8

Hujan dan banjir di Jakarta, kami turut merasakannya (+4)

Bu Etna @gurutematik January 25, 2014

Selamat Siang Guraru. Ketika saya ke Jakarta, ternyata setiap hari hujan terus, tak seperti Surabaya. Seminggu bersama suami bersilahturahmi ke keluarga besar yang ada di Jakarta dan ke Sukabumi mengunjungi anak cucu. Banyak kerabat menyarankan agar kami tak pergi ke Jakarta atau Jabar, sebab banjir melanda kedua daerah itu. Namun niat yang kuat untuk bersilahturahmi membuat kami tetap berangkat. Insya Allah niat ini dapat terwujud; itulah yang kami mohon pada yang Kuasa. Kepentingan ini amat mendesak dan kami merasa Insya Allah waktunya tepat. Tentulah kami telah cek berita tentang daerah yang banjir, sehingga kami terpaksa tak mengunjungi keluarga yang tinggal di daerah Bekasi dan sekitarnya.

untitled (14)

Setelah kami sampai di bandara Soekarno-Hatta, adik Depok menjemput. Ternyata jalur Pantura ditutup. Dari Soeta ke Depok jalannya terpaksa memutar. Ku lihat dari kaca mobil, ya Allah banjir itu memang melanda Jakarta. Dari berita telah kami baca kalau tak semua kota banjir, itulah sebabnya kami tetap bertahan untuk berkunjung ke sanak keluarga. Saya tak tahu persis, namun sempat ku baca Serpong. Ehmm berarti lewat Serpong. Mengapa dilewatkan Serpong? Menurut berita Serpong juga banjir. Ketika kutanyakan, tak ada jalan lain. Ooo … ya ya, OK kami turut merasakan bagaimana berada di daerah yang sedang banjir itu.

Hujan terus turun tak berhenti sedetikpun. Namun sesekali hujan itu berkurang derasnya. Macet, kendaraan merambat pelan. Alhamdulillah tak berhenti total. sabar, harus sabar. Ku lihat banyak motor mogok dan mobil yang hampir terjungkir. Orang berjalan membawa payung, eh payungnya rusak. Orang yang mengenakan jas hujan itu kasihan, saat mobil lewat tak terlalu kencang, tetap orang tersebut terkena air yang amat kotor bercampur minyak, kasihan.

Sekitar 6 jam perjalanan dari bandara Soeta ke Depok, termasuk berhenti ishoma. Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Depok. Ternyata terjadi sebuah kejutan yang luar biasa, kami diturunkan berdua di hotel Bumi Wiyata Depok, telah di booking sebuah kamar indah sekali dan hanya berdua, hehehe. Ternyata adikku sudah tahu kalau kami pergi itu juga dalam rangka tamasya karena telah memasuki masa pernikahan ke 40, hahaha. Ada-ada saja. Dengan rasa syukur kami berdua tinggal di hotel yang tadinya diprogramkan semua rombongan keluarga besar menginap di situ. Sore harinya kami kopdaran khusus dengan Guraru Jakarta dan hadirlah 3 serangkai Guraru handal yang fotonya telah saya posting.

Ketika hari berikutnya kami bersilahturahmi ke Serpong, ya Allah hujan deras, lama sekali dan banjirlah Serpong. Kami sempat jalan menuju mobil dengan sepatu di lepas dan celana serta rok dinaikkan hingga lutut. Hi hi hi dingin dan kotornya air itu. Sekitar jam 12 baru hujan agak reda dan kami menuju rumah adik yang berada di Bogor. Dini hari baru sampai, tidur sekitar 2 jam sudah subhuh. Alhamdulillah, tidur pulas dan badan segar. Setelah Subhuh seperti biasa saya minum 2 gelas air, beberapa saat kemudian senam, hehehe. Ku merenung, ehmm … kasihan sekali bangsa kita yang terkena banjir, termasuk pak Wijaya. Insya Allah dengan tabah, sabar, ikhlas, dan selalu bersyukur, bangsa kita yang daerahnya terkena banjir dapat bertahan, sehat jasmani dan rohani. Amin ya rabbal alamin. Kami sekeluarga turut prihatin dan selalu mendoakan yang terbaik. Insya Allah ke depan nanti solusi demi solusi dapat dilaksanakan oleh semua masyarakat Jakarta secara gotong royong, tak saling menyalahkan. Semua ini adalah ujian Allah SWT dan solusinya dapat segera teraplikasikan, walau tak mudah namun Insya Allah tak terlalu sulit. Allahu Akbar.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (8)

  1. Iya pak Namin, kasihan sekali melihat kejadian itu secara langsung. Mereka banyak kehilangan harta; ya memang harta dapat dicari lagi. Namun yang lebih memprihatinkan, hidup mereka menjadi seperti itu, sebagian terkena sakit, makan dibagi-bagi dan masih banyak suka dukanya. Saya melihat beberapa orang diantara mereka tetap senyum sambil membantu, tidak kenal lelah, tak mengeluh. Insya Allah rasa syukur dan ikhlas yang tampak diantara mereka dapat memotivasi yang lain sehingga semuanya tersugesti untuk tabah menghadapi ujian itu. Thx responnya pak.

  2. Hehehe pak Bakri, kok bertanya pada rumput yang bergoyang? Namun humor itu baik juga untuk melayani anak didik, hehehe. Ya sampah, salah satu penyebab banjir. Marilah peduli terhadap lingkungan, minimal di daerah masing-masing. Pendidikan ini harus diterapkan pada diri sendiri, baru ke keluarga, kemudian anak didik dan masyarakat sekitar. Tak boleh omong kosong, langsung kita laksanakan. Thhx responnya. Salam sehat.

  3. benar, bu etna. tidak boleh saling menyalahkan. wong penyebabnya yo ulah tangan kita sendiri. bisa jadi 10 tahun lagi, kalau proyek-proyek terus tumbuh dan prilaku hidup orang-orang jakarta tidak berubah, jakarta benar-benar tenggelam. na’udzubillah.

  4. @Bu Sri: Ya bu semoga hujan segera reda. Namun masyarakat tak bisa hanya menunggu, harus ada upaya menanggulangi banjir yang terus melanda daerah itu. Berdoa dan berjuang harus tetap dilakukan. Mungkin petugas terkait atau sukarelawan berupaya sebisanya, misal menyingkirkan penyebab banjir, seperti sampah yang menyumbat atau lainnya yg bisa dilakukan sambil jalan. Insya Allah musibah segera berakhir dan bebenah diri, sehingga yad tak terjadi seperti ini lagi. Thx responnya, salam.

  5. @Pak Yusuf: Benar pak, perilaku yang sudah terdeteksi menjadi penyebab banjir harus dapat dirubah. Tentunyalah kesadaran masing-masing individu yang telah berbuat. Prediksi sudah tersiarkan, apa tega mereka yg menjadi penyebab akan menghancurkan diri sendiri dan keluarganya? Insya Allah kita semua di mana saja kapan saja siapa saja dapat menyadari dan meningkatkan diri untuk hidup yang lebih baik. Thx responnya pa, salam resolusi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar