15

Haji itu Ada di Hati (+4)

M. Rasyid Nur September 15, 2013

MENYAKSIKAN rekan-rekan guru atau siapa saja berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji tentu saja menyenangkan hati. Bagi yang belum pernah menunaikannya, tentu saja sangat berharap untuk dapat melaksanakannya. Jika tidak tahun sekarang, semoga tahun depan atau di tahun-tahun berikutnya. Dan bagi yang sudah pernah ke sana, menyaksikan orang-orang yang akan berangkat haji pasti timbul kembali kenangan masa dia berangkat haji itu.

Dalam dua atau tiga pekan ini memang banyak sekali acara waliimatuussafar di tempat saya, Karimun. Hampir setiap hari ada saja Jamaah Calon Haji (CJH) Kabupaten Karimun yang mengadakan kenduri haji. Dan tentu saja kita hadir jika ikut diundang. Puncaknya adalah pada hari Ahad (15/ 09) ini yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten secara serentak untuk 103 orang JCH Kabupaten yang akan berangkat besok melalui embarkasi Batam.

Bagi saya, musim haji 1434 ini cukup berkesan juga karena salah seorang guru satu sekolah saya ikut berangkat. Secara keseluruhan, ada 12 atau 13 orang guru yang mendapat kesempatan menjadi dhuyufurroham tahun ini. Tentu itu suatu kebanggaan tersendiri. Betapa tidak, menurut catatan di Kantor Kemenag Kabupaten Karimun, daftar tunggu (waiting list) haji kabupaten/ provinsi di daerah ini sudah mencapai untuk sembilan tahun ke depan. Mungkin di tempat lain jauh lebih lama daftar tunggunya.

Yang juga ingin saya sharing di sini adalah karena ada juga yang ternyata cukup sedih merasa tidak akan bisa berangkat berjumpa ka’bah. Di samping merasa usia sudah lama terpakai juga karena merasa tidak akan mampu mengumpulkan uang untuk biaya perjalanan haji itu. Sungguh sedih, begitu kira-kira keluhannya. Nah, menurut saya kita tidak perlu terlalu bersedih jika benar-benar merasa tidak mampu (ekonomi) untuk berangkat haji. Bukankah kewajiban haji hanya untuk orang yang mampu (istitho’ah) saja?

Menurut yang sudah selalu disampaikan para guru atau para ustaz bahwa jika memang kita tidak berkemampuan untuk berangkat ke Arab Saudi untuk berhaji maka cukup berhaji di sini saja. Bagi seorang lelaki, dengan niat yang ikhlas dan benar, melaksanakan solat jumat saja dapat menjadikan kita dianggap sudah berhaji. Bukankah solat jumat adalah pelaksanaan hajinya bagi yang tidak mampu berangkat ke sana? Jadi, mulai saja kita berniat untuk dapat menunaikan rukun Islam kelima itu. Dengan niat yang diikuti usaha (berusaha menabung dari penghasilan) maka kita tinggal menanti saja waktu Allah memanggilnya. Jika pun tidak berkesampaian ke sana, toh amal-ibadah kita di sini, mudah-mudahan dicatat Allah sebagai bagian pahala haji itu.

Maka berhaji itu sesungguhnya berada di hati masing-masing kita. Artinya, baik kita yang mampu berangkat ke sana maupun belum berkemampuan berangkat, tetap0lah hati yang akan menjadi kunci, apakah haji kita akan diterima atau hanya akan sia-sia saja. Jadi, haji itu ada di hati. Kalau kebetulan dapat panggilan maka berangkatlah dengan ikhlas dan niat yang benar semata beribadah kepada-Nya. Jangan ada niat lain. Semoga saja para guru baik dari Karimun maupun dari seluruh Tanah Air Indonesia lainnya, akan melaksanakan haji dengan hati yang suci dan niat yang luhur semata karena Allah. Kita doakan mereka selamat berangkat, dapat melaksanakan ibadah haji dengan sempurna dan selamat pula kembali pulang ke Tanah Air, amiin.***

1,681 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (15)

  1. Saya juga pernah mendengar ustadz saya mengatakan bahwa haji itu wajib bagi yang “mampu”. “Kemampuan” itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Tetapi manusia harus tetap berikhtiar (dg jalan yg baik/ halal) dan tetap berharap anugrah tsb dg banyak berdoa. Perkara akhirnya diberi kemampuan (menjalankan ibadah haji) atau tidak, maka Allah SWT-lah satu-satunya yang paling berhak menentukan.

  2. Terima kasih, Bu Khusnur Rohmah atas tambahan informasinya. Memang benar bahwa ‘kemampuan’ itu sepenuhnya dari Allah. Tapi kita memang wajib berusaha agar Dia memberi kita kemampuan tersebut. Kata orang tua-tua, ’emas tidak akan turun dari langit’. Maka wajib hukumnya kita berusaha. salam.

  3. Betul sekali pak M.Rasyid Nur. Berdoa dan diikuti oleh usaha (berikhtiar). Saya juga sependapat dengan ibu Khusnur Rohmah.

    Semoga Allah SWT memberikan kemudahan buat Guraru sekalian yang belum melaksanakan ibadah haji agar bisa segera melaksanakan ibadah haji. Amin ya ra.,

  4. menarik. sejak awal abad 20, setelah belanda tidak membatasi jama’ah haji kaum pribumi demi promosi Kapal Dagangnya, jama’ah haji indonesia membludak, terbesar di dunia. di kota saya, orang yang berangkat haji tahun ini, rata-rata sudah antri 3 tahun. dan kalau kemudian sekarang antriannya sangat panjang, itu wajar, antara lain disebabkan sudah adanya dana talangan, selain berkah dari pada sertifikasi Guru. Kita berdoa yang baik-baik saja, semoga jama’ah haji sehat, selamat, lancar, dan pulang membawa keberkahan bagi bumi pertiwi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar