10

GURUKU SESUNGGUHNYA (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto December 24, 2020

“Dan, wali kelas enam tahun ini adalah Ustadzah Dyna,” Ustadzah Djuwita, kepala sekolahku mengucapkannya dengan tenang, tapi bagiku bagaikan ledakan bom. Kuraba perutku yang semakin membesar,

“Apakah tidak salah, Ustadzah? Saya kan sebentar lagi melahirkan, harus cuti. Tidak apa-apakah nanti di kelas VI?” Kuberanikan diri untuk bertanya.

“Saya sudah memikirkannya, Ustadzah. Saya yakin anti bisa,” Ustadzah Djuwita tersenyum.

“Tapi ini kan lulusan pertama kita. Nama sekolah kita dipertaruhkan di sini. Maaf, bukannya menolak, tapi saya kuatir kurang maksimal, nantinya malah mengecewakan.”

“Keputusan ini sudah melewati berbagai pertimbangan yang insya Allah matang, Ustadzah. Kita berusaha bersama. Anti tidak sendirian, ada tim yang akan membantu. Anti akan bersama Ustadz Sugi dan Ustadzah Elik. Dan nanti di semester dua kita akan dibantu oleh Ustadzah Anies, beliau pindahan dari SDIT Al Uswah Surabaya yang akan menularkan ilmunya untuk kita di sini,” Ustadzah Djuwita meyakinkan diriku.

Akhirnya, Bismillah, kuterima amanah ini dengan sepenuh hati, meski aku sendiri masih belum tahu bagaimana ke depannya nanti, saat aku harus cuti. Yang penting sekarang kujalani dulu apa yang ada di depanku. Allah yang akan membimbing kami.

Kubayangkan delapan wajah polos generasi pertama sekolah ini. Ya, cuma delapan siswa. Niko, Zidni, Adit, Kholid, Muna, Ima, Lila, dan Khofifah. Alhamdulillah, di kelas lima sebelumnya aku juga menjadi wali kelas mereka. Setidaknya aku sudah mengenal karakter mereka yang menurutku sangat bisa diajak bekerjasama.

Kuacungi jempol untuk anak-anakku yang manis ini akan kesabaran dan keikhlasan mereka. Sejak masuk sekolah ini, SDIT Al Uswah, mereka telah melalui berbagai kepahitan. Mulai dari ruang kelas yang menumpang di perumahan, karena gedung sekolah yang belum dibangun, sampai harus berbagi ruangan dengan siswa TKIT. Tetapi semangat dan keikhlasan tetap menyala di dada mereka.

Dan kini keikhlasan mereka harus diuji lagi. Karena kekurangan ruang kelas, mereka harus menempati ruang perpustakaan yang masih setengah jadi. Ruangan paling jelek dengan lantai yang belum berkeramik dan tembok yang jadi rumah rayap.

“Jangan patah semangat anak-anak. Insya Allah kita tidak akan lama di sini. Sekitar tiga bulan lagi, lantai atas itu akan dibangun. Kalianlah yang akan pertama kali menempati bangunan baru itu. Kita berdo’a bersama ya,”

“Dan Ustadzah ingatkan bahwa, tidak ada kesuksesan yang diiringi dengan kenyamanan. Semua kesuksesan itu diawali dengan susah payah, berpeluh-peluh, airmata, dan juga do’a. Allah selalu melihat perjuangan kalian. Dia akan mengganjarnya sesuai dengan usaha yang kalian berikan.”

“Maka tidak usah iri jika adik-adik kelas kalian mendapat ruang kelas yang lebih baik dan nyaman. Karena kebaikan dan kenyamanan itu akan kalian dapatkan dari Allah. Sekarang yang terpenting kalian harus berusaha untuk lulus ujian dengan nilai yang bagus tanpa mencontek. Ini pertaruhan nama sekolah kita. Jika hasil kalian bagus, maka nama SDIT Al Uswah akan dikenal. Do The Best and Be The Best!”

Kata-kata motivasi semacam itu terus kulontarkan setiap hari pada mereka. Agar mereka terlecut semangatnya, dan tidak minder. Tapi kuakui, sebenarnya akulah yang harus banyak belajar dari mereka. Sekecil itu mereka sudah punya visi misi dan target-target yang harus mereka capai. Di bulan Ramadhan contohnya, tanpa diminta mereka sudah punya target tilawah dan hafalan sendiri. Inilah mungkin salah satu jalan sehinggan Allah memudahkan langkah mereka.

Tak terasa, kandunganku tinggal menghitung hari. Aku sudah menyampaikan kepada Ustadzah Djuwita untuk segera mencari pengganti jika aku cuti kelak. Aku khawatir kelahiran kali ini akan maju dari perkiraan, seperti anak pertamaku dulu yang maju seminggu dari perkiraan.

Dan apa yang kukhawatirkan ternyata benar-benar terjadi. Jum’at malam itu, 31 Agustus 2012, selepas liqo’ perutku terasa mulas. Kupikir mulas biasa, karena memang masih tujuh belas hari lagi perkiraan lahiranku. Apalagi si Azka, anak pertamaku, hari itu badannya panas dan agak rewel, jadi aku tidak begitu mempedulikan rasa mulas itu. Tetapi semakin malam rasa mulas itu semakin menjadi. Suamiku sudah mengoleskan minyak kayu putih ke perut, tetapi tidak berpengaruh sama sekali. Kucoba tidur pun tak bisa. Akhirnya pukul 00.30 dini hari kuketuk pintu rumah tetangga untuk menitipkan Azka. Kami berangkat ke bidan yang tak jauh dari rumah tanpa membawa persiapan apa pun.

Sampai di bidan, masih ada kejutan lagi. Kaki sang bidan retak dan dia harus digendong suaminya untuk memeriksaku. Ternyata bayiku sudah siap lahir. Hanya ditemani suami, dan tanpa persiapan apapun, proses lahiran harus kujalani. Subhanallah, pukul 01.10 jagoanku lahir dengan selamat. Tangisku tumpah ruah. Tak henti bersyukur atas nikmat yang tak terkira ini.

Semua tak mengira saat kukabari bahwa aku sudah melahirkan. Ustadzah Djuwita apalagi. Beliau malah memintaku untuk tidak mengambil cuti.

“Gak usah cuti, Ustadzah. Kan rumahnya dekat, kalau waktunya mengajar aja datang ke sekolah, setelah itu pulang.”

“Aduh Ustadzah, kasihan anak saya dong kalau begitu. Saya ingin memberi ASI eksklusif, Ustadzah.”

“Tapi masalahnya, saya belum menemukan guru pengganti, Ustadzah,” beliau tersenyum.

Pembicaraan kami itu lewat begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Dan aku pun menikmati masa cutiku dengan menghabiskan waktu bersama Muhammad Umar Zaky, sang jagoan yang ngeyel pengen segera ketemu ibunya.

Beberapa hari kemudian, saat sedang asyik berdua dengan Zaky, aku dikejutkan dengan kedatangan anak-anak surga. Niko, Zidni, Adit, Kholid, Muna, Ima, Lila, dan Khofifah. Delapan anak emasku. Kebetulan rumahku berada di belakang sekolah. Anak-anak itu bisa segera sampai di rumahku dengan lewat jalan tembus di dekat kamar mandi sekolah.

“Assalamualaikum, Ustadzah!”

“Waalaikumsalam, silakan masuk mbak, mas!”

“Pengen liat anakanya ustadzah dong!”

“Siapa namanya, Ustadzah?”

“Aduh lucunya, gendut!”

Berbagai celotehan mereka lontarkan, yang membuatku terhibur. Sejujurnya aku agak bosan juga di rumah berdua saja dengan Zaky. Azka kalau siang berada di Day Care.

Ternyata kedatangan anak-anak surga itu tidak cuma sekali itu saja. Hari-hari berikutnya mereka datang lagi.

“Kalian kok kesini lagi? Ini kan bukan waktunya istirahat?”

“Jam kosong, Ustadzah. Gak ada yang ngisi.”

“Sudah tanya ke Ustadzah Djuwita?”

“Sudah, tapi gak ada guru yang datang.”

“Ustadzah Djuwita tau kalian datang kesini?”

“Nggak tau.”

“Nggak boleh gitu dong. Harus pamit”

“Sudah begini aja. Mulai besok kalau jam pelajarannya Ustadzah kalian belajarnya di sini aja. Tapi sebelum kesini kalian harus pamit dulu ke Ustadzah Djuwita. Gimana?”

Anak-anak itu memandangku dengan mata berbinar mendengar solusi dariku.

“Setuju, Ustadzah.”

Begitulah, selama sekitar dua pekan pembelajaran dilakukan di rumahku. Alhamdulillah, Zaky tidak pernah rewel. Seakan dia tahu bahwa kami semua sedang berjuang demi cita-cita mulia.

Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan berdiskusi dengan suami, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri masa cuti setelah 30 hari. Meski masih dalam masa nifas, kupikir aku harus segera kembali ke sekolah. Demi anak-anak surga.

Tentu saja Ustadzah Djuwita sangat senang dengan keputusanku. Bahkan beliau juga mengijinkanku membawa Zaky ke sekolah sampai usianya enam bulan. Maka dimulailah perjuangan kami yang sesungguhnya. Menuju puncak prestasi untuk meraih gelar lulusan terbaik kecamatan. Dan yang membuatku sangat bersyukur adalah, Zaky bisa diajak bekerjasama. Dia tak pernah rewel saat ikut ke sekolah, pun saat usianya enam bulan dan harus kutitipkan pada tetangga. Allah benar-benar menyayangiku.

Di semester kedua Ustadzah Anies mulai bergabung dalam Tim Sukses kelas enam. Dan Alhamdulillah, ruang kelas baru juga sudah bisa digunakan. Anak-anak semakin bertambah semangatnya. Program-program mulai diluncurkan. Try Out, bimbel, refreshing, penguatan motivasi, do’a bersama. Evaluasi setiap program juga selalu kami lakukan, untuk mengetahui kekurangan kami, agar bisa diperbaiki kemudian. Semua demi mendapatkan hasil terbaik.

Hari yang dinantikan pun tiba. Puncak perjuangan anak-anak surga. Selama dua pekan mereka menjalani Ujian Akhir Sekolah. Untaian do’a selalu terlantun untuk mereka, anak-anak surga yang memiliki semangat dan keikhlasan tinggi. Merekalah guruku sesungguhnya. Bagaimana berjuang membuktikan diri menjadi yang terbaik. Jika aku berada di tempat mereka saat itu, belum tentu aku setangguh mereka. Karena selama ini ayahku selalu mendoktrinku untuk memilih sekolah favorit yang sudah punya nama. Bukan sekolah baru yang belum punya gedung.

Hari-hari selepas ujian kami isi dengan mempersiapkan tampilan untuk pentas seni akhir tahun. Kami tidak membahas lagi bagaimana hasil ujian nanti.

“Yang penting kita sudah berusaha, sudah melakukan yang terbaik. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah merayu Allah. Dia yang menentukan segalanya. Hanya Dia yang akan menolong kita. Karena itu pandai-pandailah merayu Allah, dengan banyak berdo’a dan berbuat kebaikan,” begitu pesanku kepada anak-anak surga itu.

Dua bulan kemudian, dua hari menjelang pentas seni digelar, Ustadzah Djuwita menelponku sore-sore.

“Ustadzah Dyna, tadi siang saya rapat di UPTD. Tentang kelulusan, Ustadzah.”

“Bagaimana hasilnya Ustadzah?”

“Alhamdulillah anak-anak lulus semua, nilainya bagus, Ustadzah…” Ustadzah Djuwita diam, seperti ada yang disembunyikan.

“Ada apa lagi Ustadzah?”

“Ustadzah nggak pengen tahu ranking anak-anak?”

“Jelas dong, Ustadzah. Mereka ranking berapa?”

Terdengar suara tawa menggoda dari Ustadzah Djuwita di seberang sana,

“Ustadzah inginnya mereka ranking berapa?”

“Ya jelas ranking satu dong, Ustadzah.”

“Yap, keinginan Ustadzah dikabulkan oleh Allah. Mereka peringkat satu tingkat kecamatan.”

“Betul, Ustadzah?….Alhamdulillah, Yaa Allah!” Aku tak kuasa membendung airmata yang mulai mengalir.

“Selamat, Ustadzah Dyna! Selamat atas kerja keras Ustadzah bersama anak-anak.”

“Terima kasih, Ustadzah. Tapi keberhasilan ini bukan cuma untuk saya saja. Ini untuk kita semua. Untuk tim kelas enam, untuk anak-anak, dan seluruh warga sekolah kita.”

Ya, keberhasilan ini memang bukan milikku semata. Ini juga milik Ustadzah Djuwita yang yakin dan meyakinkanku atas kemampuan yang kumiliki. Milik Tim Sukses kelas enam, yang bersama-sama berjuang dalam segala keterbatasan. Dan yang pasti adalah milik mereka, Niko, Zidni, Adit, Kholid, Muna, Ima, Lila, dan Khofifah. Merekalah Generasi Rabbani yang bermental baja, anak-anak surga yang selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah mereka.

Kalianlah guruku sesungguhnya. Semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah kalian. Amiin.

Banyuwangi, 1 Juli 2013

# Kisah ini mendapat penghargaan Juara 1 pada “Lomba Menulis Kisah Inspiratif” yang diselenggarakan oleh JSIT Wilayah Jawa Timur pada tahun 2016

Comments (10)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar