0

Hikmah Puasa Sya’ban (0)

@ahysholih March 24, 2021


By Muh. Aydi Syam

HIKMAH PUASA SYA’BAN
1) Sebagai “Warning

Bismillah …,
عن أبي هريرة، “… من أَدْرَكَ رَمَضَانَ
وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُ حَتَّى يَصُوْمَهُ” (رواه أحمد: 2/352).
Artinya:
Barang siapa yang berjumpa dengan bulan Ramahdan sementara ia masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan tahun lalu yang belum ditunaikan, maka ibadahnya tidak akan diterima hingga ia mengqadha’nya. (HR Imam Ahmad: 2/352).
——- 🌾
Penjelasan:
1) Hadis ini telah dikutip pada “Lentera Rajab (20), riwayatnya “dha’if” (lemah) menurut Imam al- Albany dan “hasan” (sedang) menurut Imam al-Haitsamy.
2) Dari riwayat di atas tersirat bahwa di antara hikmah disyari’atkannya puasa Sya’ban adalah peringatan (warning) bagi mereka yang memiliki qadha’ (tunggakan puasa) pada Ramadan tahun lalu, maka sedapat mungkin ditunaikan pada bulan Sya’ban andai belum sempat ditunaikan, mengingat bulan Sya’ban adalah bulan terakhir menjelang Ramadan.
3) Puasa qadha’ dan puasa sunnah Sya’ban boleh saja pelaksanaannya terkombinasi sehingga sekali puasa dapat fadilah ganda”. Masih adakah hikmah yang lain?
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
Hikmah pada setiap ibadah yang disyari’atkan oleh Produser hukum Syar’iy pasti ada, singkaplah hikmahnya niscaya akan terasa lezatnya!
وَ اللهُ المُستعانُ وَعَلَيه التُّكلانُ
—–🌹
Puasa Sya’ban,
jelang Ramadan.
Singkap hikmahnya,
rasakan kelezatannya!


——– 🤝 ——
2) Disetornya Amal Tahunan

Bismillah …,

1) عَنْ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: ” قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ ” (رواه النسآئي: 2221).
Artinya:
“Dari Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku, “aku berkata kepada Rasulullah, “wahai Rasulallah, “saya tidak melihat engkau berpuasa pada satu bulan melebihi engkau puasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Tuhan Semesta Alam. Olehnya itu, aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa” (HR. al-Nasa’iy: 2221).

1) عَنْ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ رضي الله عنهما قال: “إنّ نبيّ الله ﷺ كان يصوم يوم الإثنين ويوم الخميس، وسُئل عن ذلك؟ فقال: إنّ أعمال العباد تُعرضُ يوم الإثنين والخميس” ( رواه أبو داود: 2436، وأحمد: 21801).
Artinya:
Dari Usamah bin Zaid r.a., telah berkata, “sesungguhnya Nabi Allah Saw. (selalu) berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Beliau ditanya tentang puasa itu, maka beliau menjawab, “sungguh amal-amal para hamba disetor pada hari Senin dan Kamis” (HR Abu Daud: 2436, dan Ahmad: 21801).
——- 🌾
Penjelasan:
1) Hadis pertama dinyatakan “shahih” oleh Imam Ibnu Huzaimah dan dinyatakan “hasan” oleh Imam al-Albany. Hadis kedua dinyatakan “shahih” oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Imam al-Darimiy, Imam al-Baehaqy dan Imam Ibnu Khuzaimah. Bahkan ditemukan riwayat “shahih” oleh Imam Muslim yang menyebutkan bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari disetornya amal-amal manusia.
2) Rasulullah Saw. menginformasikan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan disetornya amal manusia kepada Tuhan Alam Semesta.
3) Berdasarkan riwayat tersebut, maka dipahami bahwa:
a) Bulan Sya’ban adalah bulan disetornya amal manusia dalam setahun sebagaimana hari Senin dan Kamis adalah hari disetornya amal manusia dalam sepekan.
b) Amal manusia, penyetorannya dalam 3 tahap, menurut informasi hadis:
– setiap hari Jumat, Sabtu, Ahad, Senin, disetor pada hari Senin;
– setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, disetor pada hari Kamis; dan
– Bulan Sya’ban adalah bulan disetornya amal manusia yang terakumulasi dari Ramadan hingga Sya’ban.
b) Bulan Ramadan adalah bulan diawalinya lembaran baru untuk amal manusia dalam setahun dan berakhir nanti pada bulan Sya’ban untuk tahun itu.
c) Bulan Sya’ban adalah bulan diakhirinya lembaran amal manusia dalam setahun, lalu disetornya kepada Allah Swt. sehingga Rasulullah senang berpuasa saat disetor amal-amalnya.
Mengapa Rasulullah Saw. senang berpuasa saat disetor amal-amalnya? Ikuti “Lentera …” berikutnya!
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
1) Mulailah lembaran surat amal tahunan dengan puasa pada bulan Ramadan!
2) Akhirilah lembaran surat amal tahunan dengan puasa pada bulan Sya’ban!
3) Betapa mulianya surat amal tahunan seorang hamba bila dimulai dan ditutup dengan puasa, maka raihlah kemuliaan itu!


—–🌹
Ada amal tahunan,
ada juga amal pekanan.
Awali amal dengan puasa,
akhiri amal juga dengan puasa!


——– 🤝 —-
3) Memaksimalkan Kebaikan &
Meminimalkan Dosa

Bismillah …,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أبِي أوْفى قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ “نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ” (رواه البيهقي/ شعب الإيمان: 3/1437) و في رواية عنه “وذَنْبُهُ مَغْفُورٌ “.
Terjemahnya:
“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan dan amalnya dilipatgandakan” (HR al-Baehaqy/Syu’ab al-Iyman: 3/1437). Dalam suatu riwayat dari beliau (disebutkan pula) “dosanya diampuni.”
——- 🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “dha’if” (lemah) menurut Imam al-Baehaqy dan Imam al-Albany. Namun, tetap boleh saja dijadikan sugesti untuk umat dalam menyampaikan fadilah puasa karena berhujjah dengan hadis “dha’if” dalam hal “fadha’il al-a’mal” (kemuliaan-kemuliaan amal) hukumnya boleh menurut Jumhur Ulama (mayoritas ulama).
2) Muatan hadis tersebut menyebutkan bahwa di antara kemuliaan orang yang berpuasa adalah:

  • tidurnya ibadah,
  • diamnya tasbih (zikir),
  • do’anya dikabulkan,
  • amalnya dilipatgandakan, dan
  • dosanya diampuni.
    3) Secara “dzhahir al-nash” (makna literal), maka dipahami bahwa sungguh beruntunglah orang yang berpuasa karena maksimal amalnya dilipatgandakan dan dosa-dosanya diampuni.
    4) Melihat kenyataannya, orang-orang beriman tatkala berpuasa, maka intensitas ibadahnya justru semakin meningkat.

5) Itulah antara lain rahasianya sehingga Rasulullah Saw. senang berpuasa pada hari Senin, Kamis, dan hari-harinya bulan Sya’ban saat disetor amalnya supaya selalu laporan amalnya maksimal pada akhirnya melebihi awalnya.

Catatan:
“Naumu al-sha’im” (tidurnya orang berpuasa) dimaksudkan lebih pada beristirahatnya dari dosa yang bisa menodai kesucian puasanya. Beristrahat dari dosa itu adalah bahagian dari “nahi munkar” sementara “nahi munkar” itu bahagian dari ibadah. Jadi sebaiknya tidur itu diniatkan sebagai “راحة عن المنكرات” beristrahat dari segala kemunkaran yang dapat menodai kesucian puasa, maka itulah makna ibadah.

وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
Puasalah pada hari Senin, Kamis, dan hari-harinya bulan Sya’ban! Ikutilah sunnah Rasulillah Saw.! Semoga fadilahnya juga bisa didapatkan. Catatan akhir surat amalnya selalu maksimal sebelum dilaporkan, insya Allah. آمين

—–🌹
Senin, biasakan puasa!
Kamis, biasakan puasa!
Sya’ban-Ramadan puasa!
Jangan pernah putus asa!
——
4) Menjemput Bulan Ramadan

Bismillah …,

عن أبي هريرة قال: “لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ” (رواه أحمد: 9497 والنسائي: 4/129).
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. telah berkata, “ketika Ramadan tiba, Rasulullah Saw. bersabda, “Ramadan telah datang kepada kalian, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian puasa Ramadan, pintu-pintu Surga dibuka di dalamnya, pintu-pintu neraka ditutup di dalamnya, syaitan-syaitan dibelenggu di dalamnya, ada suatu malam di dalamnya yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa yang terlepas dari kemuliaan Ramadan, maka sungguh dia terlepas (dari kebaikan yang berlimpah)” (HR Ahmad: 9497 dan al-Nasa’iy: 4/129).
——- 🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, riwayatnya “mursal” (terputus sanadnya) menurut Imam Salahuddin al-‘Alaa’iy, sementara yang diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’iy, riwayatnya “shahih” menurut Imam al-Albaniy. Hadis tersebut masih boleh untuk dijadikan hujjah (pijakan hukum) dengan memperpegangi riwayat al-Nasa’iy, apatah lagi hadis ini masih diriwayatkan oleh beberapa imam hadis yang lain selain keduanya.
2) Ramadan datang dengan membawa sejumlah kemuliaan untuk orang-orang beriman seperti yang diceritakan dalam riwayat di atas.
3) Tidak heran, banyak orang-orang beriman menganggap bahwa Ramadan itu “dhayf karym” (tamu yang mulia) sehingga kedatangannya mesti disambut dengan segala penghargaan.
4) Ramadan adalah bulan puasa, maka sebaiknya kedatangannya disambut dengan puasa di bulan Sya’ban dan kepergiannya nanti juga diantar dengan puasa di bulan Syawal.
5) Demikianlah hikmah lain yang dipahami secara tersirat dari hikmah puasa Rasulullah Saw. di bulan Sya’ban, yakni “li istiqbali Ramadhan” (untuk menjemput kedatangan bulan Ramadan).


——-✍️
Pesan Moral:
Puasalah di bulan Sya’ban, jemputlah kedatangan Ramadan, dan railah seribu kemuliaan bila engkau adalah hamba yang beriman.
—–🌹
Sya’ban yang ceria,
Ramadan yang mulia.
Raihlah keceriaan!
Dapatlah kemuliaan !

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar