0

Hikmah Menghormati Guru (0)

Supadilah S.Si April 29, 2021

Sebuah hikmah dari seorang Muhammad bin Sirin. Seorang tabi’in (orang yang hidup sesudah masa para sahabat Rasulullah). Beliau terkenal sebagai ahli ilmu. Juga sebagai orator ulung. Mempunyai suara menggema , keras, dan berwibawa. Biasa memotivasi kaum muslimin untuk beribadah dengan suara yang memukau. Beliau terkenal dengan kata, kalimat dan ucapan yang indah. Namun semuanya itu berbeda ketika beliau menghadap ibunya. Sebagian sahabatnya berkata, “Seakan-akan beliau selalu kehabisan kata-kata saat berhadapan dengan ibunya”. Beliau hanya membisu, tunduk, takzim dan tidak punya kehebatan apa-apa. Hal itu karena beliau sangat berhati-hati dan benar-benar diatur nada bicaranya ketika berkata pada sang bunda.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah lebih dari seorang oratur ulung sehingga berani berkata tidak sopan pada ibu kita? Apakah kita sudah jadi orang hebat sehingga berkata seperti mengajari ibu kita? Sesungguhnya kita lancang jika berani berkata yang tidak sopan kepada ibu.

Ada hal yang menarik pada kegiatan pramuka kewirausahaan Pramuka Wirakarya di Kwarda Banten bulan Oktober kemarin. Salah satu peraturannya adalah diharuskan membawa tas ransel atau bawaannya kemana pun pergi. Baik itu ke mushola, kegiatan di lapangan, hingga ke kamar mandi. Jika peserta kemah bawa dua tas, keduanya pula tas itu harus dibawa. Hikmahnya adalah supaya peserta bisa merasakan bagaimana ketika ibu mereka mengandung mereka. Hampir semua peserta merasakan berat, lelah, dan capek menggendong tas seperti itu. Awalnya memang agar ringan. Namun lama kelamaan terasa berat. Dan hampir semua mereka mengeluh, juga terharu. Mereka menyadari, betapa berat perjuangan ibu mereka. Di perkemaah itu, hanya tiga hari mereka menanggung beban itu. Tentu dapat dibayangkan betapa beratnya penderitaan ibu yang menanggung beban selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari.

Bakti Sang Penghuni Langit

Kisah berbakti kepada seorang ibu ditunjukkan oleh seorang Uwais AL Qarni. Dia sangat berbakti dan mencintai ibunya. Tidak pernah membantahnya atau meninggalkannya tanpa izin. Ibunya yang sudah berusia lanjut menyatakan keinginannya untuk berhaji. Hal ini membuatnya risau. Selain tidak memiliki biaya yang cukup, jarak Yaman ke Mekkah cukup jauh. Mereka tidak punya unta untuk kendaraannya. Namun Uwais tidak ingin mengecewakan ibunya. Dicarinyalah cara. Akhirnya Uwais membeli seekor anak lembu. Dibuatnya kandang diatas bukit. Setiap hari, Uwasi menggendong naik turun bukit. Karena ulahnya, Uwais dikatakan gila. Kurang kerjaan. Namun aktivitas itu tetap dilakukannya. Hingga berbulan-bulan kemudian. Anak lembu semakin besar dan semakin berat. Namun otot-otot Uwais semakin terlatih, semakin kuat. Hingga berat lembu itu telah mencapai 100 kilogram. Tibalah musim haji, orang-orang kemudian paham dengan apa yang dilakukan Uwais. Dia sedang berlatih untuk menggendong ibunya. Yah, dia mengantarkan ibunya haji dengan digendong dari Yaman hingga Mekkah. Perjalanan yang sangat jauh dilakukan dengan berjalan kaki ditambah menggendong ibunya pula. Sesampainya di Mekkah saat berhaji, Uwais berdoa, “Ya Allah, ampunilah semua dosa ibuku”. Sang ibu bertanya, “Engkau tidak berdoa untukmu sendiri?”. “Saat ibu sudah terampuni oleh Allah, cukuplah bagiku ibu. Ridha ibu akan membuatku diridhai Allah”. Sang ibu tersenyum dan kemudian mendoakan Uwais.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar