibadah sebatas bacaan lisan dan gerakan anggota badan, tanpa diikuti dengan ibadah hati. Lisan kita mengucap “Allaahu Akbar” akan tetapi hati kita tidak turut membesarkan & mengagungkan Allah SWT di dalam batin. Hati tidak merendahkan diri dan tidak pula merasa kecil di hadapan Allah SWT. Tujuh anggota tubuh menempel sujud di tanah, sembari lisan mengucap, “subhaana rabbiyal a’laa” akan tetapi hati tidak ikut merasakan Kemahatinggian Allah SWT dan keagungan-Nya, sementara diri tiada merasakan kerendahan diri di hadapan-Nya, bahkan mungkin merasa bangga dan besar diri masih saja bercokol dalam hati. Padahal jika kita perhatikan dengan seksama, semua ibadah kpd Allah SWT senantiasa dikaitkan dengan ibadah hati; shalat, shaum, infak dan sedekah, zakat, haji tanpa kecuali. Mari kita renungkan ayat-ayat berikut,

Pada bagian awal surat Al-Baqarah, Allah SWT berfirman,

“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, menunaikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan shalat merupakan ibadah anggota badan dan infak yang merupakan ibadah harta dudahului dengan iman kepada yang gaib, sedangkan iman kepada yang gaib adalah amalan hati.

Demikian pula dalam Surat An-Naml, Allah SWT berfirman,

Yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya kehidupan akhirat.” (QS. An-Naml: 3)

Di dalam ayat ini, Allah SWT menggandengkan shalat dan zakat dengan al-yaqiin sedangkan yakin adalah ibadah hati.

Dalam surat At-Taubah ayat ke-18, Allah SWT menyebutkan ibadah shalat, zakat, dan memakmurkan masjid beriringan dengan iman kpd hari akhir dan khasyah (rasa takut) kpd Allah SWT. Dan khasyah kpd Allah SWT adalah amalan hati.

Demikian pula shaum diiringi dengan penyebutan ikhlas dan ihtisab, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi;

“Shaum adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya demi Aku.” (Muslim)

Siapa yang menunaikan shaum Ramadhan karena iman dan ihtisab maka diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.”

(Muttafaq’ alaih)

Ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima, Allah SWT menyebutkan di dalamnya ibadah hati berupa ikhlas, syukur, ihsan, sabar, takut kpd Allah SWT, ketundukan dan kepasrahan diri, serta pengagungan (ta’zhim) terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Allah SWT berfirman,

Beribadahlah dengan ikhlas kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar burung atau dihempaskan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah perintah Allah. Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.”

(QS. Al-Hajj: 37)

Dalam ritus ibadah penyembelihan hewan qurban pun, sejatinya yang sampai kepada Allah SWT bukanlah aliran darah dan dagingnya, akan tetapi ketakwaan yang ada di dalam dada pengamalnya. Allah SWT berfirman,

“Daging hewan qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi yang sampai kpd-Nya adalah ketakwaan kamu…” (QS. Al-Hajj: 37)

Tagged with:

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar