15

Hari Gini Masih Bisa Koq Jadi Teladan Asal Niat (+3)

Sri Sugiastuti January 24, 2014

Salam, Guraruers yang dimuliakan Allah, sudahkah kita mendidik dengan keteladanan? Suah dong bukankah kita selalu memberi contoh yang baik pada anak kita dan anak didik kita. Kali ini mau berbagi esensi buku karya Pak Furqon yang pernah saya baca. Saya pribadi setelah menyimak isinya terutama pada “Mendidik dengan Keteladanan” Semakin tahu persis kekurangan saya dalam mendidik.

Jika keteladanan Rasulullah sebagai Al-Quran hidup diterapkan pada guru, maka seharusnya guru sebagai “Mata pelajaran hidup”:”Geografi hidup, Matematika hidup, Fisika hidup, dan sebagainya”. Artinya kedalaman dan keluasan ilmu (bidang studi) guru betul-betul terandalkan.

Kiranya kita perlu memahami faktor keteladanan yang seharusnya ada pada diri seorang gurudi antaranya adalah:
• Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Ini akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan prilakunya menjadi sorotan dan teladan.
• Memiliki kompetensi “Minimal”. Maksudnya kompetensi ini bisa dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain, dapat menumbuhkan dan menciptakan keteladan, terutama bagi peserta didknya.
• Memiliki Integritas. Integritas adalah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satu kata satu perbuatan. Letaknya pada kualitas istiqomah yang berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya.

Pendidik sebagai Cermin.

Mengapa orang mu’min adalah cermin bagi orang mu’min (yang lain)? Karena jika ia melihat cela padanya maka diperbaikinya (HR.Bukhari).
Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
• Tempat yang tepat untuk intropeksi.
• Menerima dan menampakkan apa adanya
• Menerima kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
• Tidak pilih kasih/ tidak deskriminatif
• Pandai menyimpan rahasia.

Mendidik dengan Keteladanan

1. Kesederhanaan. Guru harus pandai membawakan diri sehingga terkesan sederhana dan bersahaja tetapi punya kepiawaian dalam mengajar.
2. Kedekatan. Kedekatan hubungan guru dengan siswa sangat ini hampir tidak ada. Padahal dengan kedekatan ikatan antara guru dan murid dapat terjalin.
3. Suasana silahturahim. Fungsi silahturahim antara lain adalah menumbuhkan rasa kecintaan dan rasa saling peduli. Jika silahturahim diterapkan dalam suasana pembelajaran tentu akan kondusif baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa.
4. Pelayanan Maksimal. Maksudnya tugas utama guru adalah menfasilitasi murid, atau guru sebagai fasilitator. Memfasilitasi yang dimaksud pada hakikatnya sebagai perwujudan bentuk pelayanan guru kepada murid (guru sebagai pelayan)Guru dapat mengadopsi filosofi jawa dalam menerima, menghormati, dan melayani tamu dalam suatu perjamuan dengan empat sikap dan prilaku “4-uh”, yaitu:

• Aruh (tegur sapa) murid harus disambut ramah oleh guru;
• Gupuh (sibuk-repot) guru penuh perhatian dan melayani murid dengan sungguh-sungguh
• Lungguh (duduk-tempat) Guru menyiapkan pembelajaran dalam suasana yang kondusif
• Suguh (hidangan-sajian) Murid dapat menikmati pembelajaran yang menarik dari guru bagaikan mendapat hidangan yang lezat dalam suatu perjamuan.

Pesan moral dari esensi buku ini adalah kita sebagai guru, mau tidak mau, bisa tidak bisa harus bisa jadi panutan digugu dan ditiru, dan jangan bertindak saru, karena itu sangat wagu. Ayo ojo podo wedhi nguyu. Ben muridte ora mlayu.

Waduh jadi lebay euy. Yang mau komen ngga suka silahkan.

Comments (15)

  1. Mungkin Ivan malu kali kalau rahasianya dia sama guru kelasnya dijadikan bahan tulisan.
    Itu semalam di tetangga sebelah bisa rame kayak gitu ya.poan-poin. Untung semalam ngga ikut nimbrung keburu ngantu.
    Hmmm cara berinteraksi yang keren deh.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!