13

Habituasi (+3)

M. Yusuf Amin Nugroho January 30, 2014

patung berkepala batu dari Islandia

Tuhan telah mengirimkan surat-surat kepadamu
merdu, melebihi jutaan sajak tentang ibu.
Tapi waktu—penyebab kefanaan ini
serta dunia—di mana kefanaan menyamar
menguburmu dalam lumpur
jauh dari tafakkur

dan luka pun mengabur

Kau tak menyesal dilahirkan
Hanya tak juga paham kenapa mesti ada kematian
Kau tak takut pada kematian
Hanya tak paham kenapa mesti dilahirkan

Kau tidur di atas setumpuk catatan setan
dan terbangun tanpa terimakasih
mengira bisa membuat nafas sendiri

Pernah, sebuah rumah
ingin kau tubuhkan
di tepi subuh
yang penuh rakhman

Tapi sebuah patung telah tegak dalam dadamu
membuat kesenanganmu datang dan pecah
ciuman-ciuman waktu yang singgah di tubuhmu
pelan-pelan beranjak
seperti siang yang lewat

sumber gambar: http://penghuni60art.blogspot.com

Tagged with:

Comments (13)

  1. Ya Allah hamba paham mengapa hamba dilahirkan
    hamba siap kapanpun Kau panggil
    Kau tiupkan ruh saat hamba dalam kandungan ibu
    Kau siapkan seorang ibu yang mendidikku sejak janin
    pendidikan sepanjang hayat terjadilah
    terngiang suara ibu:”hidup di dunia amat sebentar
    bagai minum seteguk air dan kita harus kembali
    maka berbuat baiklah sepanjang hayat
    lakukan apapun yang bermanfaat untuk orang lain
    berupayalah selalu positif, setiap kata bersifat mendidik
    jangan ada rasa bosan dll sebab akan meracunimu
    hingga kau tak siap untuk pulang.”
    Terima kasih ibu.

    Hehehe belajar spontanitas nih pak guruku, thx so much..

    • memang sastra terkadang sulit dimengerti, bu. ini yang membedakan puisi dengan berita. dan mungkin sajak bukan sekadar untuk dimengerti, tapi bisa juga untuk sekadar dinikmati. tapi sebenarnya saya selalu berusaha membuat sajak2 yang “terang” kok. masih banyak lagi sajak yang gelap gulita. 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar