6

#HidupKadangBegitu : Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan (0)

AfanZulkarnain January 27, 2021

Tulisan ke-47 Tahun 2021

Judul                     : #HidupKadangBegitu : Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan

Jenis buku             : Islam Populer

Penulis           : Gus Nadir & Kang Maman

Penerbit                 : Noura

Tahun terbit          : 2020

Tebal buku      : 238 halaman

Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir adalah Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama di Australia dan New Zealand. Beliau adalah akademisi yang mengajar di Fakultas Hukum Monash University sejak tahun 2015. Lebih dari 20 artikel beliau telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Beliau juga telah melahirkan beberapa buku tentang Islam. Tahun 2020 lalu, beliau berkolaborasi lewat sebuah buku dengan seorang pegiat literasi populer, Kang Maman.

Maman Suherman alias Kang Maman adalah pegiat literasi yang namanya pernah populer sebagai notulen di acara Indonesia Lawak Klub. Beliau juga pernah menjadi produser dan sutradara puluhan program acara di berbagai televisi. Lebih dari 13 judul buku telah ia tulis. Salah satunya adalah buku yang ia kerjakan bersama dengan akademisi sekaligus kyai populer, Gus Nadir.

#HidupKadangBegitu

Itu adalah buku yang ditulis keduanya. Buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Ngobrol ringan tentang agama, ngobrol ringan tentang ilmu, dan ngobrol ringan tentang kehidupan.

Di masing-masing bagian, Gus Nadir dan Kang Maman secara bergantian menuliskan segala cerita penuh hikmah secara bergantian. Semua cerita ditulis secara ringan dan santai sehingga pembaca tak merasa terbebani saat membacanya. Padahal yang mereka bahas adalah pemikiran mereka tentang agama, ilmu dan kemanusiaan. Namun disampaikan secara friendly dan tidak ada kesan menggurui.

Jujur, saat membaca setiap bab yang intisarinya berasal dari pengalaman dan pandangan hidup keduanya, saya sebagai pembaca berasa diajak ngobrol oleh mereka. Mengalir begitu saja. Baik Gus Nadir maupun Kang Maman tak secara langsung menulis “Kita harus begini, kita harus begitu,jangan begini, atau jangan begitu.”. Namun secara tersirat lewat tulisan mereka, saya bisa merenungi sendiri sikap seperti apa,sih yang harus saya lakukan, dan apa sih yang tidak boleh saya lakukan.

Seperti judulnya, Hidup Kadang Begitu, kedua penulis ingin menyampaikan pesan bahwa terkadang hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita harap-harapkan. Seringkali malah kenyataan lebih menyakitkan. Namun bukankah lebih seru apabila kita melalui jalan berliku. Hidup terasa membosankan jika tidak ada kejutan, bukan?

Lewat “Mengejar atau dikejar”, Kang Maman bercerita mengenai dirinya yang sempat sangat berharap mendapat honor dari kegiatannya menjadi narasumber sebuah acara besar dan mewah. Namun yang ia dapatkan hanyalah ucapan terima kasih.

Belajar dari pengalaman itu, ia akhirnya pasrah dan tak berpikir soal honor ketika diundang menjadi narasumber pada acara yang cukup sederhana. Karenanya setelah acara selesai dan tidak ada panitia yang memberikannya honor atau sekedar menawarkan makan siang, ia tak kecewa dan hanya pasrah. Namun rezeki tak terduga tiba, ketika ia makan siang di sebuah warung, beberapa panitia menyusulnya dan memberikan honor yang sangat besar sembari meminta maaf karena panitia lupa memberikannya di tempat acara.

Lewat “Penalti Kehidupan”, Gus Nadir menceritakan kegagalan para pemain sepak bola top dunia dalam mencetak gol penalti. Meskipun mereka bertalenta tinggi dengan skill yang luar biasa dan bermental juara, terkadang mereka pernah gagal juga. Begitupun dengan kita. Siapapun kita dan apapun profesi kita, pasti juga memiliki peluang untuk tidak berhasil. Namun orang sukses bukanlah orang yang tak pernah gagal, bukan pula orang yang tak pernah terpeleset jatuh. Orang sukses adalah orang yang tidak pernah menyerah dan setiap kali jatuh, selalu siap untuk bangun lagi.

Buku Hidup Kadang Begitu ini cocok dibaca pada pagi hari sebelum beraktivitas. Baca satu cerita saja, kita akan mendapatkan suntikan motivasi untuk bersemangat menjalani hari.

Buku ini bisa juga dibaca ketika senja sambil menyeruput hangatnya kopi. Baca satu cerita saja, kita akan mendapatkan hikmah bahwa kita harus ikhlas menerima semua keadaan, sepahit apapun itu. Karena memang hidup kadang begitu. Bukankah hidup yang berliku malah lebih seru?

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar