6

Hati Hati Dengan Gelarmu Wahai Guru! (0)

Zubaili November 2, 2020

Oleh: Zubaili

Dalam kamus KBBI, gelar adalah sebutan kehormatan, kebangsawanan, atau kesarjanaan yang biasanya ditambahkan pada nama orang seperti raden, tengku, doktor, sarjana ekonomi.

kebanyakan kita umumnya, sangat bangga dengan disematnya gelar. kita sangat bangga dengan gelar yang diberikan. Bahkan terkadang berulang-ulang membagikan momen berharga saat pengukuhan gelar yang diberikan tersebut, baik melalui medsos atau lain sebagainya.

Gelar yang diberikan sebagai bukti bahwa kita sudah layak dan mampu memangku titel tersebut dengan melewati berbagai tantangan. tapi yang terlalu bangga dan ‘lupa ingatan’ sehingga apa yang seharusnya kita lakukan terabaikan.

Mari kita mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga dari kisah Abu Hanifah yang ditegur oleh anak kecil.

Alkisah, pada suatu hari Abu Hanifah melihat seorang anak kecil yang sedang bermain-main dengan memakai sepatu kayu yang agak tinggi. Melihat kejadian ini, Abu Hanifah menasehatinya,

“hati-hati, Nak, jangan sampai kamu terjatuh.” 


Mendengar nasehat Abu Hanifah, anak kecil ini kembali bertanya,

“hai orang, siapa namamu?”

Maka Abu Hanifah pun menjawab Nu’man bin Tsabit. Anak kecil ini kembali bertanya,

“Benarkah Engkau yang digelar Imam A’dham (Imam yang Agung)?”

Abu Hanifah pun mengiyakan pertanyaan dari anak kecil tersebut, gelar itu sebenarnya tidak disukainya, namun orang-orang memberikannya karena kelulusan ilmu yang dimiliki oleh Abu Hanifah.

Anak kecil ini kemudian berkata,

“Hati-hati dengan gelarmu, Jangan sampai gelar itu membuatmu tergelincir dalam neraka!” 

Nasehat ini ternyata membuat Abu Hanifah menangis. Beliau begitu tergugah dengan nasehat yang begitu berharga ini meski disampaikan oleh anak kecil. Nasehat yang mengingatkan bahwa pujian manusia bisa saja menjadi malapetaka tatkala membuat seseorang terbuai sehingga ia lupa kepada Allah. 

Kisah di atas sejatinya menjadi renungan bagi kita untuk menerima nasehat yang baik dari siapa saja, apakah itu nasehat orang tua, guru atau anak kecil sekalipun. Jangan sampai karena kita sudah menjadi guru kita tidak mau menerima saran atau nasehat dari sesama guru atau bahkan dari guru kita sendiri. Mungkin karena guru kita memiliki kekurangan, kita enggan mendengarkan nasehatnya. Ketahuilah, gurumu bukan Malaikat. Di balik kelebihannya juga banyak kekurangan. Karena itu yang baik ambillah, dan hal yang tidak baik atau syubhat ditinggalkan.

خذ ما صفى ودع ما كدر 
“Ambillah sesuatu yang bersih (baik), dan tinggalkanlah sesuatu yang kotor.”

Dengan kisah Abu hanafiah kita para Guraru juga dapat belajar. Tanggung jawab kita sebagai guru juga sangat berat. Bukan cuma mengajar tetapi juga harus menjadi teladan bagi anak didik. Cukup banyak anak didik yang meniru perilaku dari guru-gurunya sehari-hari. mereka menganggap guru adalah orang yang sangat layak di tiru dan di gugu. #Akhii/ZBA

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar