0

HYPNOTEACHING, AKTIVASI OTAK TENGAH DAN BELAJAR KONVENSIONAL (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 12, 2021

Pemerintah republic Indonesia sedang menggalakkan revolusi mental. Revolusi ini berarti di segala bidang. Dan yang menjadi prioritas dalam revolusi untuk pembeangunan SDM di masa mendatang addalah revolusi dibidang pendidikan. Pendidikan harus mampu mengatasi perubahan jaman dan menjawab tantangan di masa mendatang.

Belajar merupakan kegiatan sengaja secara sadar untuk merubah tingkah laku. Teori belajar sebelum abad 20 melandaskan pada spekulasi dan filosofi yaitu teori belajar responden, belajar kontinguitas dan belajar observasional serta belajar operant (Dahar, 1999: 14). Sedangkan setelah abad 20 teori belajar terbagi menjadi dua teori besar yaitu belajar Behavior dan Belajar Kognitif. Upaya secara sadar untuk merubah tingkah laku bisa dilakukan dengan pengalaman yang datang dari eksternal maupun internal. Perhatian terhadap insight siswa sudah mulai dilakukan dalam melaksanakan belajar mengajar. Belajar memperhatikan proses informasi yang terjadi dalam kognitif anak dalam hal ini otak anak. Teori belajar yang berbasis otak ini sudah banyak berkembang, dari perhatian pada otak kiri dan otak kanan, dan belajar dengan memperhatikan otak kiri, otak kanan dan otak tengah. Banyak istilah tentang pembelajaran yang mulai muncul dari Hypnoteaching, Aktivas otak tengah dan Belajar konvensional.

Munculnya istilah-istilah baru karena semakin bebasnya orang mengeluarkan pendapat dan idenya, sehingga secara substansi sama tetapi banyak nama yang berbeda. Perubahan nama atau adanya nama baru hal ini terkait branding suatu produk yang dikeluarkan oleh bimbingan belajar maupun oleh lembaga pendidikan. Sehingga perlu kita menelusuri tentang perkembangan teori belajar. Hal ini diupayakan agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas.

Hipnoteaching hal yang baru atau sudah lama dalam teknologi pembelajaran ? Dalam ranah ilmu psikologi tentang efektifitas informasi diserap oleh pikiran manusia tergantung dari konteks dan kontennya. Hal ini sesuai dengan teori belajar yang sudah ada sebelum abad 20 bahwa stimulus yang terkondisi dipasangkan dengan stimulus yang tak terkondisi mempunyai efek yang sama. Perubahan perilaku yang ekstrim akibat adanya stimulus ini mungkin tidak terserap lama, karena kognitif seseorang selalu berkembang. Belajar bukan sulap, yang tidak bisa serta serta merta dapat dilihat hasilnya. Belajar merupakan proses yang mempengaruhi 3 aspek yaitu ranah kognitif, ranah sikap dan ranah psikomotorik.

Aktivasi otak tengah dimasyarakat Indonesia mengalami pro dan kontra. Yang Pro berasumsi bahwa aktivasi otak tengah mampu meringkas atau memberi jalan pintas yang harus ditempuh anak dalam belajar. Sehingga anak cerdas dalam persepsi mereka adalah anak yang luar biasa bisa menghafal, menghitung, dan bahkan dapat menggunakan indera yang optimal baik penciuman maupun pendengarannya. Menurut mereka aktivasi otak tengah bukanlah suatu hal yang magis atau berbau supranatural. Aktivasi otak tengah dilakukan dengan secara ilmiah. Aktivasi otak tengah ini  banyak mempergunakan gelombang otak Alpha. Gelombang otak Alpha di buktikan secara ilmiah adalah gelombang otak yang muncul dominan pada saat kita dalam keadaan relax dan paling kreatif. Gelombang otak ini biasanya dominan pada saat kita bangun tidur, atau dalam keadaan relax di toilet, atau bahkan sedang berendam air panas di bathtub. Tidak heran mengapa Archimedes menemukan hukum Achimedes pada saat dia mandi.  Otak tengah yang teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip seperti radar. Hal ini membuat pemiliknya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup. Pada dasarnya, gelombang tersebut terletak di bawah hidung. Hanya mampu mendeteksi benda yang terletak sedikit di bawah hidung.Latihan yang teratur dapat membuat sang anak menjadi lebih kuat dan mampu melihat benda yang terletak lebih tinggi lagi. Bahkan ada beberapa anak yang dapat medeteksi sampai 360 derajat. Hal itu berarti mereka dapat mendeteksi benda yang terletak di belakang, atas dan semua arah.

Aktivasi otak tengah biasanya hanya diterapkan anak-anak yang masih dibawah umur. Nilai lebih dari aktivasi otak tengah adalah meningkatnya memori dan refleks sederhana dari stimulus luar. Belajar pada tataran lebih tinggi memerlukan tidak hanya kemampuan mengingat dan mengenal, tetapi sudah pada level kritis dan terampil berpikir dalam logika dan analisis. Faktor emosi juga sangat berperan penting dalam keberhasilan belajar. Ketika menggunakan hypno atau aktivasi otak tengah ini maka faktor emosi kurang memperoleh perhatian. Suatu stimulan yang masuk pada waktu respon kepada stimulan yang kurang menyenangkan bisa menjadi tidak efektif atau istilahnya adalah otak dibajak okeh emosi.

Belajar konvensional masih dilakukan di sekolah regular. Sekolah regular menggunakan klasikal yang audiennya mungkin beragam, sehingga paling cocok menggunakan belajar konvensional. Istilah konvensional sering diartikan kuno, tradisional dan stagnan. Belajar konvensional yang dilakukan mengembangkan beberapa aspek dalam kejiwaan dan sikap social anak didik. Jika dilihat dari kacamata belajar berbasis otak ( Brain Base Learning), belajar konvensional melatih dua sisi bagian otak yaitu otak kiri dan otak kanan. Pembelajaran klasikan memungkinkan siswa berinteraksi dengan kawannya sehingga terjadi pembelajaran lewat interaksi social (Vygotsky).

Belajar dalam aspek kognitif menurut taksonomi bloom yang sudah direvisi oleh Anderson dan Krathwol memiliki tingkatan kognitif . Tingkatan yang terendah adalah mengingat (menghafal), level ini biasanya siswa hanya diminta untuk menghafal. Menghafal bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan dalam belajar, karena terkadang dalam suatu matapelajaran tertentu diperlukan menghafal agar tingkatan belajar selanjutnya tidak mengalami hambatan. Menghafal yang berkaitan dengan memori atau ingatan, menjadi masalah jika otak kita tidak dipersiapkan dengan baik. Dalam kegiatan menghafal ada beberapa trik untuk memudahkan hafalan, diantaranya dengan akronim (Jembatan Keledai) dan mnemonic atau lebih mirip dengan analogi. Metode menghafal ini berkaitan dengan memahami yaitu dengan mengetahui pola dari suatu halaman. Menghafal dipandang metode konvensional dalam belajar yang ketinggalan jaman. Menurut pengalaman yang saya alami bahwa dengan menghafal maka sedikit demi sedikit akan memahami dan kemudian muncul kreatifitas dan menganalisis dari tiap bagian yang dihafalkan. Alangkah bijaknya menghafal jangan ditinggalkan dalam tingkatan pembelajaran tetapi dilengkapi dengan proses pembelajaran lain yang mengaktifkan daya nalar dan daya cipta peserta didik. Dalam metode diskusi yang banyak diterapkan dalam pembelajaran jika siswa belum ada pengetahuan dasar sama sekali maka akan mengalami kendala. Maka menghafat dan memahami menjadi prasyarat dalam menerapkan metode pembelajaran yang menuntut daya berpikir tingkat tinggi.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar