0

Hikmah Kepergian 22 Tahun Silam (0)

AfanZulkarnain February 25, 2021

22 tahun lalu. Aku masih berusia sepuluh. Tepatnya hari Sabtu. Februari 1999, beberapa hari setelah lebaran. Aku masih ingat situasi saat itu. Langit mendung. Beberapa kali turun gerimis, namun kemudian reda, gerimis kembali, reda lagi. Begitulah.

Hari itu awalnya berjalan seperti biasa. Semua nampak baik-baik saja. Ibu masih sibuk dengan jahitannya. Bapak yang terlihat sehat mengobrol dengan tetangga. Kakak-kakaku pun demikian melakukan aktivitas seperti biasa.

Sementara aku saat itu tengah asyik membaca komik yang aku sewa dari sebuah rental. Komik Rose of Versailles. Komik Jepang tersebut menceritakan tentang revolusi Perancis. Aku sangat larut dalam ceritanya. Mengaduk emosi. Kisah Marie Antoinette, ratu yang menyebabkan Kerajaan Perancis alami krisis keuangan akibat pengeluarannya yang melimpah. Ia tewas setelah dijatuhi hukuman mati dipenggal oleh guillotine yang tajam. Aku begitu serius membacanya di atas tempat tidur. Sambil mengkonsumsi cemilan yang aku beli di warung depan rumah.

Namun , konsentrasiku membaca buyar. Terdengar sebuah teriakan dari kamar mandi. Suara kakak keduaku. Aku langsung berhambur menuju arah suara. Teriakan kakakku sangat keras, membuat tetangga menghampiri rumah kami.

Bapak pingsan. Itulah hal yang terjadi.

Dibantu tetangga, bapak dibopong ke tempat tidurku. Seorang tetangga memeriksa kondisinya. Ia begitu teliti mengecek denyut nadi , jantung dan napas bapak. Lalu sebuah pernyataan darinya membuat kami histeris.

“Beliau sudah tidak ada.”

Kontan kami sekeluarga menangis sejadi-jadinya. Hari itu juga, bapak meninggalkan kami dalam kondisi yang teramat mendadak. Tanpa pesan. Ia pergi dengan tenang. Terlihat dari senyuman yang mengembang di wajahnya. Hari itu juga Bapak dimakamkan.

Aku resmi menjadi anak yatim di usia sepuluh tahun. Setelah itu, aku kerap diundang oleh berbagai pihak untuk diberikan santunan. Terutama bulan muharam dan hari-hari terakhir bulan ramadhan. Dalam acara tersebut kepalaku selalu dielus-elus oleh orang-orang. Aku menyalimi mereka dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku menggenggam amplop santunan. Aku sangat ingat hal itu.

Jujur, sebenarnya aku pernah berontak. Aku tak mau ikut acara santunan. Alasannya adalah malu. Ya, aku malu dipertontonkan ke banyak orang karena statusku sebagai anak yatim. Sangat sedih rasanya melihat orang-orang memandang kasihan kepadaku. Namun, ibuku selalu berpesan, kita tidak boleh menolak pemberian orang. Kita harus hormati niat baik mereka memberi santunan.

Kepergian Bapak membuat kehidupan kami berubah drastis. Awalnya kami hidup serba berkecukupan. Setelah bapak wafat, kami sangat pas-pasan. Beruntung ibu memiliki keahlian. Menjahit dan membuat krupuk. Dua hal itu yang menopang hidup kami selanjutnya. Hingga aku tumbuh dewasa. Begitulah, kepergian Bapak membuat keluarga kami tegar. Aku tumbuh menjadi pribadi pekerja keras. Tidak lembek.

Ada hal yang aku petik dari kepergian Bapak. Usia tidak ada yang tahu. Umur manusia adalah misteri yang hanya Tuhan yang mengerti. Siapa sangka, bapak yang terlihat sehat dan bugar di waktu pagi, meninggal dunia pada siang hari. Aku juga lebih belajar menghargai waktu dengan orang-orang yang aku sayangi. Juga menghargai perasaan mereka. Karena kita tidak tahu, siapa yang akan pergi lebih dulu? kita atau mereka? Menyakiti perasaan mereka hanya akan memberi penyesalan mendalam setelah mereka meninggal. Sementara kata maaf belum sempat terucapkan.

Saya sempat berpikir, andai saya tahu bapak akan pergi, maka sehari sebelumnya, saya akan lebih menikmati waktu dengannya. Berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Mencoba menjadi anak yang baik di hadapannya. Senantiasa mengikuti apa yang ia perintahkan. Asal ia senang. Namun sayangnya waktu tak bisa diputar. Bapak tak bisa kembali, hanya Al Fatihah dan do’a yang bisa aku kirimkan kepadanya yang telah di alam keabadian.

Yang abadi dari bapak adalah karya-karyanya. Profesinya sebagai wartawan dan penulis, menghasilkan karya-karya yang masih kami simpan. Bukti bahwa sampai 22 tahun yang lalu, beliau pernah menikmati kehidupan.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar