0

Hubungan Fotosintesis, Hormon, dan Respirasi dengan Dormansi (0)

Wahid Priyono, S.Pd. February 16, 2021

Fotosintesis memerlukan air, apabila kadar air rendah, maka fotosintesis tidak berlangsung dengan baik. Apabila fotosintesis tidak berjalan, maka metabolisme pada tumbuhan juga terganggu, terganggunya metabolisme menyebabkan biji melakukan istirahat (dormansi) untuk efisiensi penggunaan hasil fotosintesis. Selain itu, pada biji tidak melakukan fotosintesis, sebab sudah memperoleh cadangan makanan dari inangnya.

Para peneliti terdahulu, seperti David (1930), Thomton (1935 – 1945), dan Crocker (1948), menekankan pada pentingnya pengambilan oksigen , terutama dalam hibungannya dengan temperatur – temperatur tinggi, sebagai sebuah faktor dalam di dalam induksi dormansi di biji – biji dan organ – organ lainnya.

Salah satu hormon yang berperan dalam dormansi adalah ABA (Asam absisat). ABA mempunyai 3 efek utama yang ditentukan oleh jaringan yang terlibat, yaitu memberikan efek pada membrane plasma sel akar, menghambat sintesis protein, dan mengaktifkan serta menonaktifkan gen tertentu secara khas.

Efeknya pada membran sel akar adalah membuat membrane itu bermuatan lebih positif. Efek ini berperan dalam proses hilangnya ion K secara cepat pada sel penjaga ( yang melibatkan penghambatan ATPase membrane plasma) dan dalam kemampuan ABA untuk menghambat dengan cepat pertumbuhan yang diinduksi auksin. Keterlibatannya dalam sintesis protein dan enzim lain berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perananya dalam dormansi.

Tahapan lain dalam kehidupan suatu tumbuhan yang menguntungkan apabila pertumbuhan dihentikan adalah pada saat permulaan dormansi biji. Biji akan berkecambah jika ABA dihambat dengan cara membuatnya tidak aktif, atau dengan membuangnya, atau melalui peningkatan aktivitas giberelin.

Biji beberapa tumbuhan gurun mengakhiri dormansinya ketika hujan lebat melunturkan ABA dari biji. Biji tumbuhan lain memerlukan cahaya atau stimulus lain untuk memicu perombakan asam absisat.

Asam absisat memiliki struktur yang mirip dengan giberelin namun bekerja berlawanan dengan giberelin. Giberelin memiliki fungsi merangsang proses pemanjangan, juga terlibat dalam perkecambahan biji dan menghilangkan dormansi. Giberelin mengatasi dormansi biji dan kuncup. Pada biji mendorong pemanjangan sel, sehingga radikula dapat mendobrak endosperm, kulit biji, atau kulit buah yang membatasi pertumbuhannya. Giberelin juga mamacu pengangkutan makanan dan unsur mineral dalam sel penyimpan pada biji, dengan cara memacu sel aleuron untuk membuat enzim hidrolitik dan mendorong sekresi enzim tersebut ke endosperm, tempat enzim tersebut mencerna cadangan makanan dan dinding sel sehingga unsur mineral cadangan menjadi lebih mudah tersedia, kemudian menghentikan dormansi.

Giberelin bekerjasama dengan sitokinin dalam pembentukan enzim amilase pada perkecambahan biji, yang berfungsi dalam hidrolisis pati sebagai energi untuk pembentukan dinding sel dan membuat potensial air lebih negative, dan imbibisi akan lebih cepat dan mengakhiri dormansi.

Hormon lain pada tumbuhan yang berpengaruh terhadap dorrmansi adalah auksin. Pada daerah pemanjangan suatu tunas, auksin merangsang pompa proton, yaitu suatu tindakan yang menurunkan pH pada dinding sel. Pengasaman dinding ini mengaktifkan enzim – enzim yang memecahkan ikatan silang (ikatan hydrogen) yang terdapat pada mikrofbril – mikrofibril selulosa, sehingga melonggarkan serat – serat dinding sel. Karena dindingnya lebih plastis, sel bebas mengambil tambahan air (imbibisi) melalui osmosis, sehingga menyebabkan dormansi terhenti dan terjadi pemanjangan. Untuk bisa tumbuh terus, sel – sel harus membuat lebih banyak sitoplasma dan bahan – bahan dinding. Auksin juga mereangsang respon pertumbuhan berkelanjutan ini.

Sumber Referensi Bacaan:

  • Campbell,dkk.2003.Biologi Edisi Kelima Jilid 2.Jakarta.Erlangga
  • Hasniunidah, Neni.2011.Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan.Bandar Lampung.
  • Universitas Lampung
  • Salysburry, F.B and C.W. Ross.1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3.Bandung.ITB
  • Soerodikromo, Wibisono. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta :
  • Universitas Terbuka
  • Wilkins, M. B. 1989. Fisiologi Tanaman. Jakarta: Bina Aksara

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar