1

HASIL DISKUSI 1.1.a.5 Ruang kolaborasi-Mendesain Kerangka Pembelajaran Sesuai dengan Pemikiran KHD (0)

AQILA INDANA ZULFA February 24, 2021

 

Oleh :

Kelas A- Grup 2

Erna, S.Pd.

Fasilitator: Sri’ah, S.Pd.,M.Pd.

Pendamping: Sri Utaminingsih, M.Pd.

 

Calon Guru Pengggerak

Kota Malang

2020

1.1.a.5 Ruang kolaborasi-Mendesain Kerangka Pembelajaran Sesuai dengan Pemikiran KHD

1) Hal-hal positif yang telah Anda pelajari dan pemikiran KHD yang juga Anda dilihat pada budaya di daerah Anda

     Hal -Hal positif yang kami pelajari terkait pemikiran KHD, antara lain:

  • Pendidikan itu adalah tuntunan agar anak menjadi bijaksana
  • Pendidikan hendaknya memerdekakan anak atau memberikan kebebasan anak dalam belajar
  • Pendidikan harus memahami kodrat anak, potensi, bakat dan minat anak-anak
  • Pendidikan didasarkan pada kodrat alam dan kodrat zaman
  • ‘Menghamba pada anak’ (memandang anak dengan rasa hormat dan pembelajaran yang berorientasi pada anak)
  • Pendidikan adalah persemaian benih-benih kebudayaan yang menghasilkan budi pekerti (olah cipta, olah rasa, olahrasa dan olahkarsa
  • Pendidikan adalah taman bermain
  • Konsep trilogi pendidikan, yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani
  • Trisentra pendidikan yaitu pelibatan sekolah, orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan.
  • Anak adalah sehelai kertas yang masih samar-samar dan pendidik berfungsi untuk mengarahkan serta menebalkan bagian yang samar sehingga anak-anak berkembang sesuai kodratnya.

Pemikiran KHD yang juga dilihat pada budaya di daerah Anda.

a)  Pendidikan itu adalah benih-benih kebudayaan yang dapat mengantarkan murid pada budi pekerti (olah cipta, olah rasa, olah karsa dan olahraga) yang luhur serta kebijaksanaan.

      Pemikiran positif ini dapat dilihat pada budaya di daerah kami yaitu Malang. Malang memiliki potensi kebudayaan yang dapat dikembangkan dan diintegrasikan dalam proses pembelajaran dalam berbagai jenjang (TK-SMA). Salah satu budaya yang terkenal di Kota Malang adalah topeng malang. Topeng Malang mampu mengarahkan peserta didik untuk melakukan olah cipta, olah rasa, olah karsa dan olah raga menuju murid yang bahagia dan bijaksana.

b)  Pendidikan itu adalah taman bermain (kodrat anak adalah bermain)

     Pemikiran ini dapat dilihat pada konteks budaya di daerah Malang dimana murid cenderung suka bermain baik melakukan permainan tradisional dan atau permainan berbasis digital. Potensi ini dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis permainan.

c)  Pendidikan pada anak disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman

     Di daerah kami khususnya Kota Malang terkenal sebagai Kota Pendidikan. Artinya, secara alam, murid-murid telah tumbuh, lahir dan berkembang dalam lingkungan pendidikan yang baik. Semangat murid-murid untuk belajar juga sangat baik didukung oleh orang tua sehingga iklim kondusif terbangun secara alami. Sementara, kodrat zaman, murid-murid atau anak-anak di Kota Malang memiliki kemampuan yang baik dalam mengikuti perkembangan zaman khususnya dalam perkembangan teknologi.

d) Trilogi Pendidikan

     Pemikiran positif dari Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan Trilogi Pendidikan, yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Trilogi ini berusaha diterapkan oleh pendidik/rekan sejawat dalam proses pembelajaran. Pendidik berusaha memberikan teladan yang baik jika berada di depan, memberikan semangat Ketika berada di tengah dan memberikan dorongan Ketika berada di belakang.

e) Pemikiran tentang Trisentra Pendidikan

     Pemikiran positif tentang trisentra pendidikan ini terwujud dengan adanya sinergi antara guru, orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan dan pembelajaran yang ada di sekolah.

2) Sepakati satu hal positif dari pemikiran KHD yang akan diterapkan di kelas/sekolah Anda?

     Hal positif  pemikiran KHD yang akan kami terapkan dalam konteks kelas/sekolah adalah“ Kemerdekaan dalam belajar dengan berorientasi pada kebudayaan daerah/kearifan lokal”

    Penjabaran

     Kemerdekaan dalam belajar yang kami maksud adalah pembelajaran yang berpusat pada murid. Murid bukanlah obyek dari pembelajaran tetapi menjadi subyek. Artinya, pembelajaran harus didesain berdasarkan kebutuhan, karakteristik, kodrat dan potensi anak-anak. Pembelajaran memberikan kesempatan yang lebih untuk murid dapat mengeksplorasi diri, mengembangkan diri, menciptakan sesuatu, berkolaborasi, berdiskusi, memecahkan masalah namun dengan cara-cara yang menyenangkan. Setiap murid/anak harus merasa merdeka dan bahgia Ketika mengikuti proses pembelajaran tertentu.

     Kemerdekaan belajar dalam pengaplikasiannya hendaknya mengintegrasikan kebudayaan lokal  atau kearifan budaya sehingga anak menjadi pebelajar yang berbudaya dan siap hidup di masyarakat.

     Dasar Pemikiran Kontekstual

  • Pembelajaran yang kita temui masih sering bersifat teacher centered yaitu didominasi oleh guru.
  • Pembelajaran masih bersifat mentransfer ilmu pengetahuan dan berbasis kompetensi pengetahuan kognitif semata
  • Penilaian dominan dari segi kognitif
  • Pembelajaran belum berdiferensiasi dimana murid diajarkan secara homogen meskipun memiliki keunikan masing-masing
  • Pembelajaran masih minim mengintegrasikan kebudayaan lokal setempat sehingga perlahan-lahan murid mulai melupakan bahkan tidak mengenali kebudayaannya sendiri
  • Pembelajaran yang masih sering dilakukan hanya dalam sekat-sekat ruang kelas dan belum memanfaatkan sepenuhnya lingkungan sebagai sumber belajar.
  • Potensi Kota Malang sebagai Kota wisata, budaya untuk dikembangkan dan dijadikan sumber pembelajaran.
  • Kemampuan kolaborasi dan komunikasi peserta didik masih kurang
  • Masih banyak dijumpai anak-anak yang dapat menerima dan menghargai perbedaan

   Contoh ide/gagasan pembelajaran merdeka belajar berbasis kebudayaan daerah/kearifan lokal   

  • Membuat survey non kognitif dan kognitif untuk mengetahui profile murid sehingga dapat ditentukan strategi/metode/model pembelajaran
  • Merancang pembelajaran berpusat pada murid dengan menggunakan model pembelajaran inovatif dan kooperatif untuk membentuk kemampuan kolaboratif dan komunikasi
  • Murid belajar dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan minat dan potensinya (pendidikan yang berdiferensiasi)
  • Proses pembelajaran tidak hanya dikelas tetapi dapat dilaksanakan di luar kelas (outdoor learning) dengan beragam aktivitas, seperti: bermain peran, percobaan, mengukur lapangan, membuat proyek dan lain-lain.
  • Pembelajaran memanfaatkan sumber belajar dari lingkungan
  • Mengintegrasikan kebudayaan lokal daerah Malang dalam pembelajaran seperti budaya Topeng Malangan dalam bentuk pembelajaran berbasis proyek atau proyek dengan pendekatan STEAM.

   Tantangan yang mungkin dihadapi dan solusi

  • Murid belum terbiasa dengan aktivitas pembelajaran konsep ‘merdeka belajar’ berbasis budaya lokal. Solusinya: membangun kesepakatan kelas dan memberikan scaffolding oleh guru
  • Kemampuan guru dalam merancang pembelajaran merdeka belajar berbasis budaya lokal. Solusinya dapat bekerjasama dengan pihak/mitra lain (masyarakat)
  • Proses pembelajaran merdeka belajar akan kompleks dan memerlukan waktu yang lama sehingga capaian kurikulum tidak tercapai. Solusinya : kolaborasi antar guru mata pelajaran.

Salam Bahagia

Salam Merdeka Belajar

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar