0

Hakekat Pendidikan Berkarakter Untuk Cegah Tindak Pidana Korupsi (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 10, 2020

Pendidikan berkarakter yang marak didengung-dengungkan akhir-akhir ini di Indonesia diawali dari sebuah konferensi internasonal di Yogyakarta pada awal November 2011. Konferensi inilah yang pertama mengundang beragam pengamat dan praktisi pendidikan di dunia untuk membincangkan pendidikan karakter dalam menentukan masa depan bangsa Indonesia yang berkeadilan. Konferensi ini muncul dari suatu keprihatinan yang mendalam atas kondisi Indonesia yang belum juga keluar dari maraknya praktik korupsi. Meski sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga khusus yang dibuat untuk solusi pemberantasan korupsi di Tanah Air, praktik korupsi tak pernah reda, malah kian merajalela. Ironisnya, korupsi justru merebak pula di lembaga yang mestinya tabu dari praktik jahat seperti itu. Itulah lembaga pendidikan.

Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, penghendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Sesuai definisi tersebut pendidikan memiliki tujuan untuk mengembangkan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan ketrampilan (Skills).  Sementara pendidikan karakter lebih menekankan dimensi etis spiritual. Pendidikan karakter awalnya disampaikan oleh Pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Polemik anti-positivisme dan anti-naturalisme di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat surut diterjang paradigma positivisme yang dirintis oleh Comte (Kompas Cyber Media, 2010) .

Konsep Pendidikan Karakter menurut Berkowitz (1999): “Effective character education is not adding a program or set of programs to a school. Rather it is a transformation of the culture and life of the school. The best way to implement character education is through a holistic approach that integrates character development into every aspect of school life”, Artinya: pendidikan karakter yang efektif bukan sekedar penambahan suatu program atau sejumlah program sekolah. Namun pendidikan karakter merupakan transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Cara terbaik untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan menyeluruh yang mengaitkan karakter pembangunan ke dalam semua aspek kehidupan di sekolah.

Ada empat ciri dasar menurut Foerster dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. (Kompas Cyber Media, 2010) 

Konsep pendidikan karakter berikutnya dikembangkan oleh Kilpatrick dan Lickona.  Pendidikan karakter ini  percaya adanya keberadaan moral absolute yang perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar.  Lickona (1992) dan Kilpatrick (1992) tidak sependapat dengan cara pendidikan moral reasoning dan values clarification yang diajarkan dalam pendidikan di Amerika, karena sesungguhnya terdapat nilai moral universal yang bersifat absolut (bukan bersifat relatif) yang bersumber dari agama-agama di dunia, yang disebutnya sebagai “the golden rule”.   Contohnya adalah berbuat jujur, menolong orang, hormat dan bertanggungjawab. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi).  Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan.  Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing), tetapi juga “desiring the good”  atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action).  Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham.

Pendidikan karakter tidaklah cukup sebatas wacana atau pun sekadar memasukkannya dalam materi ajar di sekolah. Pendidikan karakter haruslah holistik, yaitu terjadi di setiap tempat, di setiap bidang, dan setiap waktu. Seperti yang dikatakan oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu ada tiga pusat pendidikan; keluarga, masyarakat dan sekolah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Life is education and education is life. Seluruh proses dan aktivitas kehidupan adalah pendidikan, sebagai trasformasi nilai-nilai kehidupan. Baik di keluarga, di tempat kerja maupun dalam interaksi sosial.

Untuk mencegah dan memberantas korupsi, pendidikan karakter harus diberikan di setiap tempat, bidang dan setiap waktu. Pemerintah tidak cukup berkoar-koar menyuarakan pemberantasan korupsi tetapi harus memberikan pendidikan karakter melalui hidupnya, teladannya. Tidak lagi dengan lantang mencerca kasus korupsi tetapi kemudian didapati terlibat dalam korupsi.

Tagged with:

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar