7

Hukuman yang tepat untuk nilai siswa di bawah KKM (+3)

mokhamad subakri December 8, 2013

hukuman bagi siswaMendidik tak lepas dari reward dan punishment. Selain hadiah yang membuat siswa semangat untuk meraihnya. Hukuman juga penting bagi tumbuh kembang siswa dalam pendidikan. Dengan hukuman siswa bisa instropeksi diri, siswa bisa belajar menjadi lebih baik lagi, siswa mengetahui aturan-aturan yang membuat dia harus lebih hati-hati, dan siswa bisa lebih giat dalam belajar.

Banyak model hukuman yang diberikan oleh guru dalam rangka memberikan pelajaran berharga bagi siswa. Tidak jarang juga hukuman yang diberikan kadang malah membuat siswa semakin terpuruk baik fisik maupun psikisnya. Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama. Maka yang terjadi siswa akan semakin kesulitan memperbaiki dirinya. Untuk itu diperlukan hukuman yang tepat buat siswa, hukuman yang mendidik, dan membuat siswa segera sadar untuk memperbaiki diri.

Berikut ini contoh hukuman yang tapat dan efektif untuk sisiwa yang tidak mencapai KKM

Jenis hukuman yang saya berikan tergantung dari kesalahan yang mereka buat. Untuk siswa yang mendapat nilai jelek (nalai di bawah KKM), maka hukumannya adalah sujud dan mengucapkan istiqfar dilanjutkan mengucapkan, “Saya akan rajin belajar”. Manfaatnya dari hukuman ini antara lain :

  • Siswa bisa ingat dengan Allah, ketika ingat maka dia lebih tenang, lebih yakin Allah akan membantunya.
  • Dengan mengucapkan kata, “Saya akan rajin belajar” diharapkan secara psikologis di otak bawah sadar siswa tertanam keinginan belajar lebih giat.
  • Dengan posisi sujud membuat aliran darah menuju otak lebih deras. Suplai darah yang lancer ini membuat kebutuhan darah diotak terpenuhi dengan baik. Dengan demikian siswa lebih mudah konsentrasi.
  • Sebagai sarana refresing bagi siswa.

Kapan hukuman ini diberikan? Hukuman ini diberikan bias saat siswa mengerjakan soal tugas harian, PR, atau ulangan harian. Yang lebih efektif adalah pada tugas harian, karena tugas harian dikerjakan saat pembelajaran. Anak-anak mengumpulkan tugas ke depan dengan antri. Guru memamnggil siswa sesuai dengan kelompok nilai. Misalkan pertama dipanggil siswa yang mendapat nilai 100. Kelompok berikutnya nilai 90 ke atas. Kelompok 80 ke atas, dan seterusnya. Ketika kelompok siswa yang medapat nilai di bawah KKM sebelum dinilai siswa melakukan hukuman sujud tersebut. Di usahakan antrian laki-laki dan peremuan dibuat berbeda. Misalkan yang laki-laki mengumpulan sebelah kanan guru dan yang perempuan sebelah kiri.

  • Jumlah banyaknya kata yang harus diucapkan tergantung nilainya. Misalkan Pelajaran Matematika KKMnya 60, maka :
  • Jika nilia 50 sampai 59 sambil sujud menducapkan istiqfar sebanyak 33 kali dan kalimat, “saya akan rajin belajar” sebanyak 15 kali.
  • Jika nilia 40 sampai 49 sambil sujud menducapkan istiqfar sebanyak 45 kali dan kalimat, “saya akan rajin belajar” sebanyak 20 kali.
  • Jika nilia 30 sampai 39 sambil sujud menducapkan istiqfar sebanyak 55 kali dan kalimat, “saya akan rajin belajar” sebanyak 25 kali.
  • Jika nilia 20 sampai 29 sambil sujud menducapkan istiqfar sebanyak 66 kali dan kalimat, “saya akan rajin belajar” sebanyak 33 kali.

Untuk selanjutnya tergantung dari kebijakan guru masing-masing.

Bagai mana dengan pendapat sahabat guraru? Ada masukkan? atau ada IDE yang lebih jitu yang lebih Efektif, Efisien, dan pastinya MENDIDIK?

Comments (7)

  1. Terimakasih pak Subakri atas sharingnya. Pak Subakri memang guru kelas yang kreatif. he..he..he…
    Untuk di SMK dengan jumlah siswa yang lumayan banyak maka siswa yang nilainya di bawah KKM diberikan program remedial, bimbingan dan arahan. Di awal pembelajaran ada kontrak prestasi dengan siswa maupun guru sehingga secara bersama-sama harus mensukseskan tercapainya proses pembelajaran secara optimal.

    Sharing yang bagus pak Subakri. Guraru insyaallah dapat menyesuaikan. Saya berikan “VOTE” pak.

    Salam perjuangan.

  2. meski ada konsep rewards and punishment tapi saya lebih suka menghilangkan yang kedua itu. Ketika kita gunakan kata ‘hukuman’ maka yang terpajan di otak bawah sadar kita agak jauh dari ‘kasih sayang’. Oleh karenanya saya lebih cenderung menggunakan istilah ‘pendampingan’. Kalaupun itu dianggap hukuman, ya saya menjalaninya bareng murid saya. 😀

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar