25

Hentikan Bullying (+25)

Rudy Hilkya May 16, 2013

Selama sepekan istri saya telah mengikuti kegiatan workshop tentang Latihan Dasar Kepemimpinan dan gebyar aksi karakter siswa se-Indonesia di Cibubur, Jakarta dan selama kegiatan itu tidak henti-hentinya informasi (yang sebenarnya pun sudah kadaluwarsa) disuplai kepada kami di kota asal ini. Salah satu topik yang menarik adalah perkembangan karakter siswa di sekolah mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi tidak pernah lepas dari salah satu namanya praktik bullying mengutip dari tautan berikut bahwa bullying adalah perbuatan/tindakan kekerasan secara fisik,lisan, dan mental kepada orang yang lebih lemah (dianggap lemah) sehingga menyebabkan rasa tertekan,takut, dan putus asa.

Para siswa yang didampingi istri saya ini pun bersama guru pendamping lain dari 33 provinsi se-Indonesia dipertontonkan tindakan-tindakan tidak terpuji di sekolah, lingkungan sekolah, bahkan hingga lingkungan masyarakat dan mereka diminta berdiskusi menganalisanya serta mencari alternatif solusi menurut tingkat pemikiran siswa SMA. Hasilnya ya tentu saja belum dapat kita dapatkan secara konkret karena masih sebatas wacana dan di antara kita pun masih tidak ada kesepahaman dalam menyelesaikan kasus ini dengan alasan tidak mau atau tidak berani terlibat terlalu jauh karena ditakutkan suatu saat akan “mengancam” kedudukan, kredibelitas atau bahkan kehormatan kita!

Hingga beberapa hari yang lalu semua ketakutan itu terpaksa harus saya tepis, karena anak saya malah mengalaminya sendiri di sekolah menengah pertama almamater saya sendiri 25 tahun lalu. Putra saya mengalami pengejekan atau pelecehan secara mental dengan dikata-katai yang tidak patut saya sebutkan di media ini, dan saat saya pertama mendengarnya amarah saya membahana dan darah saya seolah bergidik meluap-luap untuk “menutup mulut” si pengejek. Hal itu memantik reaktif eksplosif langsung ingin menghajar sendiri si pembully (pengejek atau pengecam ini). Tapi saya segera menyadarkan diri, mengambil keputusan positif bahwa itu memang harus dihadapi oleh putra saya sebagai bagian dari pembelajaran atau mengambil hikmah untuk merefleksi dirinya barangkali memang ada faktor-faktor yang menyebabkan dirinya menjadi pusat ejekan, segala fakta dan kisah segera saya investigasi mendengarkan dan menyimak dari cerita anak-anak juga teman-temannya hingga saya tiba pada kesimpulan bahwa praktik ini memang sudah menahun dan tetap dibiarkan seolah tumbuh subur serta menunjukkan ketidakpekaan guru sekolah setempat atas atmosfer ejek-ejekan di kalangan pelajar sekolah ini. Sampai saya pulang tadi pun saya prihatin sekali karena sempat mendengar beberapa rekan-rekan anak saya sempat melontarkan ejekan walaupun sepertinya disamarkan dengan memasang-masangkan namanya dengan lawan jenis, namun jika saya tegur saya menguatirkan bahwa anak saya justru akan dijauhkan atau bahkan diisolasi dari pertemanan di sekolahnya ini. Perasaan yang sangat berat bagi orang tua yang juga guru!

Kegiatan bully ini akhirnya saya laporkan kepada wakil kepala sekolah urusan kesiswaan sekolah dimaksud pada satu hari sebelum kemarin sebab alasan saya saat menanyakan putra kami, “mengapa kamu tidak melaporkan masalah ejekan ke wali kelasmu?  Jawabnya singkat saja, “wali kelas kami tidak respon terhadap keluhan dan masalah kami!” Langsung jleb  rasa di dada mendengar penuturan putra saya ini. Setelah sehari dua saya menunggu perkembangan laporan tersebut akhirnya sinyal responsif  tampak,  setelah saya mendengarkan penuturan anak saya bahwa si pengejek ini akhirnya meminta maaf langsung kepadanya sebelum jam pertama dimulai. Tindakan yang patut diacungi jempol kepada guru sekolah itu karena kesigapannya menyelesaikan masalah sesuai jaminan janjinya kepada saya dua hari yang lalu via telepon.

Siang ini sekitar pukul 12.15 WIB adalah kewajiban saya menjemput putra tadi sambil mencari tahu apakah si pengejek itu ada di antara kerumunan siswa yang bergerombol di jalan samping sekolah sambil menunggu jemputan, namun menurut informasi awal dari pelacak didapat bahwa si pengejek tidak pernah ke luar dari lintasan tempat saya biasa mangkal. Tetapi ada sesuatu pandangan lain yang saya dapatkan siang ini, saya mendapati kerumunan siswa lelaki dan perempuan semuanya tengah bergerombol di tanah lapang seberang sekolah dan kebetulan tanah lapang itu merupakan lahan parkir menuju sarana peribadatan umat agama lain di kota kecil kami ini. Reaksi saya langsung spontan melihat situasi yang tidak biasanya saat anak-anak sekolah menengah pertama ini pulang tetapi mereka tidak tampak ingin segera pulang malah semakin menjadi-jadi mendekati tanah lapang tersebut, untuk memarkir mobil pada arah yang strategis yang tidak terhalang dari tembok pagar tinggi agar saya bisa mengamati ada kejadian apa di tanah lapang itu?

Sesaat setelah mobil diparkir dan masih dalam keadaan menyala, kebetulan putri saya sudah saya jemput dan saya minta menunggu di dalam mobil untuk berjaga-jaga, saya segera keluar memutar dan berada di kedudukan tertinggi dari trotoar jalan tepat di depan rumah ibadah tersebut.  Semula saya menduga ada adu robot atau adu mainan, karena begitu banyak siswa-siswi berompi kotak-kotak datang mendekat bahkan mencoba menaiki tembok pagar rumah ibadah tersebut sambil bersorak-sorai memberi semangat yang saya herankan mereka dengan riang gembira dan sangat menikmati tontonan tersebut! Prihatin itu dalam hati saya dan sekelebat saya menyaksikan ada beberapa pemuda tanggung datang mendekati tanah itu yang telah menjadi arena adu jotos antara dua anak laki-laki dalam keadaan labil dan menggenggam tinju pun masih tidak becus, saya menduga mereka melerai memisahkan atau menjadi mediator, tapi sungguh disayangkan yang terjadi mereka hanya berteriak saja dan tidak digubris oleh dua anak muda yang tengah berjotos ria ini. Terlebih-lebih saya herankan, biasanya ada pak sekuriti masih berjaga-jaga di dekat pintu gerbang sekolah samping, mengapa sekarang pak Sekuriti tidak tampak batang hidungnya dengan kumis melintang jawaranya? Mestinya waktu itu, masih jam piket mereka sebelum seluruh siswa benar-benar telah pulang atau dijemput orang tuanya (karena beberapa saat lalu telah beredar isu penculikan, tapi dengan ketatnya keamanan maka hal itu bisa diminimalisir selain adanya kewaspadaan para orang tua terhadap keberadaan putra-putri mereka yang bersekolah di komplek pendidikan non-pemerintah ini). Sempat saya melihat salah seorang tua yang kebetulan melintas di depan saya dan menjemputnya kedua anaknya di SD yang satu komplekan masih dengan sekolah anak saya, itupun segera berlari mendenkat namun hanya sebatas berteriak menghardik “sudah saja, pulang saja kalian ke rumah masing-masing!”  Tentu saja Kalimat ini pun masih belum melegakan perasaan karena kedua pelaku tampak tidak menggubrisnya sekali lagi, saya yang masih waswas dan trauma terhadap peristiwa bullying yang dialami oleh putra kami kemarin, saya segera mengambil inisiatif (kebetulan saya mengenakan seragam identitas keguruan yang kami kenakan setiap hari kamis sehingga semua orang tahu akan profesi saya), untuk menghardik kedua bocah ini dan mempertanyakan mengapa mereka berkelahi. Jiwa leadership saya muncul sebagai penengah seperti yang biasa kami lakukan saat menangani siswa sekolah kami yang mengalami perkelahian atau pergesekan maka tindakan dan prosedur yang saya lakukan persis sama seperti itu, yang kemudian saya pegang kedua tangan masing-masing pelaku dan membawa mereka menuju sekolahnya yang terletak berseberangan dengan arena persabungan tadi. Sekali gebrak kedua pelaku anak kencur ini langsung luluh tenaganya dan tidak meronta-ronta brutal sebagaimana yang saya duga, saya telah menyerap tenaga kemudaan mereka dengan  mengunci pangkal telapak tangan yang dilambari dengan doa sebelum belajar dan sugesti bunda. Serta-merta tontontan bubar dan saya mendapatkan cemoohan dari para siswa penonton yang batal menikmati kegembiraan hiburan segar atas pertarungan tinju dan gulat gaya bebas gratis ala streetfighter WWE sebagaimana di video game dan televisi saluran olah raga beladiri. Saya tidak peduli, dan ada beberapa orang tua mempertanyakan tindakan saya karena sepertinya tindakan saya kelewatan melebihi batas kewenangan saya,  saya pun tetap tidak bergeming untuk peduli! Karena saya merasa tindakan saya dibenarkan sebagai warganegara yang diberi kewenangan mengajar walau bukan SMP untuk mengambil tanggung jawab sebagai penengah dan mediator atas perkelahian antarsiswa yang notabene masih satu sekolah itu! Karena ini adalah bentuk keterpanggilan selaku alumni sekolah tersebut dan saya merasa malu atas kejadian di luar sekolah dan telah mengotori halaman rumah peribadatan yang tentu saja saya takutkan akan menimbulkan ketersinggungan para pengelola rumah ibadat tersebut!

Tindakan saya menggandeng kedua pelaku tadi mendapat respon cepat pihak sekolah dan diterima langsung oleh sang Kepala Sekolah yang merupakan guru saya dulu saat saya masih menuntut ilmu di sekolah yang sama! Tentu saja respon Beliau menjadi semakin positif dengan tindakan yang saya lakukan, padahal saya tidak mengharapkan perkelahian itu terus berlanjut hingga jatuh korban dan akhirnya diekspose tanpa perimbangan, saya hanya ingin menghentikan perkelahian, menyelesaikan pertikaian itu tanpa kekerasan dan menunjukkan bahwa perkelahian bukan jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah terlebih lagi jika masalah ini rupanya dipicu dari peristiwa saling ejek karena kedua pelaku adalah penggemar game online yang ternyata sering saling ejek saling serang ucapan pelemahan di dunia maya yang kemudian dibawa-bawa ke dunia nyata dan itu baru saja mereka buktikan melalui saling lempar pukul dan tendang yang saya saksikan dan saya hentikan!

Kemudian tindakan final dari sekolah adalah keputusan esok hari atas laporan kedua siswa tadi kepada Kepala Sekolah langsung sebelum jam pertama, serta mendengarkan keterangan saksi lain, yaitu teman mereka tentang duduk perkaranya. Saya telah menyerahkannya langsung kepada Penanggung Jawab dan seusai itu saya menganggap masalahnya dapat diatasi oleh institusi ini.

Inti dari masalah ini adalah betapa berbahayanya dunia maya melalui gem online yang melibatkan fasilitas chatting sebagai sarana komunikasi yang telah berubah menjadi sarana bullying dan menyuburkan bermunculan kata-kata ejekan yang semakin inovatif tapi tidak terpuji, apalagi masalah dari dunia maya dihadirkan di dunia nyata sebagai perseteruan. Ini pula akibat seringnya kita mendapatkan tontonan media elektronik tentang adu marah atau adu greget di layar kaca layar gelas yang tidak kita sadari telah merasuk dalam sanubari para pemirsa muda usia yang belum memiliki nalar yang mapan dan batin yang lapang untuk bisa menerima itu sebagai bagian dari dunia dewasa. Media kita telah sembarang mempertontonkan kekerasan dan itu yang anak-anak kita, generasi muda kita tiru kepada sesamanya dan menjadi hal yang permisif dan dimafhumkan karena tetap saja terjadi dan tidak ada yang membatasinya di negeri ini yang konon peramah dan sopan itu!

 

 

 

About Author

Rudy Hilkya

Guru Fisika di SMAN-2 Palangka Raya, aktif berkicau di http://twitter.com/fisikarudy, juga menulis di blog pribadi http://fisikarudy.wordpress.com, mendirikan klub Fisikarudy di facebook selain bisa ditemui bertwitter di @fisikarudy - line, whatsapp juga SMS ke 0811-5204-209 sekarang aktif menjadi reviewer di http://rudyhilkya.com/ juga pada blog abal-abal http://rudykit.blogspot.com, rudyhilkya.wordpress.com

View all posts by Rudy Hilkya →

Comments (25)

    • keprihatinan kita kepada belia muda yang cenderung semakin labil, yaitu stop main game online, gantikan uang pulsa dengan uang untuk beli buku yang membangun dan harus difilter oleh orang tuanya masing-masing

  1. faktor lingkungan internal (keluarga) juga mungkin mempengaruhi sang pelaku bullying, mereka mungkin belum pernah merasakan pengajaran tentang bagaimana menghargai sesama, dan bagaimana cara bersosial yg benar yg seharusnya pengajaran seperti itu di peroleh dari lingkungan keluarga. ckckck.. WTF

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar