4

HARAMNYA DARAH SEORANG MUSLIM (0)

@ahysholih January 18, 2021

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata; Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku utusan Allah kecuali karena salah satu dari perkara berikut ini: orang yang sudah menikah berzina, membunuh orang, meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari jama’ah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam kitab: diyat, bab: Firman Allah Ta’ala, sesungguhnya jiwa dengan jiwa, nomor 6484 & diriwayatkan Imam Muslim pada kitab: Sumpah, bab: Apa yang boleh dari darah seorang muslim, nomor 1676.

Kedudukan Hadits

Hadits Nabawi yang mulia ini adalah penjelasan tentang Islam yang agung dan kaidah pensyariatan yang kokoh dalam menjaga kehidupan seorang muslim selama orang tsb adalah manusia yang sehat, selamat dari cacat (moral) dan kegoncangan yang membahayakan keamanan masyarakat dan keselamatan anggotanya. Apabila kehidupan seseorang menjadi ancaman atas kehidupan masyarakat, karena dia mengidap penyakit atau menyimpang dari kondisi manusia yang sehat dari fitrah yang lurus serta dia menjadi virus yang buruk dan membunuh tubuh umat dari dalam, merusak agama, akhlak dan kehormatannya, menyebarkan kejahatan & kesesatan, maka hak hidupnya menjadi hilang, halal darahnya & wajib dilenyapkan dari dunia agar masyarakat dapat kembali hidup dengan aman dan tentram. Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata tentang pentingnya hadits ini, ” Hadits ini merupakan kaidah yang penting karena berkaitan dengan sesuatu yang sangat penting, yaitu darah. Menjelaskan mana yang halal dan mana yang tidak halal, serta menjelaskan bahwa asal darah setiap orang itu terlindungi, demikian juga dengan akalnya, karena pada asalnya semuanya tercipta untuk mencintai berlangsungnya kehidupan manusia dalam bentuknya yang paling baik.

Pemahaman Hadits

  1. Haramnya darah seorang muslim. Sesungguhnya orang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mengakui wujud keesaan-Nya, membenarkan Nabi-Nya, penutup para rasul, mengakui risalahnya, maka darahnya terpelihara, jiwa terlindungi dan kehidupannya terjamin. Tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk menumpahkan darahnya, mencabut nyawanya, dan perlindungan ini senantiasa melekat pada diri seorang muslim & akan terampas kecuali jika ia melakukan salah satu dari tiga kejahatan. Semua kejahatan tersebut menjadi sebab hilangnya perlindungan pelakunya & dia menjadi orang yang halala darahnya. Kejahatan tersebut adalah: Membunuh secara tak hak, berzina setelah menikah dan murtad.
  2. Rajam. Kaum muslimin bersepakat bahwa hukum bagi pezina yang sudah nikah adalah dirajam hingga mati, karena dia telah melanggar kehormatan yang lain dan melakukan perbuatan zina, padahal Allah telah memberikan nikmat kepadanya untuk bersenang-senang dengan yang halal, namun dia berpaling dari yang halal kepada yang haram, dan berbuat jahat kepada manusia dengan mengacaukan nasab, merusak keturunan dan mengingkari larangan Allah Azza wa Jalla,

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra’ : 32)

Muhsan adalah seorang yang baligh, berakal, pernah menyetubuhi, atau disetubuhi pada kemaluannya di dalam pernikahan yang sah.

Hukum rajam ini telah ditetapkan berdasarkan sabda dan perbuatan Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam. Jama’ah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah merajam Ma-iz. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk merajam wanita Ghamidhiyah, serta yang diriwayatkan oleh jama’ah dari sabdanya,

“Pergilah wahai Unais kpd seorang wanita. Jika dia mengakui, maka rajamlah. Maka, Unais pergi, lalu dia mengakui, maka Rasulullah pun memerintahkannya untuk merajamnya.”

Rajam dalam Al-Qur’an yang telah dihapus lafazhnya adalah, “Laki-laki yang sudah tua (menikah) dan perempuan yang sudah menikah jika keduanya berzina, maka rajamlah keduanya sampai mati sebagai siksaan dari Allah dan Allah Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” Ibnu Abbas ketika mengambil kesimpulan dari firman Allah,

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) yang dibiarkannya.” (Al-Maidah: 15).

dia berkata, “Barangsiapa yang kufur kepadamu rasul Kami, maka dia telah kufur kepada Al-Qur’an, sadar atau tidak sadar”, kemudian dia menbacakan ayat ini dan berkata, “Rajam adalah bagian dari yang mereka sembunyikan.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasai, dan Al-Hakim serta dia berkata, “Sanadnya sahih.”

3. Qishash. Kaum muslimin sepakat bahwa barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, maka dia berhak mendapatkan qishash yaitu dibunuh. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat), jiwa.” (Al-Maidah : 45)

Qishas ini bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia, sebagaimana firman-Nya,

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 179).

Seorang mukallaf dibunuh apabila dia membunuh seorang jiwa dengan sengaja, tanpa alasan yang benar, baik yang membunuh atau yang dibunuh itu laki-laki maupun perempuan, berdasarkan surat nabi Shalllalahu Alaihi wa Sallam kepada Amer bin Hazm, “Sesungguhnya seorang laki-laki dibunuh karena membunuh seorang perempuan.” Dan ada hadits shahih yang menyatakan, “Sesungguhnya nabi membunuh seorang Yahudi yang membunuh seorang budak perempuan.”

Qishash ini gugur apabila keluarga korban memberikan maaf.

Para ulama sepakat atas wajibnya qishash jika yang membunuh dan yang dibunuh adalah orang kafir. Mereka berselisih pendapat apabila yang dibunuh adalah orang kafir dzimmi yang dilindungi. Sebagian golongan berpendapat,—diantara mereka madzhab Hanafiah—atas wajibnya qishash sebagai pengamalan atas firman Allah,

“Sesungguhnya jiwa yang dibalas dengan jiwa.”

dan sabda Rasulullah, “Jiwa dibalas dengan jiwa.”

Golongan yang lain berpendapat —di antaranya madzhab Syafi’i, Hambali, dan Maliki —seorang muslim tidak diqishash karena orang kafir secara mutlak. Mereka berhujjah dengan hadits riwayat Bukhari dan yang lainnya, Rasulullah bersabda, “Seorang muslim tidak tidak dibunuh karena orang kafir,” Mereka memandang bahwa hadits ini sebagai pengkhususan dari dalil umum yang menjelaskan tentang jiwa dibalas dengan jiwa.

Jumhur Ahli fiqih berpendapat bahwa orang tua tidak dibunuh karena membunuh anaknya. Hal ini berdasarkan riwayat shahih dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu.

4. Murtad. Seluruh kaum Muslimin bersepakat atas dibunuhnya seorang laki-laki yang murtad dan tetap dalam kekufurannya serta tidak mau kembali kepada Islam setelah diminta untuk bertaubat berdasarkan hadits “Orang yang meninggalkan agamanya” juga berdasarkan riwayat Bukhari dan para penulis kitab Sunan, dan ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengganti agama, maka bunuhlah.”

Mereka berselisih pendapat jika seorang perempuan yang murtad. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya ia dibunuh seperti laki-laki berdasarkan keumuman dalil. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa dia tidak dibunuh, tetapi dipenjara hingga dia masuk Islam kembali atau mati dalam penjara. Mereka berhujjah dengan riwayat dari Bukhari, Muslim dan yang lainnya tentang larangsn Rasulullah untuk membunuh wanita dalam peperangan tanpa membedakan yang kafir atau yang murtad.

5. Meninggalkan shalat. Seluruh kaum muslimin bersepakat bahwa siapa yang meninggalkan shalat karena menolak kewajibannya, maka dia telah kafir dan dianggap sebagai orang yang murtad dan dijatuhi hukuman sebagai orang yang murtad. Adapun orang yang meninggalkannya karena malas, dan ia masih mengakui kewajibannya, maka para ulama berpendapat bahwa ia diminta untuk bertobat, jika tidak bertobat, maka dia dibunuh sebagai had (hukuman) dan bukan dipandang sebagai orang kafir. Imam Ahmad dan sebagian madzhab Maliki berpendapat bahwa dia dibunuh karena dipandang telah kafir. Madzhab Hanafi berpendapat, bahwa dia dipenjara hingga shalat atau hingga mati, & di dalam penjara dia dihukum dengan cambukan atau dengan yang lainnya. Allah berfirman,

“Dan dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Ar-Ruum: 31)

Firman-Nya juga,

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka itu adalah saudara-saudara seagamamu.” (At-Taubah : 11).

Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pembeda antara seseorang (dipandang muslim) dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan, Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka dia telah kafir.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi.

6. Siapakah yang melaksanakan Qishash dan hudud (hukuman)? Yang melaksanakan qishash adalah keluarga korban dengan perintah dari penguasa. Demikian juga dengan orang murtad dan orang yang berzina yang sudah nikah, penguasalah yang melaksanakan hukuman atas kedua orang tersebut. Apabila keluarga korban melaksanakan qishash tanpa seizin dari penguasa, atau ada seseorang yang membunuh orang yang murtad atau pezina yang muhsan tanpa perintah dari penguasa, maka wali dan pembunuh dihukum ta’zir (bentuk hukuman yang ditetapkan oleh imam yang kadarnya lebih ringan dari hukuman had seperti kurungan, cambukan, dll, penjara) karena dia telah melampaui batas kewenangan penguasa, namun mereka tidak dibunuh karena dia membunuh dengan alasan yang dibenarkan.

7. Hadits ini menunjukkan bahwa agama yang diakui adalah yang dianut dan dijalankan oleh jama’ah muslimin karena mereka adalah kelompok mayoritas.

8. Perintah untuk komitmen dengan jama’ah muslimin dan tidak memisahkan diri dari mereka.

9. Ancaman dari tiga kejahatan dan peringatan agar tidak terjerumus ke dalamnya

10. Mendidik masyarakat agar takut kepada Allah dan menyadari bahwa Allah mengawasinya dalam keadaan terang-terangan atau tersembunyi dalam pelaksanaan hudud (hukuman).

11. Hudud dalam Islam adalah untuk membuat jera dan bertujuan untuk menjaga dan melindungi.

12. Al-Qud (Qishash) tidak dilaksanakan kecuali dengan memakai pedang menurut madzhab Hanafi. Sedangkan madzhab Syafi’i beroendapat bahwa pembunuh dibunuh dengan alat yang digunakannya ketika ia membunuh, dan bagi wali diperbolehkan untuk menggantinya dengan pedang.

—<¤¤¤>—

Sumber : Hadits ke 14 AL-WAFI : Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi diterbitkan Pustaka Al-Kautsar Jakarta.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar