3

Harusnya “Pemerintah Menuntut, Guru Beri Pembelaan” (+2)

Hendra Darmawan August 15, 2014

Penerapan kurikulum 2013 yang mulai harus diterapkan disemua sekolah pada tahun 2014 ini, membuat para guru harus proaktif dalam kegiatan belajar mengajar. Didalam lubuk hati kecil setiap guru pasti ada keinginan untuk merubah pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Pada setiap jenis kurikulum yang telah diterapkan dari dahulu sampai dengan sekarang pasti bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, tetapi tetap subjek yang ditekankan adalah guru. Di Kurikulum 2013 guru kembali menjadi objek utama tuntutan pemerintah. Pertanyaannya adalah apakah hanya guru faktor utama untuk membangun kualitas pendidikan yang lebih baik ? Tentu jawabannya adalah tidak. Sarana pra sarana sekolah yang memadai menjadi faktor utama yang tidak boleh dikesampingkan oleh pemerintah. Coba anda bayangkan “jika anda adalah seorang guru Matematika yang memiliki pendidikan terakhir S1 Pendidikan dan telah bersertifikasi pendidik, kemudian pada saat anda mengajar dikelas anda kebingungan mencari Penggaris atau Jangka untuk menggambar bangun ruang di papan tulis karena sekolah tidak menyediakannya, atau anda seorang Guru IPA yang kebingungan saat materi ajar anda mengharuskan untuk praktik di laboratorium karena sekolah tidak memiliki laboratorium IPA”. Tentu proses belajar mengajar akan terganggu serta output yang dihasilkan pun tidak maksimal. Dari dua contoh tadi hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar guru, dan tidak menjadi masalah bagi sebagian kecil guru yang mengajar di sekolah-sekolah Internasional atau sekolah yang sarana prasarananya memadai. Jadi sudah sepatutnya “pada saat pemerintah menuntut, guru harusnya memberikan pembelaan“. Kita semua tahu bahwa kurikulum yang diterapkan saat ini adalah standar untuk semua sekolah di Indonesia, padahal tidak semua sekolah memiliki standar minimal pengelolaan pendidikan. Pemerintah mengatakan “setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan” dan “setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan“. Pada kenyataannya dari awal Republik Indonesia Merdeka sampai dengan sekarang hanya sebagian kecil sekolah di setiap daerah yang memenuhi kriteria tersebut. Artinya tidak sepenuhnya kualitas pendidikan negara tetangga lebih baik dari pada Indonesia adalah kesalahan guru semata, seharusnya pemerintah dapat membuka mata lebar-lebar dan mulai membenahi cara pandangnya dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Masyarakat sangat mendambakan kualitas pendidikan yang jauh lebih baik serta berkeadilan, agar tidak lagi tersandera dengan paradigma “sekolah mahal adalah sekolah yang kualitasnya baik “. Mudah-mudahan di masa yang akan datang bukan hanya kurikulum baru yang membuat kualitas pendidikan jadi lebih baik. Amin. 🙂

Comments (3)

  1. Bismillah : Terimakasih pak Hendra Darmawan dan salam kenal , maaf memang sepatutnya kita yang menyesuaikan dengan IT dan lingkungan yang sangat kompleks kita memang perlu perubahan maksud saya ini hanya namanya saja mungkin yang berubah saya waktu masih kuliah dimanakan pembelajaran terpadu , tapi nanti ada yang lain lebih jelas menerangkan maksudnya , tentang lab saya kira kalau sd bisa dengan alam dan lingkungan tidak selalu kelas oh ya saya di gunung sd tempat mengajar dan saya tak selalu dikelas bisa berkunjung ke:
    https://solehmendidik.wordpress.com/ terimakasih maaf wasssalam

  2. Memang benar apa yang dikatakan oleh pak Moh Soleh, guru harus lebih proaktif dan menggunakan apa saja dalam kegiatan pembelajaran seperti menggunakan sapu lidi atau batu untuk belajar menghitung dll, tetapi sekali lagi tetap guru yang menjadi objek utama peningkatan kualitas pendidikan dan sarana prasarana sekolah dikesampingkan. Karena siswa juga mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang baik dan layak.

    Terima kasih pak Botak Sakti atas sarannya 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar